Pilpres 2019, Mungkinkah Gerindra dan PKS Berkoalisi?

Pilpres 2019, Mungkinkah Gerindra dan PKS Berkoalisi?

PKS kemungkinan tidak memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, jika tidak mendapatkan posisi calon wakil presiden. (Foto: Prabowo & Sohibul Iman - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Dalam belantara politik Indonesia, Gerindra dan PKS tampaknya selalu seiring sejalan. Dari mulai Pilpres 2019 hingga Pilkada DKI 2017,  keduanya menunjukkan kedekatan yang itens dengan membentuk koalisi.

Menjelang Pilpres 2019, desas-desus keduanya akan berkoalisi kembali pun sudah mulai menggaung. Namun, mungkinkah koalisi Gerindra-PKS terbentuk kembali dalam pemilihan Presiden mendatang? Ataukah keduanya justru akan memilih jalan dan orientasi politik masing-masing?

Berdasarkan informasi yang dihimpun Dawainusa.com belum ada titik temu antara Gerindra dan PKS, meskipun Prabowo rutin berkomunikasi dengan Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

Baca juga: Pilpres 2019: Panggung Besar Gerindra untuk Sandiaga Uno

Gerindra juga sempat membentuk tim internal khusus guna memastikan koalisi dengan partai lain, seperti PKS, PAN, PKB hingga Demokrat. Tim internal itu dipimpin Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra.

Dalam tim tersebut, Sandiaga dibantu dua Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dan Sufmi Dasco Ahmad, Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani, Ketua DPP Desmond Mahesa, serta Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Muhammad Taufik. Koalisi dengan partai lain menjadi kunci Gerindra untuk bisa mengusung Prabowo menjadi calon presiden (capres) pada pilpres 2019.

Sebab, berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, partai politik atau gabungan partai politik wajib memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu 2014 untuk bisa mengusung pasangan capres dan cawapres.

Gerindra sendiri hanya memiliki 73 kursi di DPR atau 14.760.371 (11,81%) suara sah nasional dari Pemilu 2014. Masih kurang sekitar 40 kursi guna memenuhi syarat mengusung capres dan cawapres dalam pilpres 2019.

Koalisi Dengan Gerindra, PKS Ajukan Syarat

Soal kemungkinan gerindra dan PKS berkoalisi, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, PKS kemungkinan tidak memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, jika tidak mendapatkan posisi calon wakil presiden (Cawapres). Sebab posisi Cawapres adalah syarat PKS mau berkoalisi dengan Gerindra mengusung Prabowo sebagai Capres.

“Artinya PKS minta cawapres, ya benar itu,” ujar Mardani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/4).

Sebab menurut Mardani, setiap partai memiliki hak untuk mengajukan calon kadernya sebagai capres maupun cawapres dengan ketentuan ambang batas presiden 20 persen tercukupi.Sementara untuk mengajukan calonnya, Gerindra membutuhkan partai lain.

Baca juga: Benarkah Prabowo Halalkan Segala Cara Demi Pilpres?

“Semua sadar bahwa tidak ada partai yang punya full tiket ya. Semuanya sharing tiket karena itu setiap partai punya hak untuk mengajukan calon kadernya atau calon capres cawapres dari tiap partai. Semua akan selesai dalam bentuk musyawarah yang setara,” katanya.

Karena itu pula, selain Partai Gerindra, PKS terus berkomunikasi dengan partai lain guna menuntaskan persoalan 2019. Ia juga membuka peluang PKS masih bisa berkoalisi dengan partai lain, selain Gerindra. Yang pasti kata Mardani, PKS memajukan satu dari 9 kadernya yang dipilih menjadi Capres maupun Cawapres.

“Bagi kami semua opsi masih terbuka dan PKS pada posisi mengajukan 9 kadernya untuk Capres dan Cawapres,” ujar Mardani.

Wakil Ketua Komisi II DPR itu juga menilai, sebaiknya penetapan dan pengumuman capres dan cawapres lebih baik dilakukan lebih cepat. PKS juga kata Mardani, tidak mempersoalkan jika nantinya calon presiden bukan Prabowo Subianto.

“PKS itu inginnya bersama Gerindra. karena dua-duanya sudah cukup dan karrna itu PKS menggesa Gerindra untuk segera umumkan paket ini kepada masyarakat,” ujar Mardani.

Koalisi Dengan PKS, Keuntungan Bagi Prabowo

Sebelumnya, Pengamat Politik Universitas Paramadina Toto Sugiarto menilai, bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto akan mendapat kelebihan tersendiri jika memilih kader PKS sebagai bakal cawapres untuk mendampinginya di Pilpres 2019.

Toto menuturkan, kelebihan tersebut yaitu kesolidan mesin politik PKS yang tentunya akan bekerja keras memenangkan pasangan Prabowo dan kader PKS pada kontestasi Pilpres 2019.

“Jika Prabowo memilih pendampingnya dari PKS, maka mesin politiknya akan efektif,” kata Toto.

Baca juga: Rizieq Shihab Bantah Pernah Menyebut Dukung Prabowo untuk Pilpres

Menurut Toto, PKS memiliki mesin politik yang solid, dan merupakan partai kader. Ketika kadernya dicalonkan untuk mengikuti pemilihan, kader-kader PKS di akar rumput pun akan memberikan dukungan dan siap bekerja keras demi pemenangan di pemilihan.

“PKS itu partai yang mesin politiknya solid, PKS juga partai kader, di mana ada kader PKS yang dicalonkan maka biasanya mesin politik bekerja keras dan semua kader mendukung itu,” kata dia.

Karena itu, Toto melanjutkan, Prabowo harus betul-betul memperhitungkan dalam proses pencarian cawapres pendamping dirinya. Alternatif cawapres yang paling mungkin untuknya, yakni dengan memilih salah satu nama yang diajukan parpol lain.

“Prabowo harus benar-benar serius berhitung dalam mencari pendampingnya agar bisa menang. Alternatif baginya harus dari parpol, karena jelas Gerindra tidak mampu mengusung sendiri. Alternatifnya dari PKS, karena PKS selama ini banyak bekerja sama dengan Gerindra,” katanya.*

COMMENTS