Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

Pada April lalu di Jakarta, tepat di momen Hari Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-18, Kopi Arabika Manggarai mendapat sertifikat Indikasi Geografis (SIG) yang diserahkan lansung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. (Foto: Ilustrasi Kopi Manggarai - ist)

RUTENG, dawainusa.com – Rabu (30/5), di setiap sudut Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai terlihat beberapa baliho yang terpampang berisi ucapan selamat. Salah satunya di alun-alun Lapangan Motang Rua.

Pada baliho berbentuk persegi itu tertulis ucapan “Kami Pengusaha Manggarai mengucapkan selamat atas diterimanya sertifikasi Indikasi Geografis untuk Kopi Arabika Flores-Manggarai (SIG-KAFM) Tahun 2018.”

Ungkapan apresiasi dari para pengusaha ini dalam rangka menyambut Launching Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Manggarai yang digelar di Ruteng pada tanggal 30 Mei 2018 di bawah tajuk  “Mewujudkan Manggarai sebagai Surga Kopi Dunia”.

Baca juga: Mengenang Aleks Dhase: Sejarah, Hidup dan Karya

Kopi Arabika Manggarai Raih SIG

Pada April lalu di Jakarta, tepat di momen Hari Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-18, Kopi Arabika Manggarai mendapat sertifikat Indikasi Geografis (SIG) yang diserahkan lansung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Sertifikat Indonesia Geografis adalah sebuah sertifikasi yang dilindungi Undang-undang yang diberikan pada produk tertentu sesuai dengan lokasi geografis atau asal produk seperti kota, negara maupun wilayah.

Baca juga: Toto Kopi, Kisah Sang Barista di Balik Aroma Kopi yang Istimewa

Sebagian besar, produk yang disertifikasi adalah produk tradisional yang sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya. Tidak hanya itu, produk tersebut juga telah dijual ke pasar nasional maupun internasional.

Untuk Provinsi NTT sendiri, sertifikat serupa sebenarnya pernah diraih oleh Kabupaten Ngada dengan produk unggulan Kopi Arabika dan Kabupaten Alor dengan nama produk Vanili Kepulauan Alor.

SIG untuk Kesejahteraan Petani

Atas raihan yang dinobatkan SIG pada Kopi Arabika Manggarai ini, Bupati Deno Kamelus melalui Asisten Bidang Adminstrasi, Perekonomian dan Pembangunan, Ketut Suardika berharap SIG ini kedepannya bisa mendukung kesejahteraan petani kopi di daerah tersebut.

“Kita tidak mau SIG ini menjadi bahan tontonan saja. Ibarat lukisan, hanya sebatas mengaggumi namun tidak memproduksi lagi. Untuk kopi Arabika kedepan, kita harus mengedapnkan 3 K yaitu ketersediaan, kontinuitas, dan kualitas,” kata Ketut di Ruteng, Sabtu (26/05).

Baca juga: Jerit Hati dan Penyesalan Keluarga Melepas Kepergian Fredy

Senada dengan Ketut, Yoseph Sudarso dari LSM Ayo Indonesia menegaskan, selain memanfaatkan SIG, penjualan kopi Arabika kedepan bisa dengan memanfaatkan Sertifikat Fair Trade karena berdampak pada pendapatan petani.

“Dengan Sertifikat Fair Trade, Asosiasi petani Kopi Manggarai (ASNIKOM) akan ada kesepakatan kuota harga di tingkat buyer (pembeli.red). Kopi yang sudah dijual premium setiap kilonya lalu diberikan kepada ASNIKOM dan selanjutnya dibagi kepada petani,” kata Sudarso.

Geliat Kopi Manggarai di Pasar dan Harapan Petani

Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT Yohanis Tay Ruba mengatakan, minat masyarakat terhadap kopi Arabika Manggarai dalam Intelectual Property Expo 2018 yang bersamaan dengan penyerahan SIG untuk Kopi Manggarai saat itu sangat tinggi.

Respon Pengunjung atas Kopi Manggarai sangat tinggi, ada yang lansung kontak bisnis dengan pelaku usaha dan pemilik kafe di Jakarta,” kata Yohanis di Kupang beberapa waktu lalu seperti dilansir Antara.

Baca juga: Mengangkat Potensi Kopi di Desa Wawowae – Ngada

Perolehan SIG untuk Kopi Arabika Manggarai ini memang belum bisa diukur pengaruhnya bagi kesejahteraan petani Kopi di daerah itu. Namun, harapan akan harga kopi yang semakin baik di pasar mulai bermunculan dari para petani, Yosep Simplisius salah satunya.

Ditemui Dawai Nusa di Langgo Kelurahan Carep, Ruteng, Rabu (30/5), Yosep berharap nasibnya sebagai petani kopi akan semakin membaik kedepan. Pria 54 tahun itu mengaku selama ini memanen 100 kilogram kopi dari kebun nya belum cukup memenuhi semua kebutuhan.

“Kalau dibandingkan dengan kebutuhan keluarga memang tidak sebanding dengan hasil panen. kebutuhan pendidikan anak, kebutuhan dalam rumah tidak cukup dengan hasil panen kopi,” kata Yosep.

Selama ini dia mengaku, dirinya menjual kopi kepada Asosisasi Petani Kopi Manggarai (ASNIKOM) dengan harga Rp.35 ribu setiap kilonya. Harga yang dibeli ASNIKOM,kata dia, lebih baik dibandingan ketika dia jual ke pengusaha hasil.

Dia berharap, dengan SIG yang diraih kopi Arabika Manggarai akan berdampak pada harga kopi dan kesejahteraan keluarganya. “Harapannya harga kedepan semakin membaik, kesejahteraan petani juga semakin baik,” katanya.* (Elvys Yunani)

COMMENTS