Probowo Akan Buka Data Perampokan Kekayaan Indonesia

Probowo Akan Buka Data Perampokan Kekayaan Indonesia

 Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, pada waktunya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan membuka data perampokan kekayaan Indonesia. (Foto: Prabowo Subianto - kawalpemilu.id)

JAKARTA, dawainusa.com Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, pada waktunya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan membuka data perampokan kekayaan Indonesia. Hal itu dikatakan Fadli, karena menurutnya kekayaan Indonesia sudah sangat jelas banyak yang  dirampok.

“Ya pastilah pada waktunya dalam perdebatan yang lalu kan saya kira sudah,” kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/5).

Menurut Fadli, pencurian yang paling berbahaya adalah melalui kebijakan. Diantaranya kebijakan yang bisa menguntungkan pihak asing.

Baca juga: Prabowo Subianto Soal Dukungan KSPI di Pilpres 2019

“Kebijakan yang menguntungkan pihak asing itu namanya satu proses the silent take over atau pengambilalihan secara diam-diam gitu ya,” ujar Fadli.

“Jadi melalui kebijakan itu saya kira banyak sekali apa yang dulu Pak Prabowo sering katakan itu masalah kebocoran dari kekayaan kita mulai dari ilegal fishing ilegal maining dan berbagai macam lainnya,” ucapnya.

Diketahui, dalam acara deklarasi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) Prabowo Subianto tiba-tiba saja menghentikan sejenak pidatonya. Itu terjadi ketika sedang membahas buku yang ditulisnya.

“Saya sudah punya data dan saya sudah bikin buku. Saya katakan bahwa kekayaan Indonesia dirampok, dicuri,” kata Prabowo di Istora, Senayan, Jakarta, Selasa (1/5). Prabowo melanjutkan “Kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia,” ungkapnya.

Dari Mana Data Prabowo?

Dari mana data Prabowo yang menyebut kekayaan Indonesia dirampok dan dicuri? Prabowo mengatakan, semua data dan sumbernya tertuang dalam buku yang ditulisnya. Buku tersebut berjudul Paradoks Indonesia. Hal itu dibenarkan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono.

“Ada, ada, ada bukunya kita. Pak Prabowo nulis buku judulnya Paradoks Indonesia disitu dijelasin,” kata Ferry di Sekber Gerindra-PKS, The Kemuning, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (2/4).

Baca juga: Komentar Fadli Zon soal Isu Duet Jokowi dengan Prabowo Subianto

Ferry menegaskan, buku tersebut bukan hanya pemikiran subyektif Prabowo. Sebab, mantan Danjen Kopassus itu juga mengutip dari sumber-sumber data yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Kan ada datanya dari macem-macem, dari konsultan. Di buku itu kan ditulis dikutip referensinya dari mana, dari mana. Valid lah,” jelasnya.

Perampokan Kekayaan dalam Buku Paradoks Indonesia

Sebagaimana diberitakan Merdeka.com, soal kekayaan Indonesia yang dirampok ada di halaman 30 buku Paradoks Indonesia. Dalam bab tersebut, Prabowo membuka dengan tulisan berbunyi ‘Penyakit terparah dari tubuh ekonomi Indonesia saat ini adalah mengalir ke luarnya kekayaan nasional dari wilayah Indonesia’.

Di situ Prabowo menulis, ada beberapa indikator ekonomi yang dijadikan acuan melihat kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Pertama dari neraca perdagangan, terutama kepemilikan dari perusahaan yang melakukan ekspor. Kedua, daya uang pengusaha Indonesia yang tersimpan di bank luar negeri.

Baca juga: Fadli Zon soal Isu Gerindra Tidak Mengusung Prabowo sebagai Capres

Soal neraca perdagangan, Prabowo mengutip data BPS. Prabowo membedah bahwa sejak 1997-2014, total ekspor mencapai USD 1.900 miliar atau Rp 24.700 triliun (menggunakan kurs Rp 13.000). Namun, kata Prabowo, uang hasil keuntungan ekspor tidak tinggal di dalam negeri.

Dalam bukunya, Prabowo juga menyebut tiap tahun lebih dari Rp 1.000 triliun kekayaan nasional mengalir ke luar negeri.

Dia juga mengutip data dari Global Financial Integrity tahun 2015, bahwa angka ekspor Indonesia bisa keliru 20-40 persen. Selain ada ekspor yang tidak dilaporkan, sebagian keuntungan ekspor Indonesia juga disebut masuk ke perusahaan asing.

Prabowo mengutip data Kementerian Keuangan tahun 2016. Pada Agustus 2016 Menteri Keuangan menyebut ada Rp 11.400 triliun uang pengusaha dan perusahaan Indonesia yang terparkir di luar negeri. Salah satunya di Singapura. Dia memaparkan investigasi Reuters pasca terbitnya kebijakan Tax Amnesty.

Sebanyak USD 200 miliar dari USD 470 miliar uang yang ada di bank swasta di Singapura adalah milik perusahaan Indonesia. USD 200 miliar setara dengan Rp 2.600 triliun atau lebih besar APBN tahun 2016.

Ini berpengaruh pada cadangan devisa Indonesia yang pada akhir 2016 ada di posisi USD 105 miliar. Sedangkan cadangan devisa Singapura menembus USD 251 miliar. Artinya, cadangan devisa Singapura 2,5 kali lebih besar dari cadangan devisa Indonesia.

Dengan kondisi ini, Prabowo menyebut saat ini Indonesia hanya menjadi pesuruh bangsa lain alias bangsa kacung. Dia tidak terima karena menjadi bangsa kacung bukan cita-cita Indonesia.*

COMMENTS