Moeldoko Bantah Aksi Teror Terjadi Karena Kecolongan Intelijen

Moeldoko Bantah Aksi Teror Terjadi Karena Kecolongan Intelijen

Gencarnya serangan teroris tersebut terjadi karena kelompok teroris itu 'ditekan' oleh aparat kepolisian (Foto: Moeldoko - NETZ.id)

JAKARTA, dawainusa.com – Kepala Staf Kepresiden Moeldoko membantah bahwa maraknya serangan teroris akhir-akhir ini disebabkan oleh kecolongan intelijen (BIN). Ia mengatakan, gencarnya serangan teroris tersebut terjadi karena kelompok teroris itu ‘ditekan’ oleh aparat kepolisian sehingga ada reaksi agresif dari pihak mereka.

“Enggak ada kecolongan, Memang karena kepolisian sedang menekan. Jadi ada reaksi. Sudah hukum alam seperti itu,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (16/5).

Aksi teror memang gencar terjadi belakangan ini di beberapa daerah di Indonesia. Misalnya serangan bom bunuh diri seperti yang terjadi di Jawa Timur, yakni di Surabaya dan Sidoarjo, Minggu (13/5) lalu. Saat itu, satu anggota keluarga nekat melakukan aksi teror dengan meledakan bom di rumah ibadah.

Baca juga: Mapolda Riau Diserang Teroris, Satu Anggota Polisi Meninggal Dunia

Ledakan pertama terjadi pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya, Minggu (13/5) lalu. Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Tidak berhenti di situ, pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom kembali terjadi di area rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam ledakan bom tersebut ada tiga orang terduga pelaku yang tewas, yakni Anton (47) beserta istrinya, Puspita Sari (47), dan anak pertamanya, LAR (17).

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia.

Serangan teroris juga kembali terjadi di Mapolda Riau hari ini, Rabu (16/5) pagi. Berdasarkan keterangan Kapolda Riau Irjen Nandang, serangan itu dilakukan oleh empat terduga teroris dan mengakibatkan 1 orang anggota polisi meninggal dunia. Semua pelaku berhasil ditembak mati oleh aparat.

Karena Kecolongan Intelijen

Maraknya serangang teroris ini menimbulkan berbagai macam tanggapan dari berbagai pihak. Salah satunya ialah datang dari Anggota Komisi I DPR Roy Suryo. Ia menilai gencarnya serangan teroris seperti peristiwa bom bunuh diri di Surabaya dan di beberapa tempat lainnya itu terjadi karena kecolongan intelijen negara (BIN). “Negara harus hadir melawan terorisme, jangan sampai kecolongan lagi seperti ini,” kata Roy di Jakarta, Senin (14/5).

Karean itu, Roy mendesak pihak intelijen agar lebih proaktif dalam menjalankan tugasnya sehingga kejadian teror yang berturut-turut terjadi selama sepekan ini tidak terjadi lagi. “Saya selaku Komisi I DPR mendesak agar intelijen lebih berperan dan aktif lagi,” tegas Roy.

Baca juga: Densus 88 dan Polda Sumsel Kembali Tangkap Dua Terduga Teroris

Menurut Roy, secara teknologi sebetulnya intelijen sudah mampu melakukan deteksi dini terhadap aksi teror. Jika deteksi dini dilakukan secara maksimal, dia yakin kejadian teror tidak akan terjadi lagi.

“Deteksi dini agar tidak semakin banyak korban lagi. Saya turut berduka atas korban-korban bom gereja di Surabaya,” tutur Roy.

Temukan Dalang Aksi Teror

Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak semua pihak untuk memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum untuk menemukan dalang aksi-aksi teror belakangan ini.

“Saat ini, saudara-saudara, jangan salah-menyalahkan, dan saya kira tidak perlu ada komentar-komentar yang tidak semestinya. Mari kita beri kesempatan kepada para aparat keamanan dan penegak hukum untuk mencari dan menemukan siapa perancang, dalang dan penggerak dari serangan para teroris ini,” ujar SBY dalam video yang diunggah di laman Partai Demokrat, Minggu (13/5) malam.

Menurut SBY, sepekan terakhir adalah periode yang berat bagi bangsa Indonesia karena terjadi insiden kekerasan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok dan serangan teroris di Surabaya.

Baca juga: Indonesia Darurat Terorisme, Ini Perintah Presiden Joko Widodo

“Negara dalam menghadapi terorisme harus selalu waspada tidak boleh lengah. Peran aparat intelejen, kepolisian, komando teritori TNI amat penting,” ujar dia, yang juga Presiden RI ke-6 itu.

SBY pun mengutuk aksi-aksi para teroris yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban itu.”Aksi terorisme,apapun dalih dan atas nama apapun, tidak pernah dibenarkan. Oleh karena itu bangsa Indonesia harus bersatu melawan dan mengalahkan aksi terorisme tersebut,” ucapnya. ‎

Pemerintah dan aparat keamanan, lanjut SBY, mesti menjamin perlindungan terhadap warga negara Indonesia dan masyarakat semua agar bisa tinggal dan menjalankan ibadah dengan aman.*

COMMENTS