Prabowo Subianto Soal Dukungan KSPI di Pilpres 2019

Prabowo Subianto Soal Dukungan KSPI di Pilpres 2019

Prabowo Subianto memuji dukungan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang telah memutuskan untuk mendukungnya dalam pilpres 2019 mendatang. (Foto: Prabowo Subyanto - detik.com)

JAKARTA, dawainusa.com Prabowo Subianto memuji dukungan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang telah memutuskan untuk mendukungnya dalam pilpres 2019 mendatang. Dia menyebut, dukungan dari pihak buruh sangat penting dan menguatkan perjuangan hidupnya.

“Bagi saya, mendapat kepercayaan dari golongan buruh adalah suatu kehormatan yang sangat besar,” ucap Prabowo, di Jakarta, Minggu (29/4).

Prabowo mengatakan, siapa pun yang memimpin negara Indonesia pada masa akan datang memiliki tugas untuk melindungi segenap rakyat Indonesia. Seluruh warga Indonesia harus memiliki kehidupan yang layak dan sejahtera, yang bukan hanya dinikmati oleh golongan tertentu atau segelintir orang.

Baca juga: PSI Akan Laporkan Dugaan Intimidasi Massa #2019GantiPresiden

“Rakyat Indonesia harus aman tidak boleh khawatir akan masa depan, tidak khawatir tentang pekerjaan, dan memiliki hidup yang layak,” tuturnya.

Adapun KSPI dalam rencananya, akan mendeklarasikan dukungan untuk Prabowo pada tanggal 1 Mei 2018, bertepatan dengan hari buruh internasional. Deklarasi itu rencananya  dihadiri sekitar 100.000 anggota KSPI.

“Di Istora, kami akan deklarasi calon presiden yang didukung buruh, yaitu Prabowo Subianto,” ujar Presiden KSPI Said Iqbal.

Sebagaimana dilansir media ini sebelumnya, dukungan KSPI untuk Mantan Danjen Kopassus itu dilakukan setelah ada kesepakatan untuk menandatangani kontrak politik oleh Prabowo yang berisi 10 butir tuntutan KSPI atau disebut sepultra (Sepuluh tuntutan rakyat buruh).

Lima di antara tuntutan itu adalah: Tolak upah murah dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, dan merealisasikan 84 item kebutuhan hidup layak (KHL), Hapus outsourcing.

Tingkatkan benefit jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan jaminan pensiun. Angkat guru honor dan tenaga honor menjadi pegawai negeri sipil. Sediakan perumahan buruh yang murah.

Soal Sikap KSPI, Ini Kata Pengamat

Mengomentari sikap politik KSPI, Pengamat Politik sekaligus Dosen Ketenagakerjaan Pascasarjana Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai, pergerakan serikat buruh di Indonesia tidak lagi efektif memfasilitasi kepentingan buruh dan malah cenderung mendekati kepentingan politik dengan berafiliasi dengan partai politik.

“Dia kalau dekat dengan parpol tentunya kurang proporsional, karena dijadikan ‘kendaraan’ untuk menggerakkan massanya. Lebih baik buruh tidak membuat serikat buruh yang seperti itu, (tapi) lebih ke independen,” kata Trubus.

Baca juga: Lima Tahun Jadi Guru Honorer, Herlin Sanu Masih Bergaji Rp150 Ribu

Politik alternatif sekarang menjadi sarana yang penting bagi serikat buruh di Indonesia untuk bisa bersuara, di tengah kepentingan-kepentingan coba terus menekan mereka, terutama dari elite pengusaha dan partai politik.

Tak hanya itu, sikap dari buruh yang sudah antipati atau dari pihak pengurus serikat buruh sendiri terus dipengaruhi kepentingan politik yang bersifat transaksional.

“Tentu pemikiran alternatif ini jadi signifikan, karena bagaimanapun buruh-buruh semua belum tentu suka politik. Karena sekarang lebih niatnya kesejahteraan, mereka yg sikapnya apolitik tidak suka politik. Biasanya pengurusnya sudah melalui pelatihan-pelatihan teknik atau apapun namanya itu, terus akhirnya dicekoki kepentingan politik itu. Itu yang terjadi,” kata Trubus.

Membentuk serikat buruh yang independen sangat mustahil dilakukan di Indonesia, permasalahannya selain yang sudah disebutkan, juga ada urusan pembiayaan operasional.

Trubus menyebut pembiayaan operasional di dalam serikat buruh di Indonesia tidak lepas dari donasi elite pengusaha atau elite partai politik yang menjadikannya tidak bisa berdiri sendiri.

Bahkan untuk bisa berdiri sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak elite yang berkepentingan nampaknya juga tidak mudah, selain masalah pembiayaan juga karena sudah tidak ada lagi tokoh yang bisa menjadi motor di dalam serikat buruh sendiri.

“Kalau sekarang mau bergerak dia harus lepas dari politik. Satu harus mencari sosok yang bisa memperjuangkan kepentingan dirinya, buruh sendiri. Satu perjuangan sendiri ditengah kepentingan politik lebih menonjol ketimbang kepentingan kesejahteraannya,” ujar Trubus Rahadiansyah.

Trubus juga menyayangkan mental buruh sekarang tidak lagi mengedepankan perjuangan tanpa pamrih. Dia membandingkannya dengan saat perjuangan yang dilakukan oleh Marsinah, tokoh buruh wanita yang dibunuh karena menuntut hak kesejahteraan bagi kelompoknya.

“Mental-mental buruh sekarang mentalnya beda pada saat zaman Marsinah dulu, yang nilai juangnya sebagai perjuangan tanpa pamrih. Nah sekarang nilai-nilai Marsinah sudaheng gak ada.

“Sekarang demo-demo pada saat May Day lebih banyak tuntutan politik bukan tuntutan kesejahteraan, tapi memang berangkatnya dari titik kesejahteraan, tapi kemudian setelah itu larinya ke politik karena kesejahteraan sudah cukup,” ujarnya.

Saran yang diberikan oleh Trubus untuk pergerakan politik alternatif dari serikat buruh adalah melakukan konsolidasi internal, seperti melakukan dialog bersama yang akhirnya menjadi paguyuban yang tak bersifat formal sebagai wadahnya.

“Melakukan konsolidasi internal, melakukan dialog-dialog kemudian sharing pengalaman yang kemudian ada wadahnya yang bentuknya paguyuban. Jangan membuat paguyuban yang sifatnya formal. Kan kayak arisan karena ada kesadaran untuk memperjuangkan,” kata Trubus.

Strategi Pragmatis

Pandangan berbeda datang dari pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio. Dia justru menganjurkan serikat buruh menjalin hubungan dengan partai politik, supaya menjalankan fungsinya dalam menyuarakan hak buruh.

“Sebelumnya buruh pernah menjadi peserta pemilu tapi belum berhasil, dan buruh mendekati partai politik itu strategis daripada membuat partai politik yang berbiaya mahal.

Baca juga: Pansus Tenaga Kerja Asing, Fadli Zon Didukung Fahri Hamzah

“Mereka bisa menghidupkan suara mereka di partai politik. Buruh itu memang harus dijaga suaranya kalau enggak nanti bisa ke mana-mana suaranya. Dan yang memegang buruh dari partai politik itu memang bagus daripada yang tidak,” kata Hendri.

Hendri Satrio juga menyarankan supaya serikat buruh tidak disalahgunakan partai politik yang hanya ingin mendapatkan suara mereka.

Makanya kalangan buruh diminta membuat kontrak politik. Ada perjanjian hitam di atas putih antara pihak partai dan serikat buruh, serta adanya perwakilan dari serikat buruh di kepengurusan partai.

“Kan kalau partai politik menang banyak masuk di DPR bisa bikin undang-undang yang menguntungkan buruh. Kalau kalah ya buruh berharap pada kebijakan pemerintah yang menang,” katanya.*

COMMENTS