Pemprov NTT Dorong Kerja Sama Pentas Seni kepada Dua Negara Ini

Pemprov NTT Dorong Kerja Sama Pentas Seni kepada Dua Negara Ini

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Marianus Ardu Jelamu mengungkapkan, Pemerintah Provinsi NTT telah mendorong kerja sama pentas seni antar tiga negara, yakni Indonesia, Timor Leste, dan Australia. (Foto: Tarian Caci manggarai - ist)

KUPANG, dawainusa.com Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Marianus Ardu Jelamu mengungkapkan, Pemerintah Provinsi NTT (Pemprov NTT) telah mendorong kerja sama pentas seni antar tiga negara, yakni Indonesia, Timor Leste, dan Australia.

Hal itu dilakukan dalam pertemuan trilateral yang diselenggarakan di Labuan Bajo, Manggarai Barat sejak 11-13 April oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Di bidang promosi pariwisata, kami mendorong dan mengusulkan adanya kerja sama pentas seni dan budaya antarnegara dengan Timor Leste dan Australia,” ungkap Marianus sepeti diberitakan Antara, Kamis (12/4).

Baca juga: Kaya Akan Potensi Alam, NTT Akan Bangun Kampung Cokelat

Menurut Marianus, dorongan untuk menciptakan kerja sama dalam bidang pentas seni itu sangat potensial mengingat keberadaan dari daerah kepulauan itu sangat strategis, yakni berbatasan langsung dengan Timor Leste dengan Australia.

“Jadi NTT bisa pergi mementaskan seni budayanya di Dili, Timor Leste maupun di Darwin atau kota-kota lainnya di Australia, begitu juga sebaliknya,” tutur Marianus.

Usulkan Konektivitas Udara

Untuk itu, Marianus juga mengatakan, dalam pertemuan tersebut, juga dibahas tentang pembukaan konektivitas udara baik penerbangan dari Darwin (Australia) menuju Kupang, maupun dari Darwin menuju Labuan Bajo.

Marianus mengatakan, hal itu dilakukan untuk memaksimalkan pengembangan sektor pariwisata seperti promosi seni tersebut. Ia menerangkan, usulan tersebut dilakukan setelah dibukanya penerbangan dari Dili (Timor Leste) menuju Kupang dan sebaliknya, termasuk juga konektivitas darat dari Kupang ke Dili.

Baca juga: Pemprov NTT Tawarkan Peluang Investasi di Bidang Kelautan kepada Tiga Negara

“Selama ini konektivitasnya hanya dari Australia ke Bali, Jakarta, di sisi lain NTT berbatasan secara langsung sehingga kami ingin dibuka juga penerbangan dari salah satu kota di Australia langsung menuju Kupang atau Labuan Bajo dan sebaliknya,” jelas Marianus.

Lebih lanjut, Marianus mengatakan, usulan lain juga ialah soal kerja sama terkait pergerakan kapal pesiar (cruise) dunia yang masuk ke Australia. “Selama ini ini pergerakan cruise-cruise dunia juga singgah di Australia sehingga memungkinkan untuk masuk ke Indonesia baik melalui Benoa, Bali maupun Labuan Bajo,” tutur Marianus.

Selain itu, Marianus juga menambahkan pemerintah juga mengusulkan kerja sama antaragen travel di tiga negara tersebut. Hal itu dilakukan untuk memperlancar layanan arus wisatawan mancanegara.

Sebelumnya, dalam kesempatan rapat yang digagas oleh Kadin NTT di Kupang beberapa waktu lalu dan dihadiri oleh delegasi dari tiga negara tersebut di atas, seorang senator asal Australia meminta dan mendorong pemerintah Indonesia untuk memberikan kesempatan kepada maskapai yang ada di Darwin agar dapat melakukan akses penerbangan ke Kupang.

Tawarkan Peluang Investasi

Selain mendorong kerja sama dalam bidang yang disebutkan di atas, Pemerintah Provinsi NTT juga menawarkan peluang investasi dalam bidang kelautan kepada dua negara tersebut. Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT Ganef Wurgiyanto, dalam pertemuan trilaterial tersebut, potensi laut yang ditawarkan kepada dua negara tersebut ialah soal industri garam dan rumput laut.

“Harapan kami semoga ada tindak lanjut dari pertemuan ini berupa masuknya investasi untuk potensi hasil kelautan ini,” jelas Ganef seperti diberitakan Antara, Kamis (12/4).

Baca juga: KPU Soal Tempat Pelaksanaan Debat Kedua Pilgub NTT

Ganef menerangkan, potensi garam di NTT sangat besar, yakni mencapai 60.000 hektare lebih. Semua itu, jelas Ganef, tersebar di berbagai daerah di Provinsi Kepulauan itu. Pemerintah pusat dan daerah, jelas Ganef, juga telah mendorong untuk pengembangan potensi tersebut secara khusus garam industri dalam rangka swasembada garam nasional.

“Untuk itulah dibutuhkan investasi-investasi seperti saat ini yang sudah dikerjakan di Bipolo Kabupaten Kupang, dan di Kabupaten Nagekeo Pulau Flores,” tutur Ganef.

Sementara untuk potensi rumput laut, Ganef menjelaskan, jumlahnya mencapai 51.870 hektare. Semua itu tersebar di berbagai daerah di NTT seperti Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat.

Adapun jenis rumput laut yang dibudidayakan ialah Euchema Cottoni dan Gracilaria. Semua potensi tersebut, jelas Ganef, telah dipresentasikan dalam pertemuan trilateral yang berlangsung sejak 11-13 April tersebut.*

COMMENTS