Pernyataan Gubernur NTT Soal Aksi Teror di Mako Brimob dan Surabaya

Pernyataan Gubernur NTT Soal Aksi Teror di Mako Brimob dan Surabaya

Forkopimda NTT mengutuk tindakan keji dan tidak berperikemanusiaan yang terjadi di Mako Brimob maupun bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya (Foto: Frans Lebu Raya - Beritasatu).

KUPANG, dawainusa.com Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya sangat menyayangkan aksi teror yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta Timur dan di beberapa tempat ibadah di Surabaya, Jawa Timur. Atas insiden tersebut, Gubernur dua periode itu pun meminta seluruh masyarakat NTT agar tidak terprovokasi.

“Seluruh elemen masyarakat NTT agar tidak terprovokasi situasi ini, masyarakat agar tetap menahan diri dan menjaga perdamaian di NTT,” kata Gubernur Frans di Kupang, Minggu (13/5).

Selain itu, menyikapi situasi yang tengah terjadi, Gubernur saat itu juga langsung menggelar rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkimpda) bersama Polda NTT, para tokoh lintas agama, Forum Komunikasi Umat Beragama, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FKP), serta tokoh pemuda dan masyarakat setempat.

Baca juga: Inilah Keseharian Keluarga Pelaku Pengeboman di Tiga Gereja Surabaya

Rapat tersebut kemudian menghasilkan beberapa pernyataan sikap antara lain, Forkopimda NTT mengutuk tindakan keji dan tidak berperikemanusiaan yang terjadi di Mako Brimob maupun bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

“Karena itu kami minta aparat keamanan agar segera mengusut peristiwa tersebut setuntas-tuntasnya dan menindak tegas pelaku yang terlibat sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Ia menambahkan, Forkopimda NTT mendukung sikap pemerintah Presiden Joko Widodo dengan menggunakan seluruh instrumen, baik hukum, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta menggunakan seluruh kekuatannya, baik TNI-Polri maupun birokrasi serta dukungan masyarakat luas.

Selain itu, pihaknya mendesak DPR RI agar segera menyelesaikan dan mengesahkan Undang-Undang Anti Terorisme, dan atau Presiden menerbitkan Perpu Anti-Terorisme sambil menunggu proses pengesahan Undang-Undang Anti Terorisme.

Terpisah, kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast langsung memerintahkan seluruh jajaran Polres dan Polresta untuk meningkatkan pengawasan terhadap gereja-gereja yang ada setelah serangan teroris terhadap tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi.

Selain memperketat pengawasan di gereja-gereja, jelas Abraham, personel kepolisian juga perlu meningkatkan patroli di wilayah hukum Polda NTT secara berkala baik di gereja atau pun di tempat keramaian lainnya.

Terkait keamanan di wilayah NTT pasca bom di Surabaya, Abraham mengatakan situasi Kamtibmas untuk wilayah NTT terpantau masih kondusif.

“Kegiatan ibadah di gereja-gereja, baik di seputaran Kota Kupang maupun kota lainnya di NTT masih terpantau aman dan tertib, dan umat dengan tenang menjalankan ibadat,” katanya.

Aksi Teror Tidak Berkaitan dengan Agama

Pada kesempatan yang sama, terkait aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Gubernur Frans mengatakan peristiwa tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan agama, meskipun menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu.

“Peristiwa ini murni adalah aksi terorisme karena semua agama pada prinsipnya mengajarkan tentang kebaikan,” katanya.

Karenanya, Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat setempat agar tidak membawa-bawa agama dalam memandang persoalan tersebut sehingga persatuan dan perdamaian antarumat di daerah itu tetap terjaga secara baik.

Baca juga: Aksi Terorisme di Surabaya, Ini Pernyataan Romo Benny Susetyo

Gubernur juga meminta peran media massa, cetak dan elektronik agar menyajikan pemberitaan terkait peristiwa tersebut secara proporsional dan tidak provokatif, serta tidak menyebarkan informasi berupa foto dan video korban kepada pihak lain.

“Para pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta semua elemen masyarakat NTT agar tidak menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian, tapi mari kita bersama-sama menjaga suasana agar tetap aman dan damai,” katanya.

Terorisme Menyimpang dari Ajaran Islam

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur Djamal Ahmad mengatakan perbuatan para pelaku yang melakukan aksi teror terhadap tiga gereja itu sudah menyimpang dari ajaran Islam.

“Islam tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Tindakan para pelaku merupakan tindakan biadap karena melakukan pemboman terhadap umat beragama yang sedang melakukan ibadat Hari Minggu,” katanya.

Ia menilai aksi teror terhadap umat Kristiani yang sedang menjalankan ibadah Hari Minggu itu merupakan sebuah tindakan yang sangat biadap dan tidak berprikemanusian.

Baca juga: Cerita Saksi Mata Soal Ledakan Bom di Gereja Surabaya

“Tindakan para teroris merupakan tindakan yang biadap karena berlabelkan Islam. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dengan menebar teror seperti dilakukan para pelaku dalam aksi teror
di Surabaya itu,” katanya

Djamal kemudian berharap aparat keamanana baik Kepolisian dan TNI mengejar gembong maupun aktor intelektual yang berada dibalik aksi pemboman tiga gereja yang telah merenggut 13 korban meninggal dan 40 umat mengalami luka-luka.

Ia mengatakan, tindak tegas terhadap jaringan terorisme penting dilakukan agar tidak terjadi lagi kasus serupa, sehingga kerukunan hidup beragama di negara ini tetap terjaga.

PWNU NTT juga meminta DPR-RI agar serius dan tidak main-main dalam membahas UU Antiterorisme, sehingga upaya pencegahan dilakukan aparat keamanan bisa dilakukan secara dini terhadap sel teroris yang dianggap membahayakan.

“Kita berharap DPR punya hati nurani dalam melihat situasi yang sedang terjadi saat ini, agar segera menuntaskan pembahasan UU Antiteros untuk memberi payung hukum kepada aparat kepolisian untuk mencegah lebih dini terhadap para teroris sebelum melakukan aksinya,” demikian Djamal Ahmad.*

COMMENTS