Pilgub NTT, Pengamat: Pasangan Harmoni Lebih Berpeluang Menang

Pilgub NTT, Pengamat: Pasangan Harmoni Lebih Berpeluang Menang

Meski begitu, Atang mengatakan belum ada hasil survei yang benar-benar menjelaskan peluang di antara empat pasangan calon tersebut (Foto: Benny K. Harman & Benny Litelnoni - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT (Pilgub NTT) akan segera dilangsungkan. Dengan demikian segala kalkulasi politik, termasuk siapa yang mendulang suara terbanyak dari semua pasangan calon akan segera terjawab pula.

Mengomentari hal itu, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Dr. Ahmat Atang menilai, dari semua pasangan calon, pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Benny Kabur Harman-Benny  Litelnoni (Harmoni) lebih berpeluang terpilih dalam ajang Pilgub NTT periode 2018-2023 pada 27 Juni 2018.

Hal itu disampaikan Atang bukan tanpa alasan. Menurutnya, politik identitas masih kental di NTT, sehingga tidak menutup kemungkinan Pilgub mendatang ditentukan oleh kondisi yang demikian.

Baca juga: Debat Pilgub NTT, Bukan Hanya Sekedar Tanya Jawab

“Jika dilihat dari komposisi pemilih yang ada maka Flores termasuk pemilih terbesar dengan satu calon gubernur sehingga jika dilihat dari perspektif politik identitas, maka pasangan Harmoni atau Benny-Benny punya peluang lebih besar dibandingkan yang lain,” kata Ahmad Atang sebagaimana diberitakan Senin (4/6).

Pada dasarnya, jelas Atang, dalam perjalanan pilkada, setiap pasangan calon memang memiliki ciri khas tersendiri. Meski begitu, Atang mengatakan belum ada hasil survei yang benar-benar menjelaskan peluang di antara empat pasangan calon tersebut.

“Dilihat dari perjalanan panjang pilkada, keempat pasangan calon memiliki dinamika tersendiri. Untuk melihat peluang masing-masing pasangan calon memang belum ada hasil survei yang benar-benar menjelaskan peluang di antara empat pasangan calon tersebut, sehingga untuk mengganalisisnya selalu menggunakan parameter sentimen lain,” katanya.

Mobilisasi Sumber Daya Politik

Atang pada kesempatan yang sama sempat menyinggung soal mobilisasi sumber daya politik. Menurutnya, jika itu  yang terjadi di NTT, maka pasangan Viktor-Joss yang keluar sebagai pemenang.

“Jika ini yang terjadi maka menurut  saya Victor Laiskodat-Yoseph Nae Soi (Victory-Joss) lebih berpeluang karena memiliki sumber daya relatif mapan baik dari segi partai, kekuasaan lokal dan dukungan finansial,” katanya.

Baca juga: Pengamat: Gagasan Paslon Pilgub NTT Masih Sangat Normatif

Walaupun begitu, kata Atang, politik itu teori kemungkinan sehingga yang kuat belum tentu menang dan yang lemah tidak berarti kalah dan begitu juga sebaliknya. Untuk kasus NTT, kata dia, pilkada ini pertarungan antara politik identitas melawan politik transaksional.

Dengan demikian, yang menjadi penentu kemenangan adalah siapa yang menguasai Flores akan keluar sebagai pemenang. Dia menambahkan, realitas yang terlihat dari kerja-kerja politik melalui massa kampanye hanyalah sebuah gejala, bukan sebuah kepastian.

“Kondisi ini karena demokrasi kita adalah demokrasi massa mengambang sehingga banyaknya masa terkadang tidak inheren dengan hasil pemilu,” katanya. Namun demikian, memobilisasi massa yang besar juga akan berpengaruh secara psikologis politis yang dapat menciutkan nyali lawan.

Pilgub NTT, Flores Penentu Kemenangan

Sebelumnya, pasca KPU NTT menetapkan empat pasangan calon untuk bertarung pada Pilgub NTT 2018, Atang mengatakan empat pasangan calon telah mewakili politik representatif berdasarkan geopolitik dan ideologis sehingga basis dukungan politik terhadap paslon cenderung terpola berdasarkan sentemen ideologis dan kultural.

Dalam konteks ini, kata Atang, basis dukungan Flores cenderung kuat pada paslon Harmoni. Kasus yang menimpa Marianus Sae, kata Atang, sedikit banyak telah mengubah peta dukungan politik yang berbasis geopolitik.

Flores menjadi arena permainan baru untuk diperebutkan karena menjadi penentu kemenangan yang awalnya adalah Sumba.

Baca juga: Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

“Dengan adanya kasus tersebut, secara psikologis politis paslon Harmoni diuntungkan dan memiliki peluang menang lebih besar. Walaupun demikian, ancaman bagi paslon Harmoni jika pendukung Marianus Sae mengambil sikap Golput.  Karena itu memperebutkan pemilih Flores menjadi penting dan strategis jika tidak ingin kalah,” kata Atang.

Menurutnya, walaupun Marianus Sae secara formal ikut ditetapkan sebagai salah satu kontestan, namun secara  faktual menurutnya pendukung Marianus Sae cenderung melemah di beberapa tempat dan segmen.

“Karena itu, Victory-Joss akan habis-habisan menggempur Flores dan Esthon akan memperkuat basis dukungan Timor dan Sumba,” kata Atang lagi.

Dia mengatakan, semua paket akan menggarap secara merata di seluruh wilayah, namun menurutnya secara geopolitik, sentimen kuat di Flores masih ke BKH dan Timor masih di Esthon. “Victory-Joss memiliki keunggulan pada kekuatan  kekuasaan lokal karena sebagian besar kekuasaan lokal berada di barisan Golkar-Nasdem,” jelasnya.*

COMMENTS