Pernah Gagal, Mahfud MD Tak Ingin Kembali Jadi Timses Prabowo

Pernah Gagal, Mahfud MD Tak Ingin Kembali Jadi Timses Prabowo

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengaku, Prabowo Subianto tidak akan mengajaknya lagi untuk menjadi bagian dari tim sukses apabila telah pasti mendapat tiket untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. (Mahfud MD ketika menjadi ketua timses Prabowo pada 2014 lalu - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengaku, Prabowo Subianto tidak akan mengajaknya lagi untuk menjadi bagian dari tim sukses apabila Ketua Umum Partai Gerindra itu telah pasti mendapat tiket untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang.

Menurut Mahfud, kemungkinan untuk itu tidak akan terjadi karena sebagai ketua tim sukses dirinya telah gagal untuk memenangkan Prabowo dalam Pilpres 2014 silam.

“Enggak akan diminta Prabowo, kan saya sudah gagal,” ujarnya sambil tertawa di Kantor DPP PSI, Tanah Abang, Minggu (22/4).

Sebelumnya, Mahfud pernah menjabat sebagai Ketua Tim Sukses Kampanye Nasional pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 lalu. Namun, upayanya saat itu gagal mengantarkan pasangan yang diusung oleh koalisi tujuh parpol tersebut melawan pasangan Jokowi-JK.

Baca juga: Dugaan Mahfud MD soal Jokowi dalam Pilpres 2019

Adapun jika Prabowo kembali membujuknya untuk bergabung sebagai tim suksesnya di Pilpres 2019, mantan Menteri Hukum dan Ham di era Presiden Abdurahman Wahid itu menegaskan menolak tawaran tersebut.

“Enggak (berminta menjabat kembali), enggak akan diminta jugakan,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Prabowo Subianto sejauh ini telah diusung oleh Partai Gerindra sebagai bakal calon Presiden (Capres) 2019-2024. Keputusan tersebut diambil usai aspirasi seluruh kader Gerindra yang hadir dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Jawa Barat.

“Atas dasar aspirasi tersebut maka partai Gerindra secara resmi mencalonkan Prabowo Subianto sebagai calon Presiden dan sekaligus memberikan mandat penuh untuk membangun koalisi dan memilih calon wakil Presiden,” kata Sekretaris Jendral Gerindra, Ahmad Muzani.

Tak Ada Hubungan Struktural dan Emosional dengan Prabowo

Sebelumnya, pada Sabtu (21/4) Mahfud mengatakan, dirinya telah berpamitan dengan Prabowo ketika Joko Widodo resmi dilantik sebagai Presiden seusai Pilpres 2014 lalu.

“Saya temui dia (Prabowo), Pak saya mau pamit sudah selesai tugas saya, saya hanya mau mengatakan tidak ada lagi hubungan struktural maupun emosional dengan saya,” pungkas Mahfud.

Baca juga: Pilpres 2019, Mungkinkah Gerindra dan PKS Berkoalisi?

Dirinya juga menuturkan bahwa sudah lama tidak bertemu dan berhubungan dengan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut. “Saya sejak tanggal 5 November 2014 tak sekalipun bertemu dengan Prabowo. Berhubungan juga enggak,” kata Mahfud. “Sejak itu, sampai hari ini enggak pernah ketemu, kecuali salipan (berpapasan) di Bandara,” tambahnya.

Mahfud juga pada saat itu sempat berkelakar soal kenaikan pangkat dari yang sebelumnya hanya sebagai tim sukses. “ Enggaklah, masak enggak naik-naik pangkat,” ujar Mahfud.

Pernyataan Mahfud tersebut lantas mendapat tanggapan dari aktivis sekaligus seniman, Ratna Sarumpaet. Melalui akun Twiternya @RatnaSpaet, dirinya menulisakan komentar, “Aku orang yang percaya ambisi ‘Demi uang dan/atau kekuasaan’ seseorang bisa tega mempermalukan dirinya….”

Disebut-sebut Pasangan Ideal Jokowi

Sementara itu, secara terpisah Peneliti Center for Presidential Studies Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Taufik Rahman menyebut situasi pilpres 2019 mirip dengan 2009.

Hal ini ia kemukakan lantaran menurutnya, Jokowi sebagai petahana belum memiliki posisi yang aman apalagi saat sentimen Islam sedang menguat. Dirinya lantas menganalisis sosok mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD sebagai sosok yang paling realistis sebagai cawapres Jokowi.

Baca juga: Bukan Jokowi dan Prabowo, Siapakah Kandidat yang Dijagokan Demokrat?

Menurutnya, Mahfud berpengalaman di lembaga negara, bahkan sempat berada di kubu Prabowo pada pilpres 2014. Mahfud juga diyakini dapat menjawab kekhawatiran larinya dukungan warga NU terutama para kiai dan warga Jawa Timur jika Cak Imin tak jadi cawapres.

Selain itu, dekatnya dengan Gus Dur, membuat tak ada resistensi seperti pada Cak Imin yang pernah berkonflik dengan pendiri PKB itu. Taufik mengatakan Mahfud memiliki dosa politik yang kecil sehingga bisa menjadi paket hemat bagi Jokowi, solusi dan jalan tengah dari berbagai pilihan cawapres.*

COMMENTS