Nikolas Bunanek, TKI di Malaysia yang Menderita TBC  Akhirnya Meninggal

Nikolas Bunanek, TKI di Malaysia yang Menderita TBC  Akhirnya Meninggal

Nikolas Bunanek, TKI di Malaysia yang Menderita TBC  Akhirnya Meninggal. Nikolas Bunanaek menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum WZ  Johanes Kupang. (Foto: Jenazah Nikolas Bunanek - Kompas.com)

KUPANG, dawainusa.com – Narasi kelam terkait nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merantau di negeri Jiran Malaysia  belum ada habisnya. Satu demi satu para pejuang devisa itu pulang dengan peti mati atau pulang dengan memikul penyakit yang berujung maut.

Publik NTT kembali mendengar kabar duka. Seorang TKI asal provinsi termiskin ketiga di Indonesia itu, yakni Nikolas Bunanaek, dikabarkan meninggal karena TBC setelah merantau di negeri yang menjanjikan segepok ringgit Malaysia sejak tahun 2011 lalu.

Nikolas Bunanaek menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum WZ  Johanes Kupang, Senin (19/3). Ia dirawat di Rumah Sakit tersebut sejak 10 hari lalu, yakni pada Kamis (8/3).

Baca juga: Terlibat Kasus Narkoba, TKI Ilegal Asal Ende Ditahan Polisi Malaysia

Berita yang menyibak duka sekaligus kegeraman terhadap pemangku kebijakan di NTT khususya dan Indonesia umumnya ini disampaikan adik kandung pria 45 tahun tersebut, yaitu Enny Bunanek. “Kakak saya ini TBC (paru-paru). Dia dirawat selama 10 hari dari tanggal 8 Maret 2018 lalu,” ungkap Enny, di RS WZ Johanes Kupang, Senin (19/3).

Enny  menambahkan, jenasah kakaknya akan diberangkatkan ke kampung asal mereka yakni di Timor Tengah Selatan (TTS). Jenazah  diberangkatkan dengan menggunakan mobil jenazah dari BP3TKI Kupang.

Menurut laporan kompas.com, terlihat dalam pengantaran jenasah itu, anatara lain beberapa orang keluarga Nikolaus, Anggota DPRD Kabupaten TTS Ruba Banunaek, petugas dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang dan beberapa orang pengurus Rumah Pengharapan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

Tujuh Tahun di Malaysia dan Bawa Pulang TBC

Nikolas Bunanek mencari peruntungan di negeri Malaysia sejak 2011 lalu. Hal itu berarti pria asal TTS itu sudah tujuh tahun di negeri Jiran. Di negeri yang konon menjanjikan “susu dan madu” itu, Nikolas bekerja di perkebunan kelapa sawit Sibu di Tamoko.

Tak diketahui berapa “koper” ringgit yang didapatnya selama tujuh tahun itu. Tetapi kalau berkaca pada cerita-cerita TKI “yang sudah-sudah”, kadang pulang sama dengan pergi. Nasib tak banyak berubah. Paling pulang (kalaupun bisa pulang) dengan membawa peti mati atau membawa sakit dan penyakit yang berujung maut.

Baca juga: Selama 9 Tahun TKI Asal NTT ini Hilang Komunikasi dengan Ibunya

Demikian dengan cerita Nikolas Bunanek. Pada Januari lalu ia diserang TBC. Setelah mengidap penyakit tersebut, ia pun kembali ke Tanah Air melalui Pontianak. Menurut cerita Enny Bunanaek, kakaknya sempat dirawat di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

“Kakak saya sempat dirawat di Pontianak, dari tanggal 5-7 Maret 2018 kemarin. Selanjutnya dibawa ke NTT dan setelah tiba di Kupang pada 8 Maret, langsung dibawa ke rumah sakit,” jelas Enny.

Nyawa TKI NTT yang Nampak Murah di Malaysia

Cerita tentang putra dan putri NTT yang meninggal di perantauan luar negeri khususnya Malaysia bag cerita lumrah. Tidak ada Tahun bahkan bulan yang absen dengan berita kematian para TKI dari provinsi kepulauan itu. Nyawa TKI NTT seolah-olah nampak murah di Malaysia.

Lebih miris lagi, berita yang mencederai kemanusian itu kerap menjadi komoditas politik. Setiap pesta demokrasi lima tahunan di NTT, isu keberpihakan atau perhatian terhadap nasib TKI dijual untuk mendulang suara. Namun, semua janji itu menguap begitu saja tanpa realisasi. Setiap tahun  tetap ada cerita TKI NTT pulang dengan tak bernyawa.

Baca juga: Sebulan Tidur di Luar Rumah Bersama Anjing, TKI Asal NTT Ini Meninggal

Data Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kabupaten Kupang, sebagaimana dilaporkan migrantcare.net 18 Februari lalu,  mendokumentasi sebanyak 62 pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur meninggal dunia sepanjang tahun 2017. Keseluruhan kasus yang terdata adalah pekerja migran yang meninggal dengan negara penempatan Malaysia.

Dilihat dari data yang terhimpun, penyebab kematian pekerja migran asal NTT di Malaysia adalah karena sakit, dengan persentase 45.2 persen. Penyebab lain kematian pekerja migran asal NTT yang juga cukup besar adalah tragedi karamnya kapal yang ditumpangi puluhan pekerja migran pada Januari 2017.

 Dari data yang ada, tercatat 10 pekerja migran asal NTT yang teridentifikasi menjadi korban jiwa dalam tragedi tersebut. Ditinjau berdasarkan jenis kelamin, sebesar 66 persen adalah pekerja migran yang meninggal berjenis kelamin laki-laki. Sementara berdasarkan asal Kabupaten-nya, jumlah paling banyak adalah pekerja migran yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).*

COMMENTS