Pilpres 2019, KSPI Putuskan Dukung Prabowo dan Rizal Ramli

Pilpres 2019, KSPI Putuskan Dukung Prabowo dan Rizal Ramli

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/4), KSPI putuskan dukung Prabowo Subianto dan Rizal Ramli sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2019. (Foto: Prabowo & Rizal Ramli - ist)

FOKUS, dawainusa.com Arah dukungan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dalam konstelasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 semakin jelas. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/4), KSPI secara aklamasi memutuskan dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019.

KSPI putuskan dukung Prabowo bukan tanpa alasan. Melalui Presiden KSPI Said Iqbal, KSPI menilai hanya Ketua Umum Partai Gerindra itu yang berkomitmen untuk menjalankan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat (Sepultura) yang diajukan dalam bentuk kontrak politik.

Komitmen ini yang tidak ditemukan dalam rezim Joko Widodo saat ini. KSPI menilai, Jokowi telah membuat sejumlah regulasi yang tidak menguntungkan rakyat, khususnya para buruh. Misalnya, kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Baca juga: Pansus Tenaga Kerja Asing, Fadli Zon Didukung Fahri Hamzah

Ada pun beberapa poin yang diajukan KSPI di antaranya; menolak upah murah dengan cara mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan; Pengapusan sistem outsourcing; Peningkatan benefit jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan jaminan pensiun. Selain itu, mengangkat guru honor dan tenaga honor menjadi pegawai negeri sipil dan menyediakan perumahan murah bagi para buruh.

“Sejauh ini hanya Prabowo Subianto yang berkomitmen untuk menjalan tuntutan buruh dan rakyat. Karena itu, buruh KSPI secara bulat akan memberikan dukungan kepada beliau menjadi Presiden periode tahun 2019-2024,” kata Said melalui keterangan tertulisnya, Minggu (29/4).

Selain mendukung Prabowo sebagai calon presiden, KSPI juga mendukung Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sebagai calon Wakil Presiden (Cawapres). KSPI menilai, Rizal memahami persoalan ekonomi dan mampu mencarikan solusi. Oleh karena itu, Rizal dinilai cocok mendampingi Prabowo.

Akhir-akhir ini, nama Rizal Ramli cukup menyedot perhatian publik. Pada Maret lalu, jebolan master ekonomi di Universitas Boston, AS, itu telah mendeklarasikan diri sebagai Capres untuk bertarung dalam Pilpres 2019.

Menko Perekonomian era Gus Dur itu mengaku mencalonkan diri karena ingin membangun perekonomian Indonesia. Angka pertumbuhan ekonomi menurutnya stagnan di kisaran lima persen. Angka itu, kata Rizal Ramli, tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain itu menyebabkan melemahnya daya beli, dan kemiskinan makin terpuruk.

Menurut Said, dukungan terhadap Prabowo Subianto dan Rizal Ramli akan dideklarasikan saat perayaan Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2018 di Istora Senayan.

Wajar KSPI Putuskan Dukung Prabowo 

Secara terpisah, pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai, KSPI putuskan dukung Prabowo Subianto adalah sesuatu yang wajar. Sebab, mereka juga mempunyai aspirasi yang perlu diperjuangkan. Dukungan terhadap salah satu calon, demikian Hendri, adalah salah satu cara menyuarakannya.

“Boleh-boleh saja enggak ada masalah karena semua calon masih berpeluang. apalagi kalau sudah punya massa rial, tinggal melakukan pendekatan terhadap parpol,” kata dia, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Selasa (24/4).

Baca juga: TKI Zaini Dipancung dan Dalil Guru Besar Filsafat

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta, sedangkan penduduk pekerjanya mencapai 124,54 juta. Jumlah ini naik sebanyak 6,13 juta orang dibanding pada semester sebelumnya, dan bertambah 3,89 juta dibandingkan pada Februari 2016.

Hendri menambahkan, meskipun suara dari golongan buruh cukup besar, hal tersebut tidak memberikan jaminan kemenangan bagi calon presiden yang didukung.

Pada Pemilu Presiden 2014 lalu, KSPI dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) pernah menyatakan dukungannya terhadap pasangan Presiden-Wakil Presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun akhirnya, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang memenangkan pemilihan.

“Pengaruh buruh memang cukup besar dan buruh itu sudah pernah dicoba di kancah perpolitikan Indonesia, namun belum berhasil,” kata Hendri.

Suara Buruh Tak Bulat

Hal yang sama ditegaskan Direktur Populi Center Usep S Ahyar. Usep menilai, meskipun suara buruh bisa menambah perolehan suara, perbedaan pandangan politik di masing-masing organisasi menyebabkan suara buruh tidak bulat.

Misalnya, pada Pemilu Presiden 2014 tetap ada dua serikat buruh, yakni Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), yang mendukung Jokowi-JK.

Baca juga: KSPI Berikan Dua Gelar Ini ke Anies-Sandi

“Tentunya suara buruh akan menambah kekuatan di partai. Tapi di buruh juga mempunyai kepentingan yang berbeda beda dan suaranya juga terpecah,” kata Usep.

Menurut Usep, suara buruh akan berpengaruh signifikan jika kondisi organisasi seperti era orde baru diterapkan. Saat itu hanya satu organisasi golongan profesi tertentu yang diakui pemerintah.

Misalnya, PGRI yang menaungi para guru atau Kerukunan Tani Indonesia (KTI) yang menaungi para petani. Sehingga, suara di dalam organisasi itu tidak terpecah.

Pasca reformasi, lanjutnya, banyak bermunculan organsiasi dari golongan yang sama. Hingga saat ini banyak organsiasi buruh yang tersebar hingga ke level paling kecil. Ia menilai, meskipun KSPI putuskan dukung Prabowo, organisasi-organisasi buruh lainnya, belum tentu mempunyai kepentingan politik yang sama.

“Buruh itu macam-macam juga. Saya kira itu mengapa tidak kuat mendukung, karena di organisasinya tidak begitu solid. Kalau jadi satu kekuatan itu saya kira dahsyat juga,” tandas Usep.*

COMMENTS