Pesan Terakhir Korban Ledakan Bom di Surabaya untuk Sang Suami

Pesan Terakhir Korban Ledakan Bom di Surabaya untuk Sang Suami

Sebelum berangkat ke Surabaya sepekan lalu, jelas Aan, istrinya tersebut memang sempat berpesan dan menuturkan ucapan yang agak 'aneh' untuk dirinya (Foto: Ilustrasi - ist).

SURABAYA, dawainusa.com – Aan Teja suami dari Lim Gwat Ni (56), salah seorang korban yang tewas dalam tragedi ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela bernama, Minggu (13/5) kemarin mengaku ikhlas dengan kepergian sang istri. Ia mengatakan, kepergian sang istri lewat kejadian tragis tersebut sama sekali tidak disangkanya.

Sebelum berangkat ke Surabaya sepekan lalu, jelas Aan, istrinya tersebut memang sempat berpesan dan menuturkan ucapan yang agak ‘aneh’ untuk dirinya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak berpikir bahwa ucapan itu merupakan sebuah pertanda akan ada sesuatu yang buruk menimpah dirinya.

Baca juga: Inilah Keseharian Keluarga Pelaku Pengeboman di Tiga Gereja Surabaya

“Firasat jelek sih enggak, tapi ada hal yang tidak biasa. Pas dia mau pergi ke Surabaya tiba-tiba dia bilang, saya pergi lama sekali gak seperti biasanya, gak tau pulang apa enggak. Begitu bilangnya, padahal baik-baik saja,” ungkap Aan yang merupakan seorang warga di perumahan Poris Indah Blok C No. 267, Rt 06/06, kota Tangerang itu, Senin (14/5).

Selain itu, Aan juga mengatakan, sejak sang istri meninggalkan rumah di Tangerang menuju Surabaya, ia tidak pernah berkomunikasi dengannya. “Terakhir itu cuma pas mau berangkat ke Surabaya, kira-kira seminggu lalu. Setelah itu gak ada lagi,” jelas Aan.

Untuk jenasah sang istri, Aan mengatakan, sampai saat ini pihak keluarga masih menunggu konfirmasi dari pihak  RS Bhayangkara Surabaya apakah bisa dibawa pulang ke rumah atau tidak. “Belum tahu ini dapat dibawa kapan, Kita juga masih rundingan kemana jasad nanti akan disemayamkan,” kata Aan.

Adapun kepergiaan  Lim Gwat Ni meninggalkan duka bagi ketiga orang anaknya. “Anak ada tiga,” kata Aan.

Tentang Tragedi Ledakan Bom di Surabaya

Seperti diketahui, ada lima rangkaian bom bunuh diri telah menghantam Kota Surabaya kemarin dan di Sidoarjo hari ini. Dari keterangan yang dirilis oleh pihak kepolisian, ada 21 orang warga dan 13 pelaku yang tewas dalam serangan bom tersebut.

“Saya ingin update jumlah korban secara menyeluruh, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo hingga hari ini. Total ada 21 orang masyarakat meninggal pagi ini di Surabaya. Kemudian 13 pelaku tewas,” ungkap Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya, Senin (14/5).

Arifin menerangkan, pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo tersebut dipastikan melibatkan keluarga mereka. Hal ini diketahui dari hasil identifikasi dan pengecekan aparat dan ditemukan bahwa semua pelaku merupakan satu keluarga.

Baca juga: Indonesia Darurat Terorisme, Ini Perintah Presiden Joko Widodo

“Perlu saya sampaikan kejadian(pengeboman) yang di Sidoarjo dan Surabaya semuanya satu keluarga,” jelas Arifin.

Untuk diketahui, rangkai ledakan bom tersebut pertama terjadi pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya,Minggu (13/5). Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Tidak berhenti di situ, pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom kembali terjadi di area rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam ledakan bom tersebut ada tida orang terduga pelaku yang tewas, yakni Anton (47) beserta istrinya, Puspita Sari (47), dan anak pertamanya, LAR (17).

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia.

Masyarakat Tetap Tenang

Menanggapi peristiwa ini, Presiden Republik Indonesia (RI) Ir. Joko Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar tetap tenang dan tidak panik dengan maraknya serangan terorisme saat ini. Ia mengatakan, Presiden Jokowi sendiri juga telah mendorong aparat keamanan negara untuk menindak tegas para pelaku terorisme bersama jaringannya.

“Saya pikir sebuah pesan khusus kepada masyarakat untuk tenang, untuk tidak panik, karena aparat keamanan sudah mendapatkan perintah yang jelas, tegas dari Presiden, untuk memberikan tindakan tegas tanpa ampun keakar-akarnya,” jelas Moeldoko di Menara 165, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Untuk mengatasi persoalan terorisme ini, jelas Moeldoko, aparat penegak hukum akan melakukan tindakan represif. Presiden Jokowi sendiri, kata Moeldoko, telah meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera berkolaborasi dengan Polri dalam rangka memberantas terorisme ini.

Baca juga: Usul Terbitkan Perppu, Ketua Pansus RUU Terorisme Minta Tito Mundur

“Polri sudah meminta kepada TNI, dan Presiden sudah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk berkolaborasi menyelesaikan persoalan ini. Sehingga kepolisian memiliki kekuatan yang semakin kuat untuk membasmi terorisme ini. Untuk itu saya mengimbau kepada masyarakat untuk tenang,” kata Moeldoko.

Selain mengatakan demikian, Mantan Panglima TNI ini juga meminta kepada seluruh masyarakat agat tidak menyebarkan berita bohong atau hoaks di media sosial. Apalagi kalau berita tersebut berisi hal-hal yang dapat mengganggu atau meresahkan kehidupan masyarakat.

“Karena justru akan menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Ada beberapa berita-berita yang disebarkan padahal kebenarannya masih dipertanyakan. Ini tolong tidak dikembangkan, karena justru sekali lagi akan membawa situasi yang tidak baik,” ujar Moeldoko.

COMMENTS