Paus Fransiskus Soal Kesepakatan Denuklirisasi Semenanjung Korea

Paus Fransiskus Soal Kesepakatan Denuklirisasi Semenanjung Korea

Paus Fransiskus mengatakan, Kim dan Moon telah menunjukkan komitmen yang berani untuk menciptakan Semenanjung Korea yang bebas dari senjata nuklir. (Foto: Paus Fransiskus - ist)

VATICAN, dawainusa.com Pertemuan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un di Seoul, Jumat (27/4) lalu, berhasil mencapai kesepakatan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Sejumlah pihak memberikan apresiasi, salah satunya adalah Paus Fransiskus.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu memuji kesepakatan denuklirisasi sebagai langkah berani kedua pemimpin dalam menciptakan perdamaian di kawasan.

Pertemuan bersejarah antara Moon dan Kim Jong-un disebut mencapai keberhasilan menyusul janji Kim untuk menutup situs uji coba bom atom mereka pada bulan depan. Korea Utara juga berencana mengundang tim pemantau senjata dari Amerika Serikat.

Baca juga: Ancaman Nuklir Korut di Level Kritis, AS Makin Geram

Situs uji coba nuklir Korut terletak di wilayah pegunungan, Punggye-ri, yang selama ini menjadi saksi bisu peluncuran nuklir sejak 2006 silam. Punggye-ri dianggap sebagai fasilitas nuklir yang aktif di dunia.

Kendati berencana untuk ditutup, namun para ilmuwan berpendapat sebagian dari situs itu telah runtuh dan mungkin tidak digunakan. Sebagian besar informasi tentang keberadaan situs ini diambil dari citra satelit dan melacak pergerakan dari sejumlah peralatan di lokasi.

Dikutip dari Firstpost.com, Minggu (29/4), Paus Fransiskus mengatakan Kim dan Moon telah menunjukkan komitmen yang berani untuk menciptakan Semenanjung Korea yang bebas dari senjata nuklir. Dalam pidatonya di Peter Square, Vatikan, Paus Fransiskus berharap kerja sama kedua negara dapat terus berlanjut.

“Saya berdoa kepada Tuhan agar harapan masa depan perdamaian dan persahabatan persaudaraan tidak mengecewakan, dan bahwa kerjasama kedua negara dapat terus membuahkan hasil bagi orang Korea tercinta dan seluruh dunia” ujar Paus.

Denuklirisasi Semenanjung Korea

Kim Jong-un sepakat meneken Deklarasi Panmunjom usai bertemu Moon Jae-in di Seoul. Salah satu isi deklarasi itu menegaskan niat perlucutan senjata nuklir Pyongyang atau denuklirisasi Semenanjung Korea.

Selama ini Semenanjung Korea dihantui oleh ancaman perang nuklir lantaran Kim kerap melakukan uji coba senjata pemusnah massal.  Pertemuan dua pemimpin Korea dan kesepakatan denuklirisasi itu tak hanya mendatangkan harapan perdamaian, namun juga menjadi awal yang baik dalam mewujudkan reunifikasi Korea.

Baca juga: Donald Trump: Korea Utara Negara Sponsor Terorisme

Meski demikian, pertemuan bersejarah tersebut tak sepenuhnya mendapat respons positif. Sebagian warga Korea Selatan bahkan menggelar demonstrasi mengecam pertemuan itu dan mendesak Presiden Moon Jae-in mundur.

Sebagian besar pemrotes dilaporkan merupakan warga lanjut usia yang masih mengingat jelas kelamnya Perang Korea 1950-1953 lalu. Secara teknis, kedua negara sampai saat ini masih terlibat perang karena Perang Korea saat itu hanya berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Pada Januari lalu, seorang peneliti dari Institut Ilmu Sosial Korea Utara (Korut) memperingatkan bahwa perang nuklir terus mengintai Semenanjung Korea seperti bom waktu karena kehadiran militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Menurutnya, perundingan antar-Korea saat ini belum menurunkan ancaman perang nuklir di Semenanjung Korea.

AS, ujar dia, memainkan peran utama dalam meningkatkan potensi perang nuklir melalui kebijakan permusuhannya yang terus berlanjut terhadap Korea Utara.

”Apa yang (AS) inginkan sepanjang waktu bukanlah perdamaian dan stabilitas Semenanjung Korea, tapi ketidakstabilan situasi dan ketegangan militer yang menjengkelkan,” tulis Choe Song-ho. ”Situasi Semenanjung Korea masih parah meski arus dialog dan perdamaian seolah-olah mengalir.”

Beberapa Fakta Tentang Situs Uji Coba Nuklir Korut

Berikut beberapa fakta mengenai situs Punggye-ri seperti dilansir dari Straits Times dan AFP, Minggu (29/4):

Sistem terowongan

Situs ini terletak di pedalaman pegunungan di provinsi sebelah timur laut Korut, Hamgyong Utara, yang berbatasan dengan China. Dikelilingi oleh puncak-puncak yang curam dengan gunung granit yang tingginya lebih dari 2.000 meter. Situs tersebut menjadi tempat yang ideal untuk menahan kekuatan dari ledakan nuklor.

Uji coba nuklir dilakukan dalam sistem terowongan yang digali di bawah Gunung Mantap. Pengujian pertama dilakukan pada 9 Oktober 2006, berlanjut pada 25 Mei 2009. Berikutnya, uji coba nuklir digelar pada 2013, 2016, dan yang terbaru pada 3 September 2017.

Sebelum uji coba yang terakhir, citra satelit memperlihatkan situs tersebut berada dalam kondisi siaga sehingga mengindikasikan kesiapan untuk pengujian.

Alat pengujian dikubur di ujung terowongan yang berbentuk kait. Terowongan ditimbun untuk mencegah kebocoran radiasi ketika peledakan dilakukan. Citra satelit juga memperlihatkan pelambatan signifikan pada pembuatan terowongan dan operasi lainnya di situs itu. Hal ini dihubungkan dengan cairnya hubungan Korut dan Korsel.

Guncangan gempa

Uji coba nuklir yang pertama dianggap sebagai kegagalan dan menghasilkan ledakan sekitar satu kiloton, sementara pengujian terakhir mencapai 250 kiloton atau 16 lebih kuat dibanding bom atom Amerika Serikat yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.

Sekitar 8,5 menit setelah uji coba pada September lalu, para ahli menyebutkan telah terjadi keruntuhan di lokasi menuju pusat uji coba nuklir. Survei Geologi AS mencatat adanya peristiwa seismik sekitar 8 menit usai dilakukan uji coba.

Jepang melaporkan pada Oktober lalu, sebuah terowongan yang sedang di lokasi itu runtuh dan sebanyak 200 pekerja diperkirakan tewas.

Dekat dengan China

Uji coba nuklir yang terakhir berdampak di beberapa kota di China yang berbatasan dengan Korea Utara. Penduduk di sana merasakan guncangan akibat aktivitas seismik. Anak-anak sekolah menyelamatkan diri ke tempat terbuka di kota Yanji, sekitar 10 km dari perbatasan.

Selain itu, kota-kota di Korea Utara yang berada di dekat situs juga diyakini berisiko terkena dampak, seperti desa Punggye-ri dan kota Chongji yang berjarak 80 km dari situs uji coba. Namun, tidak diketahui apakah daerah berpenduduk tersebut dievakuasi atau diperingatkan terkait uji coba nuklir.

Risiko radiasi

Korut mengklaim tidak ada kebocoran radiasi dari uji coba nuklir yang terakhir. Di sisi lain, media Korsel dan Jepang melaporkan para pekerja di lokasi dan penduduk sekitarnya menderita dampak dari paparan radioaktif, termasuk kanker dan kelahiran bayi cacat.

Laporan itu berdasarkan para pembelot dan peneliti dari Korut. Kementerian Unifikasi Korsel melakukan pemeriksaan medis terhadap 30 pembelot yang berasal dari wilayah potensial terpapar radioaktif.

Hasilnya, empat dari mereka menunjukkan geajala terkait paparan radiasi. Namun, peneliti tidak dapat menyimpulkan masalah tersebut disebabkan uji coba nuklir.*

COMMENTS