Perempuan di Istanbul Protes Pemisahan Area Pria-Wanita di Masjid

Perempuan di Istanbul Protes Pemisahan Area Pria-Wanita di Masjid

Ia menilai bahwa aturan tersebut sangat diskrimitafif terhadap perempuan Muslim. (Foto: Salah seorang perempuan yang tergabung dalam gerakan 'Perempuan di Masjid' - ist)

FOKUS, dawainusa.com – Pada Maret lalu, seorang perempuan Muslim melakukan aksi protes di sebuah Masjid di Istanbul Turki untuk menolak aturan bahwa wanita tidak boleh berada di area yang sama dengan laki-laki di dalam Masjid saat sedang menjalankan ritual atau ibadah keagamaannya.

Aksi protes perempuan tersebut mendapat reaksi negatif dari pihak yang berada di Masjid itu. Perempuan itu kemudian dikeluarkan dari dalam Masjid karena tindakannya dinilai bertentangan dengan aturan keagamaan yang ada.

Tidak menerima hal tersebut, perempuan itu tetap bersikukuh dengan sikapnya. Ia merasa bahwa haknya sebagai perempuan untuk mengekspresikan kebebasan beragamanya dibatasi dengan larangan tersebut.

Baca juga: Berdamailah dengan Pemberontak: Konflik Moro dan Gerakan MILF

Karena itu, ia kemudian mengajak dan mendorong semua perempuan di daerah tersebut untuk melakukan gerakan protes terhadap hal ini. Sebab, ia menilai bahwa aturan tersebut sangat diskriminatif bagi perempuan Muslim.

Inisiatif perempuan ini mendapat tanggapan positif dari kawan-kawan perempuan Muslim yang lainnya. Mereka kemudian membentuk suatu gerakan bernama “Perempuan di Masjid”. Gerakan ini memiliki agenda untuk menentang pemisahan area antara laki-laki dan perempuan di rumah ibadah, yakni di Masjid.

Salah satu perempuan dari kelompok gerakan tersebut mengatakan bahwa aturan yang memisahkan area antara perempuan dan laki-laki di rumah ibadah tersebut sangat tidak adil. Aturan ini dinilainya membuat perempuan Muslim menjadi terisolasi di dalam komunitasnya sendiri.

“Ketika Anda salat dan berdoa di area khusus tanpa melihat imam atau jemaah lainnya Anda merasa terisolasi dari komunitas Anda sendiri,” kata Zeyne yang merupakan seorang mahasiswi.

Wajar Ditentang

Senada dengan Zeyne, salah seorang perempuan lainnya mengatakan, aturan tersebut sangat wajar untuk ditentang. Ia memandang, perempuan juga memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam soal mendapatkan tempat di dalam rumah ibadah.

Larangan agama bahwa hal itu tidak diperbolehkan, kata dia, sama sekali tidak masuk akal. Agama, tegas dia, seharusnya bisa mengakomodasi semua pihak dan tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebab, di banyak tempat saat ini, perempuan justru diberi akses yang sama dengan laki-laki.

Baca juga: Penutupan Tujuh Masjid dan Perlawanan Terhadap Muslim Austria

“Saya bisa duduk bersebelahan dengan laki-laki di mana saja. Bisa di kantor, di angkutan umum, di tempat kuliah, di berbagai kegiatan. Tetapi situasi itu berubah di masjid,” kata dia.

Pembagian tempat yang diskriminatif itu, kata dia, telah menempatkan haknya sebagai manusia pada tataran yang sangat rendah. Akibat dari aturan seperti ini, ia sering merasa bahwa kebebasan beragamanya menjadi terganggu karena ia sama sekali tidak bisa menikmati suasana ibadah dengan baik.

“Terkadang saya tidak bisa menemukan tempat untuk salat dan tidak menikmati suasana masjid. Tidak seperti kaum pria, saya tidak bisa merasakan semangat beribadat berjamaah,” ujar Eslem.

Gerakan Perempuan di Istanbul Ini Disambut Positif

Munculnya Gerakan “Perempuan di Masjid” yang dilakukan sejumlah perempuan di Istanbul ini dinilai sebagai sebuah upaya mereformasi segala macam aturan keagamaan yang masih sangat konservatif.

Gerakan ini dianggap sebagai bagian dari gerakan feminisme yang berusaha mengangkat posisi perempuan dalam segala bidang kehidupan termasuk agama. Kredo utama dari gerakan ini ialah perempuan memiliki status dan kedudukan yang sama dengan laki-laki, yakni sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama-sama luhur.

Sebagai implikasi dari hal ini, sebenarnya atas dasar dalil apapun, tidak ada upaya bahwa perempuan mesti ditempatkan atau dikategorikan dalam subkelas tertentu, yakni di bawah kuasa laki-laki.

Karena itu, Gerakan “Perempuan di Masjid” sebagaimana dilakukan oleh perempuan Muslim di Turki ini mendapat apresia dan tanggapan positif dari berbagai kalangan.

Baca juga: Islam Jalan Tengah dan Keinginan Indonesia Untuk Negara Lain

Salah satu perempuan di Istanbul bernama Sena mengatakan, gerakan ini merupakan wujud dari bangkitnya kesadaran perempuan Muslim di tengah aturan kehidupan beragama yang cenderung melanggengkan status quo yang sebenarnya menyembunyikan hal-hal diskriminatif.

Ia berpandangan bahwa selama ini perempuan Muslim berada dalam dominasi laki-laki. Dominasi itu dilanggengkan lewat wacana-wacana sakral sebagai alat untuk melegitimasikannya.

Meski begitu, ia memang mengakui bahwa gerakan ini pasti akan mendapat perlawanan dan reaksi negatif dari sejumlah pihak. Sebab, gerakan ini dinilai cukup agresif karena berupaya menentang aturan yang sudah lama berlaku dan diterima secara sukarela.

Kekhawatiran Sena itu ternyata benar adanya. Gerakan ini memang mendapat perlawanan dari banyak pihak, salah satunya datang dari kolumnis pro pemerintah bernama Hilal Kaplan. “Saya tak paham mengapa ada yang memprotes hal itu,” kata Hilal Kaplan.

Penolakan Hilal Kaplan ini didasarkan pada pandangan bahwa perempuan sudah seharusnya menyadari bahwa mereka memilikki hak untuk ‘melihat tanpa terlihat’. Hak ini bagi dia justru membuat perempuan ‘lebih berkuasa’ dibandingkan dengan laki-laki. “Menjadi berdaya dan berkuasa itu adalah menjadi subyek, bukan menjadi obyek,” ujar dia.*

COMMENTS