Pilpres 2019: Kehadiran Prabowo dan Tantangan Berat Jokowi

Pilpres 2019: Kehadiran Prabowo dan Tantangan Berat Jokowi

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan, deklarasi Prabowo untuk bertarung dalam Pilpres tersebut merupakan sebuah tantangan berat bagi Jokowi. (Foto: Prabowo & Jokowi - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Peta politik untuk pemilihan presiden (pilpres) 2019 semakin jelas usai Ketua Umum Partai Gerindra mendeklarasikan diri akan bertarung sebagai calon presiden (capres) melawan petahana Presiden Joko Widodo.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan, deklarasi Prabowo untuk bertarung dalam Pilpres tersebut merupakan sebuah tantangan berat bagi Jokowi.

Menurut Romahurmuziy, sebagai bagian dari koalisi Jokowi, mereka mengakui mantan Danjen Kopassus tersebut merupakan lawan kuat yang akan dilawan oleh Jokowi.

Baca juga: Benarkah Prabowo Halalkan Segala Cara Demi Pilpres?

“Dalam pertarungan bipolar atau dua kutub seperti ini kita harus menganggap lawan itu kuat, karena kalau kita menganggap lawan itu lemah maka kita akan berleha-leha lalu kemudian kita terlena,” ungkap Romahurmuziy di kantor pusat PP Muhammadiyah, Menteng raya, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (12/4).

Karena itu, Romahurmuziy mengatakan, mereka tidak akan menganggap remeh kehadiran Prabowo dalam Pilpres tersebut. Mereka, demikian Romahurmuziy, akan selalu mengantisipasi berbagai kemungkinan strategi politik Prabowo agar dapat mengambil tindakan untuk menghadapinya demi memenangkan pertarungan pilpres tersebut.

Menurut Romahurmuziy, hal tersebut sangat penting dilakukan mengingat dalam Pilpres 2014 lalu, Presiden Jokowi mengalami kekalahan oleh Prabowo di 10 Provinsi.

“Dan ada 161 Kabupaten kota yang di sana itu kalah, karena itu tugas-tugas partai yang dulu belum bergabung dan sekarang 2019 sudah bergabung adalah membalik karena beberapa daerah yang dulu Pak Jokowi kalah adalah basis-basis partai tersebut,” kata Romahurmuziy.

Hal seperti ini, jelas Romahurmuziy, mesti menjadi pelajaran untuk menghadapi Pilpres 2019. “Karena itu saya terus mendorong agar apa-apa yang sudah menjadi kerja konkrit pak Jokowi ini disosialisasikan ke seluruh daerah terutama yang dulu terutama masih mendapatkan kekalahan untuk menunjukkan ini loh kerja nyata nya,” lanjut Romahurmuziy.

Kubu Jokowi Optimis Menang

Romahurmuziy melanjutkan, dengan peta politik seperti ini, mereka tetap optimis bahwa dalam Pilpres 2019 nanti, kubu Jokowi akan kembali menang dan menahkodai NKRI dalam periode berikutnya.

“Dengan dukungan dari partai koalisi pendukung Jokowi yang sudah jelas dan sudah nampak, maka akan jadi lebih mudah,” kata Romahurmuziy.

Baca juga: Pilpres 2019: Panggung Besar Gerindra untuk Sandiaga Uno

Sikap optimis itu, demikian Romahurmuziy, didukung dengan kinerja Jokowi yang dinilainya cukup memuaskan masyarakat Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun yang telah dilalui ini. Apalagi berbagai hasil survei memerlihatkan bahwa elektabilitas Presiden Jokowi sejauh ini di atas 60 persen.

“Dan juga sebagai partai pengusung kita tidak akan berpuas diri, kita akan terus bekerja keras dan membalik kekalahan yang dulu masih terjadi di 161 kabupaten dan kota meliputi 10 provinsi. Tentu tugas kami kami karena kita berada posisi yang berbeda di 2014 lalu untuk menjadi kemenangan,” ujar Romahurmuziy.

Harus Berduel Secara Rasional

Sementara itu, pada tempat lain, Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johnny G Plate juga menanggapi kehadiran Prabowo dalam panggung pertarungan Pilpres 2019 tersebut. Menurut Plate, kehadiran Prabowo memang patut dipertimbangkan, sebab kekuatannya dapat menyaingi dan menandingi kekuatan Jokowi.

“Kami anggap ini kan calon presiden, pertarungan pilpres, semua calon presiden pasti calon presiden yang hebat, serius, tangguh, kami anggap begitu. Karenanya kami persiapkan secara serius dan konsep yang kuat, dengan tim tangguh untuk bisa bertarung,” kata Plate di Jakarta, Kamis (12/4).

Baca juga: Rizieq Shihab Bantah Pernah Menyebut Dukung Prabowo untuk Pilpres

Akan tetapi, Plate menegaskan agar dalam pertarungannya nanti, segala hal berbau primordialistik mesti dihilangkan seperti penggunaan berabgai intrik yang cenderung mengeksploitasi SARA. Bagi Plate, untuk merebut kursi kekuasaan nomor satu di Indonesia, yang dibutuhkan ialah duel rasional, yakni dengan mengadukan ide dan program kerja yang dapat membangun bangsa dan negara.

“Kami berharap Pilpres 2019 nanti itu juga menjadi suatu kontestasi demokrasi lebih berbobot, tinggi kualitasnya dengan lebih mengedepankan gagasan, program, konsep pembangunan sebagaimana kebutuhan Indonesia di 2019,” tegas Plate.*

COMMENTS