Pilgub NTT, Persaingan Ketat Antara Harmoni dan Viktor-Joss

Pilgub NTT, Persaingan Ketat Antara Harmoni dan Viktor-Joss

Awalnya, kata Mikhael, semua pasangan calon memiliki peluang yang sama secara geopolitik. (Foto: Victor Laiskodat & Benny K. Harman - ist)

KUPANG, dawainusa.com Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Mikhael Bataona menilai pasangan calon gubernur NTT Beni Kabur Harman-Beni Alexander Litelnoni (Harmoni) dan Viktor Laiskodat-Yosef Nai Soi (Viktor-Joss) bersaing ketat dan merupakan pasangan calon terkuat dalam bursa pemilihan gubernur NTT.

Hal itu, kata Mikhael, terbaca pada sisa waktu satu bulan ini. Ia mengatakan paket yang pergerakan dan konsolidasi  politiknya kian kuat dan merata adalah dua paket tersebut yakni Viktor-Joss dan Harmoni. Jika situasi ini tidak berubah hingga hari “H”, kata dia, peluang keduanya mengungguli paket lainnya sangat terbuka.

“Soal siapa yang keuar sebagai pemenang, saya kira akan sangat ditentukan oleh manajemen isu dan kekutatan gempuran di darat. Bukan lagi pada opini-opini media sosial dan di dunia maya,” kata Mikhael.

Awalnya, kata Mikhael, semua pasangan calon memiliki peluang yang sama secara geopolitik. Setiap calon mengandalkan dukungan dari ceruk atau kanal suara pada basis masing-masing yaitu berbasiskan suku dan agama.

Baca juga: Pilgub NTT, Pengamat: Pasangan Harmoni Lebih Berpeluang Menang

Menurut dia, dalam situasi seperti itu, sulit menemukan calon yang mampu mengekspansi wilayah basis calon lainnya karena secara kultur pemilih di NTT mayoritas pemilih tradisional.

Namun, lagi-lagi berdasarkan perkembangan terakhir menjelang pemilihan, justru dua pasangan calon yakni Harmoni dan Viktor-Joss yang menunjukan trend positif. Sementara pasangan calon yang awalnya begitu diunggulkan, seperti yang tergambar dari hasil survei pada bulan Januari 2018 sudah terkejar.

“Akan tetapi setelah beberapa bulan ini melakukan kampanye dan konsolidasi elektoral saya membaca bahwa pasangan calon yang awalnya begitu diunggulkan, seperti tergambar pada hasil survei bulan Januari 2018 sudah terkejar,” katanya.

Sebagaimana diketahui saat itu, Esthon-Chris unggul dari pasangan calon lainnya. Akan tetapi, saat ini posisi pasangan calon ini sudah terkejar oleh pasangan Viktor-Joss dan Harmoni. Jika Esthon-Chris masih bisa menjaga soliditas basisnya, peluang menang mereka makin besar.

Namun, katanya lagi, akan sulit jika dukungan kepada paket ini melemah akibat gempuran Viktor-Joss melemah di Timor dan Sumba, Rote dan Sabu juga Alor, serta gangguan dari peket Harmoni di Manggarai Raya.

Keadaan tersebut lanjutnya menjelaskan bahwa “bandwogan effect” atau dukungan publik publik karena mengikuti suara mayoritas pemilih saat itu mengunggulkan Esthon-Chris tidak lagi berlanjut.

“Efek psikologis itu berhenti karena lamanya waktu kampanye dari kekuatan akomodasi yang mulai mempengaruhi medan pertarungan,” katanya.

Harmoni Berpeluang Menang

Sementara itu, sebelumnya pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Dr. Ahmat Atang menilai, dari semua pasangan calon, pasangan Harmoni lebih berpeluang terpilih dalam ajang Pilgub NTT periode 2018-2023 pada 27 Juni 2018.

Hal itu disampaikan Atang bukan tanpa alasan. Menurutnya, politik identitas masih kental di NTT, sehingga tidak menutup kemungkinan Pilgub mendatang ditentukan oleh kondisi yang demikian.

Baca juga: Deklarasi Di Sumba, Masyarakat Berikrar Menangkan Paket Harmoni

“Jika dilihat dari komposisi pemilih yang ada maka Flores termasuk pemilih terbesar dengan satu calon gubernur sehingga jika dilihat dari perspektif politik identitas, maka pasangan Harmoni atau Benny-Benny punya peluang lebih besar dibandingkan yang lain,” kata Ahmad Atang, Senin (4/6).

Pada dasarnya, jelas Atang, dalam perjalanan pilkada, setiap pasangan calon memang memiliki ciri khas tersendiri. Meski begitu, Atang mengatakan belum ada hasil survei yang benar-benar menjelaskan peluang di antara empat pasangan calon tersebut.

“Dilihat dari perjalanan panjang pilkada, keempat pasangan calon memiliki dinamika tersendiri. Untuk melihat peluang masing-masing pasangan calon memang belum ada hasil survei yang benar-benar menjelaskan peluang di antara empat pasangan calon tersebut, sehingga untuk mengganalisisnya selalu menggunakan parameter sentimen lain,” katanya.

Mobilisasi Sumber Daya Politik

Atang pada kesempatan yang sama sempat menyinggung soal mobilisasi sumber daya politik. Menurutnya, jika itu yang terjadi di NTT, maka pasangan Viktor-Joss yang keluar sebagai pemenang.

“Jika ini yang terjadi maka menurut saya Victor Laiskodat-Yoseph Nae Soi (Victory-Joss) lebih berpeluang karena memiliki sumber daya relatif mapan baik dari segi partai, kekuasaan lokal dan dukungan finansial,” katanya.

Walaupun begitu, kata Atang, politik itu teori kemungkinan sehingga yang kuat belum tentu menang dan yang lemah tidak berarti kalah dan begitu juga sebaliknya. Untuk kasus NTT, kata dia, pilkada ini pertarungan antara politik identitas melawan politik transaksional.

Baca juga: Ketika Harmoni Bergerak Bersama Petani, Peternak dan Nelayan NTT

Dengan demikian, yang menjadi penentu kemenangan adalah siapa yang menguasai Flores akan keluar sebagai pemenang. Dia menambahkan, realitas yang terlihat dari kerja-kerja politik melalui massa kampanye hanyalah sebuah gejala, bukan sebuah kepastian.

“Kondisi ini karena demokrasi kita adalah demokrasi massa mengambang sehingga banyaknya masa terkadang tidak  inheren dengan hasil pemilu,” katanya.

Namun demikian, memobilisasi massa yang besar juga akan berpengaruh secara psikologis politis yang dapat menciutkan nyali lawan.*

COMMENTS