Meski Sudah Ganti Ketum, Elektabilitas Partai Golkar Tetap Stagnan

Meski Sudah Ganti Ketum, Elektabilitas Partai Golkar Tetap Stagnan

Berdasarkan surveri terbaru Charta Politika, elektabilitas Golkar pada Maret 2017 sebesar 12,1 persen, September 10,8 persen, dan Januari 2018 sebesar 13,2 persen. (Foto: Airlangga Hartarto - Okezone News)

JAKARTA, dawainusa.com Terpilihnya ketua umum baru Partai Golkar Airlangga Hartarto ternyata tidak berdampak pada naiknya elektabilitas partai. Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, sejauh ini tingkat elektabilitas partai beringin tersebut tetap mengalami stagnan.

“Kalau saya bilang Golkar berhasil bangkit, saya bohong sebagai peneliti. Golkar saat ini stagnan karena selisihnya saat ini masih dalam rentang margin of error,” kata Yunarto ketika hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Rakernas Partai Golkar di Jakarta, Jumat (23/3).

Berdasarkan surveri terbaru Charta Politika, demikian Yunarto, elektabilitas Golkar pada Maret 2017 sebesar 12,1 persen, September 10,8 persen, dan Januari 2018 sebesar 13,2 persen.

Baca juga: Mengaku Diminta Jokowi, Mungkinkah Fahri Hamzah Bergeser ke Golkar?

Dengan merujuk perolehan angka tersebut, jelas Yunarto, Golkar tidak pernah menunjukkan penurunan yang signifikan meski dihantam berbagai macam kasus korupsi, yakni salah satunya seperti yang dilakukan oleh mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto.

“Alasannya karena Golkar ini partai yang terbiasa menghadapi isu korupsi. Dulu Bang Akbar Tanjung pernah menghadapi isu korupsi juga tahun 2004, lalu kemudian bahkan tahun 1998 titik nadir Golkar,” tutur Yunarto.

Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa elektabilitas Golkar juga naik setelah Airlangga Hartato menjadi ketua umum partai menggantikan Novanto. Alasannya, kata Yunarto, karena Golkar tidak memiliki figur yang dapat mendongkrak elektoral partai seperti dalam partai lain, misalnya Prabowo Subianto di Gerindra, Megawati Soekarnoputri di PDIP, dan SBY di Demokrat.

“Golkar belum pernah mendapatkan tokoh yang bisa jadi dongkrak elektoral di pilpres dan itu menjadi tantangan berat ketika tahun depan pertama kalinya pilpres dan pileg akan digabung serentak,” jelas Yunarto.

Kombinasikan Tokoh yang Ada

Dengan memerhatikan perolehan elektabilitas tersebut, menurut Yunarto, Golkar harus bisa mengkombinasikan tokoh yang ada saat ini dengan manajemen partai yang baik. Sebab, demikian Yunarto, hanya dengan cara itu, masalah stagnansi elektabilitas Golkar tersebut dapat diatasi.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, direktur Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, sejauh ini Golkar masih berpotensi untuk menjadi partai tiga besar pemenang pemilu.

Baca juga: Golkar Mesti Pilih Ketua DPR di Luar Panitia Khusus Angket KPK

“Golkar peluang terbaiknya adalah menjadi nomor dua atau nomor tiga. Persaingannya hari ini Golkar melawan Gerindra,” kata Qodari.

Menurut Qodari, hal itu dapat terjadi karena di mata masyarakat, Golkar masih dipandang sebagai partai besar serta memiliki basis suara di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Karena itu, bagi Qodari, Golkar harus mampu memanfaatkan ceruk pemilih yang belum dapat menentukan pilihannya.

“Kalau bicara cara seperti ini harusnya partai Golkar yang paling siap karena jaringan dan strukturnya sudah ada,” tutur Qodari.

Banyak Kader Golkar yang Hengkang

Kasus korupsi yang menyeret mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto memang sangat berpengaruh bagi elektabilitas partai itu saat ini. Parahnya, dalam situasi seperti ini, sejumlah kader justru memilih untuk hengkang.

Sejauh ini sudah ada beberapa kader Golkar yang memutuskan untuk meninggalkan partai tersebut seperti Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo yang berpindah ke Partai NasDem. Selain itu, juga ada Priyono Budi Santoso yang dikabarkan masuk ke Partai Berkarya yang dibesut oleh Tommy Soeharto.

Baca juga: Sikapi Pansus Angket KPK, Golkar Siapkan Dua Skenario

Menanggapi hengkangnya berbagai kader tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie mengaku bangga. Ia bahkan sepenuhnya mendukung langkah para kadernya tersebut dan meminta mereka agar menggenjot kinerja partai barunya agar dapat sebanding dengan Golkar.

“Kita berbangga hati. Karena begitu banyak kader Golkar yang baik harus kita sumbangkan ke partai lain supaya partai lain sama baiknya dengan partai Golkar,” kata Aburizal di sela-sela Rakernas Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (22/2).

Selain itu, Aburizal juga mengklaim bahwa Golkar memang memiliki segudang kader berprestasi. Karena itu, ia pun rela apabila ada beberapa kadernya yang memutuskan untuk berpindah dan bekerja untuk partai lain.

“Karena di Golkar begitu banyak orang berprestasi. Dia (Golkar) harus menyumbang untuk partai lain. Kasihan kan kalau partai lain nggak punya kader,” tuturnya.*

COMMENTS