Perjuangan Alpin dan Ironi Tanggung Jawab Orang Tua

Perjuangan Alpin dan Ironi Tanggung Jawab Orang Tua

Saat di KRL, banyak orang yang ingin membantu Alpin. Dari mulai memberikan makanan hingga uang agar dapat dipergunakannya. Namun baik makanan atau uang itu tak digunakan Alpin sendirian. Dia memberikannya untuk sang ibu di rumah. (Foto: Alpin - detik.com)

JAKARTA, dawainusa.com – Alpin, pelajar sekolah dasar (SD) ini butuh perjuangan keras untuk pergi ke sekolah. Setiap harinya, Alpin harus menempuh jarak yang jauh dari Parung Panjang ke Tanah Abang menggunakan KRL Commuter Line. Alpin tak diantar oleh kedua orangtuanya dan hanya sendirian.

Kisah Alpin itu pertama kali dibagikan oleh Caroline Ferry di akun Facebooknya pada Rabu, (4/4).  Caroline mengungkapkan dirinya kerap bertemu dengan bocah kelas 2 SD itu di stasiun Parung Panjang. Namun dia tidak mengetahui kalau Alpin pergi dan pulang sendirian naik kereta. Barulah pada pekan lalu, Caroline menanyakan kondisi Alpin yang kerap sendirian naik KRL.

“Awalnya saya pikir dia sama orang tua. Saya biarkan saja. Pas pekan lalu saya nunggu kereta, dia berdiri di sebelah saya. Saya tanya ‘kamu sendiri? Ya sudah ikut kakak ya’. Saya Ajak dia ke gerbong cewek. Saya tanya dia sekolah di mana. Dia menjawab sekolah di dekat Thamrin City dan rumah di Parung Panjang,” kata Caroline sebagaimana diberitakan detik.com, Selasa (10/4).

Baca juga: Beragam Tanggapan Pendukung Jokowi Soal Tagar #2019GantiPresiden

Kepada Caroline, Alpin mengatakan kedua orangtuanya tidak dapat menemani dirinya ke sekolah. Semula rumah Alpin berada di wilayah Tanah Abang. Namun karena kena gusur, dia sekeluarga pindah ke rumah saudara yang berada di Parung Panjang.

“Ayahnya jarang pulang dan ibunya lagi sakit. Dia setiap hari bawa uang Rp 8 ribu untuk naik kereta pulang pergi. Untuk ke rumah dan sekolah dia jalan kaki. Saya waktu nemenin dia ke sekolah itu hampir satu jam dari stasiun Tanah Abang ke Thamrin City,” kata Caroline.

Saat di KRL, banyak orang yang ingin membantu Alpin. Dari mulai memberikan makanan hingga uang agar dapat dipergunakannya. Namun baik makanan atau uang itu tak digunakan Alpin sendirian. Dia memberikannya untuk sang ibu di rumah.

“Saya kagum sama dia. Alpin kalau ketemu orang, sama orang kan ngelihat dia sendiri. Dikasih uang tapi nggak dijajanin sama dia. Katanya buat beli beras. Pas saya ketemu dia dua kali, saya kasih makan dia dan dia bilang buat adiknya. Sepanjang jalan sampai rumah saya ajakin mampir makan nggak mau,” jelasnya.

Berikut Postingan Lengkap Caroline

“Ada yg tau ade ini?? Hebat loh.

Sekolah di Tanah Abang rumahny di Parung Panjang. Sekolah nya dia bilang disekitaran Thamrin City.

Dan tiap hari si ade ini jln kaki dari Thamrin City ke stasiun Tanah abang (itu kan jauh ya), PP naik kereta dan pulangnya jg dr stasiun Parung Panjang ke rumahnya jln kaki (ktny jauh jg).

Gw smpet tny mang gk djmput bapak? Ktny dia bapakny kerja proyek dan jarang pulang sdngkan makny lg sakit (lbh terenyuh lg).

Berasa malu bgt, gw yg cm rute Tnh Abang-Kebayoran tiap hari ngeluh krn desek2an keinjek2.

tp si ade ini tiap hari pulang malem jln kaki pula nyantai2 aj..

gud luck ade rajin2 sekolahnya biar jd anak yg berguna bs bantu orang tua

 Note : nmny Alpin”

Ironi Tanggung Jawab Orang Tua

Alfiansyah (Alpin) bisa dibilang sebagai pelajar sekolah dasar (SD) yang gigih dalam menimba ilmu. Bukan kenapa-kenapa, Alpin sanggup pergi-pulang Parungpanjang-Tanah Abang menggunakan jasa KRL demi bersekolah. Di sisi lain, ada ironi dari kisah Alpin.

Sebagaimana diungkapkan orang tua Alpin, alasan  lain Alpin dibiarkan menempuh jarak puluhan kilometer demi bersekolah lantaran orang tuanya, Lasmawati, kekhawatiran kalau dia mesti membayar jika anaknya pindah sekolah. Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait menyesalkan sikap orang tua Alpin.

Baca juga: Facebook Berkutat dalam ‘Persaingan Senjata’ dengan Rusia

“(Alasan takut bayar kalau pindah sekolah) Nggak bisa dibenarkan. Saya kira itu dilakukan upaya-upaya keluhan itu… kalau dengan perjalanan begitu panjang itu mengganggu anak-anak, tentu akhirnya orang tua harus menyampaikan itu kepada pihak sekolah,” kata Arist saat dihubungi, Rabu (11/4).

Bagi Arist, apa yang dialami Alpin merupakan bentuk kekerasan anak. Bocah kelas 2 SD, kata Arist, belum boleh dibiarkan berpergian sendirian, apalagi mesti naik angkutan umum puluhan kilometer.

“Dia sangat rentan terhadap kejahatan, bisa saja dia dimanfaatkan orang lain, dieksploitasi, terjebak korban narkoba, korban penculikan, itu yang harus diantisipasi,” tutur Arist.

Setelah kisahnya viral, Alpin dikabarkan tak mesti pergi-pulang Parungpanjang-Tanah Abang untuk belajar. Alpin kini disebut sudah pindah rumah di kawasan dekat sekolahnya.

“Sekarang sih sudah pindah di Rumah Susun Benhil, Pejompongan, jadi ke arah Benhil. Itu sudah pindah ke sana barusan. Yang bantu itu yayasan,” kata ibunda Alpin, Lasmawati, saat ditemui di sekolah Alpin.*

COMMENTS