Penjara Tanpa Sipir dan Kasih Sekelompok Umat Katolik

Penjara Tanpa Sipir dan Kasih Sekelompok Umat Katolik

Di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi di penjara Brazil, sistem yang diterapkan Apac diakui menciptakan penjara tanpa sipir yang lebih aman, lebih murah dan lebih lebih mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan. (Foto: Tatiane dan temannya Viviane, napi di Penjara Apac - BBC)

BRAZIL, dawainusa.com Pada umumnya penjara identik dengan petugas sipir yang berjaga dengan dilengkapi senjata. Namun,  penjara di sebuah kota di Brasil ini sangat berbeda sama sekali. Tak seperti penjara lainnya, keberadaan penjara yang dikelola Asosiasi Perlindungan dan Bantuan untuk Narapidana (Apac)  itu tidak memiliki satu pun penjaga.

Berdasarkan catatan World Prison Brief (WPB), Brazil memiliki jumlah penjara terbesar keempat di dunia.  Penjara-penjara tersebut seringkali menjadi sorotan lantaran kondisinya yang buruk, kelebihan napi dan kekerasan antar geng yang menyulut kerusuhan dan banyak menewaskan penjaga maupun napi.

Dilansir BBC, seorang perempuan bernama Tatiane Correia de Lima menceritakan kisahnya ketika pertama kali ia mendekap di balik penjara Apac.  Ibu dua anak itu mengaku tidak mengenali dirinya sendiri ketika pertama kali menghuni sel barunya itu.

Baca juga: Mengenal Mugabe, Sang Marxis Besutan Jesuit yang Dikudeta

“Aneh rasanya bisa melihat diri saya lagi di cermin. Awalnya saya tidak tahu siapa saya,” tutur perempuan berusia 26 tahun yang menjalani hukuman 12 tahun di Brasil.

Tidak seperti penjara-penjara lain umumnya, di penjara Apac, ruang privat perempuan sangat dihargai. Kebebasan mereka pun menjadi prioritas. Menurut Lima, di penjara Apac ia diizinkan untuk mengenakan pakaiannya sendiri dan memiliki cermin, merias diri dan mewarnai rambut. Meski demikian, perbedaan aturan di sana dengan di penjara lain jauh lebih dalam lagi .

Penjara Tanpa Sipir

Di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi di penjara Brazil, sistem yang diterapkan Apac diakui menciptakan penjara yang lebih aman, lebih murah dan lebih lebih mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan.

Yang menarik adalah, filosofi yang dihidupi Apac ialah bekerja keras dan belajar tekun. Semua narapidana Apac harus sudah pernah ditahan di LP biasa harus mampu menunjukkan penyesalan dan bersedia mengikuti ketentuan yang menjadi  filosofi sistem Apac.

Baca juga: Islam Jalan Tengah dan Keinginan Indonesia Untuk Negara Lain

Di penjara ini, tanpa penjagaan sipir dan petugas bersenjata, para pengunjung hanya disambut oleh seorang narapidana yang membuka pintu utama penjara yang kemudian membawanya ke sel para perempuan.

Narapidana tersebut akan membawa ke “ruangan intim suami-istri”, sebuah ruangan berdekorasi cerah dengan ranjang besar. Di sana para napi perempuan diizinkan menghabiskan waktu intim dengan pasangan masing-masing yang datang membesuk.

Didirikan Atas Dasar Kasih

Penjara Apac didirikan pada tahun 1972 oleh sekelompok umat Katolik. Saat ini, penjara Apac mendapat sokongan dari lembaga non-pemerintah Italia yakni AVSI Foundation dan Persaudaraan Pendukung Narapidana.

Didirikannya penjara tersebut merujuk pada ajaran kasih, yang menjadi ajaran sentral umat Katolik. Hal tersebut kembali ditegaskan Wakil presiden AVSI Brasil, Jacopo Sabatiello. Ia  mengatakan, mereka memprioritaskan kasih dan kerja di lembaga pemasyarakatan ini.

Baca juga: Paus Fransiskus Soal Kesepakatan Denuklirisasi Semenanjung Korea

“Di sini, kami memanggil semua orang dengan nama mereka, bukan dengan nomor dan bukan dengan nama julukan, yang mungkin disematkan pada mereka selama kehidupan mereka di dunia hitam,” katanya.

Keberdaan para narapidana bukanlah penjahat yang kehidupannya tidak bisa dirubah. Namun, dengan menyematkan predikat recuperandos (orang-orang yang bertobat) kepada narapidana, Penjara Apac hendak mempromosikan optimisme perubahan diri para napi.

Dengan mengedapankan rehabilitasi dan keadilan restoratif, para narapidana harus belajar dan bekerja, terkadang bekerja sama dengan masyarakat setempat. Jika mereka mencoba melarikan diri, mereka berisiko dikembalikan ke lembaga pemasyarakatan biasa.

Menurut pengakuan Jacopo Sabatiello, ketiadaan sipir telah mengurangi ketegangan di balik penjara. Beberapa perempuan napi di sana menjalani hukuman seumur hidup untuk kejahatan keji namun suasana di sana bisa tenang.

“Saya masih berusaha melupakan nomor tahanan saya yang lama,” kata Aguimara Patricia Silvia Campos, napi yang mengepalai dewan penjara yang merupakan penghubung dengan pengelola.

Campos menjalani penjara empat bulan di LP biasa setelah ditangkap karena perdagangan narkoba dan menyimpan 26 gram kokain di rumah yang ia tempati bersama mantan suaminya.

“Di sana kami semua digabung dalam satu ruangan, ada 20 narapidana tidur di lantai beralaskan kasur kotor, dan makanannya tidak bisa disantap,” katanya.

Ia mengatakan semua kerabatnya digeledah setiap kunjungan ke tahanan, praktik ini banyak dikeluhkan para napi perempuan.

Kurangi Hukuman dengan Bekerja dan Belajar

Situasi yang dialami Campos juga mencerminkan masalah yang lebih luas dalam sistem penjara Brasil. Para pakar mengatakan kalangan perempuan sering terjebak dalam kejahatan oleh pasangan prianya dan kemudian dijebloskan ke dalam sel yang diisi para pelaku kejahatan yang lebih keji.

Ini adalah salah satu penyebab jumlah penjara perempuan di Brasil mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Antara Paus dan el-Tayeb, Tak Seharusnya Setetes Darah Tertumpah

“Saya tidak tahu apa-apa tentang kejahatan ketika saya dijebloskan ke penjara itu. Perempuan yang satu ruangan dengan saya memenggal kepala tetangganya dan membawanya dalam koper,” kata Campos.

Ibu dua anak itu melakukan pekerjaan di dalam penjara agar hukuman delapan tahunnya bisa dikurangi. Mengurangi hukuman dengan cara bekerja dan belajar juga diperbolehkan di lembaga pemasyarakatan biasa tetapi jarang diterapkan.

“Saya tidak ragu bahwa Apacs adalah cara yang efektif untuk menjamin hak asasi narapidana dalam sistem lembaga pemasyarakatan di Brasil,” kata Hakim Antonio de Carvalho, yang mendukung sistem Apac di Itaúna.*

COMMENTS