Partai Berkarya, Rebut Loyalis Orde Baru Tanpa Ideologi

Partai Berkarya, Rebut Loyalis Orde Baru Tanpa Ideologi

Sebagai penguasa yang berkuasa selama 32 tahun, kekuatan modal finansial Soeharto tak perlu diragukan lagi. Modal finansial tersebut ditambah pula dengan kekuatan bisnis yang dimiliki Tomy, membuat Partai Berkarya akan melejit cepat namun kehilangan ideologi. (Foto: Tomy Soeharto - ist)

FOKUS, dawainusa.com Beberapa waktu lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Partai Berkarya sebagai peserta Pemilu 2019 mendatang. Partai besutan anak mantan Presiden Soeharto, Tommy Suharto itu mengantongi nomor urut 7 dalam kontestasi Pemilu tahun depan.

Yang menarik adalah, pasca mendapatkan nomor urut 7, Tommy Soeharto sempat berkomentar bahwa angka tujuh adalah angka yang baik. Ia bahkan menyebut angka-angka sial telah diambil partai lain.

“Angka-angka sial telah diambil partai lain, sehingga kita dapat angka tujuh yang baik,” pungkas Tommy seperti diberitakan Tempo.co pada Januari lalu.

Bagi sebagian publik yang mengutuk rezim orde baru, kehadiran Partai Berkarya dilihat sebagai ancaman dalam demokrasi Indonesia pasca reformasi. Apalgi rezim kepemimpinan Soeharto diidentikkan dengan pemimpin yang anti demokrasi alias otoriter.

Baca juga: Kritik ke Megawati dan Pengakuan Tsamara Amany

Tak hanya itu, pada masa kepemimpinannya pula, sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di beberapa daerah belum terselesaikan. Masyarakat mulai cerdas dan mulai berfikir untuk beranjak ke masa depan dengan pola baru yang lebih demokratis.

Namun, bagi kalangan Soehartois, partai yang merupakan fusi dari dua partai politik, yakni Partai Beringin Karya dan Partai nasional Republik itu hadir sebagai ‘penawar rindu’, untuk kembali meletakkan spirit politik Orde Baru di abad demokratis saat ini.

Dalam konstelasi politik yang meramaikan Pemilu 2019, Partai Berkarya justru menjadi alternatif pilihan partai politik yang setidaknya bisa menjadi pegangan kaum militansi Soehartois tersebut.

Beberapa waktu lalu CNN Indonesia sempat mewawancarai Mantan Ketua Umum Partai Berkarya, Neneng Anjarwaty Tuti. Dalam pengakuan Neneng, spirit beridirinya partai tersebut adalah meneruskan perjuangan Soeharto berkarya di Indonesia.

Selain Neneng, pengakuan serupa datang dari Mantan Deputi V Penggalangan Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi Purwoprandjono. Muchdi mengaku, kehadirian Partai Berkarya salah satunya dilatarbelakangi nostalgia Orde Baru.

Bagi sosok yang pernah terlibat dalam kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia Munir Said Thalib itu, tidak ada masalah bagi Partai Berkarya untuk meniru semangat dan kesuksesan yang dicapai Soeharto pada masa silam.

“Salah satunya, ya begitu. Kita menilai keberhasilan Orde Baru Pak Harto dalam waktu 15 tahun. Perlu diingat juga, pada 1981 sudah jadi negara swasembada, menjadi Macam Asia, semangat itu yang ingin kita teladani,” katanya seperti diberitakan republika.co, Minggu (18/3).

Pengakuan Neneng dan Muchdi tersebut terkonfirmasi dalam pernyataan Tommy Soeharto ketika berpidato saat pembukaan Rapimnas Partai Berkarya pada Sabtu (10/3). Dalam pidatonya tersebut, Tommy secara tegas mengatakan bahwa munculnya Partai Berkarya yakni hendak mengusung semangat pembangunan Orde Baru.

“Kalau program yang terkait dengan ekonomi padat karya kelompok petani dan lainnya itu mungkin masih laku. Tapi kan mereka harus bisa membaca program-programnya dan disesuaikan tuntutan zaman,” katanya.

Rebut Loyalis Orba

Kehadiran Partai Berkarya yang hendak menghidupkan kembali nilai-nilai Orde Baru diakui pengamat politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun. Kepada CNN Indonesia, Ubedillah menilai, Partai Berkarya sedang melekatkan nilai-nilai Orde Baru untuk merebut dukungan para pendukung dan simpatisan Soeharto di Pemilu 2019.

Sama seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini telah berganti nama menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang berusaha menarik usara loyalis dan pendukung gagasan Soekarno untuk meraih dukungan bagi partai tersebut.

Baca juga: Didemo FPI, Apa Salah Tempo?

Ubedillah menjabarkan kemelekatan Partai Berkarya dengan Orde Baru untuk meraih simpati pemilih. Pertama, faktor pencitraan partai melalui modal kekuasaan simbolik yang memasang Tommy Soeharto sebagai representasi dari partai tersebut untuk meraih segmen pemilih loyalis Soeharto.

Kedua, Partai Berkarya berusaha mengidentikkan diri dengan Partai Golkar yang merupakan partai berkuasa selama Soeharto memimpin Indonesia 32 tahun. Apalagi dengan memakai warna yang serba kuning dan menggunakan logo pohon Beringin.

“Dengan cara itu mereka berharap bahwa loyalis Soeharto yang kecewa dengan Golkar itu akan beralih ke Partai Berkarya,” kata Ubedillah.

Ketiga, Partai Berkarya hendak menjaring loyalis Soeharto dengan menghidupkan kembali program yang pernah dicangakan Orba ke dalam rencana kerja parpol.

Di sini, terdapat trilogi pembangunan Orba menurut Ubedillah, yakni stabilitas nasional dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi dan pemerataan pembangunan. Ketiganya kata dia, hanya merupakanupaya pencitraan semata karena tak adaptif dengan perkembangan zaman.

Modal Finansial, Tanpa Ideologi

Sebagai penguasa yang berkuasa selama 32 tahun, kekuatan modal finansial Soeharto tak perlu diragukan lagi. Modal finansial tersebut ditambah pula dengan kekuatan bisnis yang dimiliki Tommy. Menurut Ubedillah, hal ini juga yang menyebabkan Berkarya berhasil memenuhi persyaratan sebagai peserta Pemilu 2019 oleh KPU.

Tommy merupakan pengusaha kakap dengan bendera PT Humpuss yang memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang usaha seperti properti, konstruksi dan eksplorasi minyak. Tak hanya itu, Tommy juga menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan mobil sport Italia Lmborghini.

Baca juga: Dari Slogan ‘Enak Zamanku Toh’ Hingga Ingin Adopsi Program Orba

Berdasarkan data Securities and Exchange Commission, Tommy juga memiliki saham di berbagai perusahaannya. Pada tahun 2016, nama Tommy Soeharto tercatat berada dalam daftar “150 Orang Terkaya Asia” yang dirilis The Globe Asia.

Ubedillah sendiri meyakini, Partai Berkarya sendiri sebetulnya kehilangan ideologi dan didominasi materi.

“Saya lihat kebanyakan Partai Berkarya itu tak punya ideologi tapi punya materi. Nah, mereka diberikan modal uang itu, jika patron partai masih bisa memastikan aliran dana bisa jalan samapai tahap bawah itu, saya pikir loyalitas tetap jalan,” katanya.*

COMMENTS