Paskah di Monas, Mgr Suharyo: Sebaiknya Saya Tidak Bicara Tetangga

Paskah di Monas, Mgr Suharyo: Sebaiknya Saya Tidak Bicara Tetangga

Uskup Agaung Jakarta Mgr Iganatius Suharyo mengatakan, umat Katolik Jakarta tidak akan merayakan perayaan Paskah di Monas. Jika ada umat dari Gereja lain, selain Katolik, Mgr Suharyo mengaku tidak mempersoalkannya. (Foto: Mgr Suharyo saat mengadakan konferensi pers di Gereja Katedral - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Mgr Ignatius Suharyo, enggan berkomentar jauh soal perayaan Paskah yang dilangsungkan di lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat,  Minggu (1/4). Mgr Suharyo menuturkan, sebagai pemimpin Gereja Katolik Jakarta dirinya tidak perlu berkomentar tentang tentangga.

Menurut Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) itu, umat Katolik KAJ tidak akan merayakan perayaan Paskah semacam itu. Jika ada umat dari Gereja lain, selain Katolik, Mgr  Suharyo mengaku tidak mempersoalkannya.

“Sebaiknya saya tidak berbicara tentang tetangga. Yang jelas, umat Katolik tidak merayakan Paskah semacam itu (di Monas). Kalau gereja lain mau melakukan, ya, silakan,” ujar Mgr Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Minggu (1/4).

Baca juga: Kritik Uskup Agung Jakarta Soal Penggunaan Istilah ‘Tahun Politik’

Umat Katolik, tutur uskup asal Sedayu Yogyakarta itu, sulit untuk merayakan perayaan Paskah di ruang terbuka. Pasalnya, banyak simbol Paskah yang tidak bisa dihadirkan di ruang publik seperti  lapangan Monas, selain hanya di Gereja.

Suara Senada dari PGI soal Paskah di Monas

Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan tanggapan senada terhadap perayaan tersebut. Menurut PGI, mereka sejatinya tidak bisa melarang orang atau siapa pun yang bukan anggota PGI, untuk merayakan Paskah di Monas atau di ruang publik manapun.

Meskipun tidak melarang, PGI menganjurkan untuk merayakan Paskah di Gereja masing-masing. Hal ini demi menjaga kekhusukan dan kesederahanaan perayaan Paskah.

Baca juga: Uskup Timika: Hal-hal Sepele Jangan Diselesaikan Dengan Senjata Api

“Iya (menyarankan Paskah tak digelar di tempat terbuka seperti Monas). Tetapi, PGI tak bisa melarang. Bukan kewenangan PGI soal itu,” ujar  Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) PGI, Jeirry Summampow, Minggu (1/4).

Sehari sebelumnya, Sabtu (31/3), PGI telah memberikan tanggapan terkait rencana perayaan Paskah di Monas tersebut. PGI dalam pernyataan saat itu mengatakan, lapangan Monas sebagai ruang publik sebaiknya dihindari dari aktivitas yang memicu sentimen-sentimen SARA.

“Lapangan Monas sebagai ruang publik yang terbuka untuk semua dan sebaiknya dihindari dari penggunaan yang dapat memicu sentimen-sentimen agama, suku, dan ras. Sebagai ‘pekarangan depan’ Istana Negara, sangatlah tidak elok melakukan pengerahan massa di tempat tersebut untuk kepentingan kelompok agama, suku, dan ras tertentu,” tulis situs resmi PGI, Sabtu (31/3).

Tentang Perayaan Paskah 2018 di Monas

Sebelumnya, pada Minggu (1//4) pagi, Kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, dipadati umat Kristiani  dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang hendak merayakan Paskah. Sebuah panggung besar dibangun di salah satu sisi Monas.

Dekorasi yang apik, layar LCD berukuran besar, tata lampu yang semarak, hingga sound system yang baik membuat suasana Monas pagi itu berbeda. Sekitar pukul 04.00 lagu-lagu pujian didengungkan. Para umat larut dalam suasana penyembahan. Sejumlah penyanyi ditampilkan untuk mempersembahkan puji-pujian.

Baca juga: Jasa Rizieq dan Foto Anies di Sangkar Burung

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadir dalam acara ini. Tampak juga Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta Agustino Darmawan, Kabiro Dikmental Hendra Hidayat, serta Kepala Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD) DKI Jakarta Michael Rolandi berada di tenda tamu undangan perayaan Paskah.

Hadir juga Duta Besar Palestina Taher Ibrahim Muhammad, Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Joni Supriyanto, dan perwakilan Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Perayaan Paskah Tommy Sihotang menyampaikan, tak ada unsur politik dalam perayaan Paskah yang digelar di kawasan Monas.

“Tidak ada pesanan politik. Kami datang ke Pak Anies dan sampaikan, enggak ada kepentingan politik. Orang Kristen hanya ingin beribadah dan bersyukur Yesus sudah bangkit,” ujar Tommy.

Sementara itu, dalam sambutannya, Anies mengatakan, sekitar sebulan yang lalu ia menerima perwakilan Gereja GBI yang hendak meminta izin penggunaan Monas untuk merayakan Paskah.

“Pada waktu itu saya sampaikan monumen nasional adalah monumen kebangsaan milik semuanya. Seakan mengingatkan kita lapangan ini adalah lapangan yang digunakan untuk pertama kali rakyat Indonesia berkumpul sesudah kemerdekaan,” ujar mantan Mendikbud itu.*

 

COMMENTS