Menteri Susi: Indonesia Sumbang Sampah Laut Terbesar Kedua di Dunia

Menteri Susi: Indonesia Sumbang Sampah Laut Terbesar Kedua di Dunia

Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Di samping itu, hingga kini, masyarakat Indonesia juga masih belum memiliki pemahaman yang cukup tentang pentingnya menjaga laut dari kerusakan. (Foto: Kampanye laut Indonesia bebas sampah - Indeksberita.com).

JAKARTA, dawainusa.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Susi Pudjiastuti mengatakan, saat ini, Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Hal tersebut disampaikan Susi saat melakukan kunjungan kerja ke Papua, Selasa (20/3).

Susi menerangkan, keadaan laut Indonesia akan aman dan dapat menghasilkan ikan yang berkualitas dengan jumlah yang banyak.

Baca juga: Menteri Susi: Tidak Akan Takut Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal

Namun, ungkap dia, hal itu akan terwujud apabila setiap orang mulai membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Kita mulai budaya, plastik tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi ke sungai atau ke lautan. Kita ini sudah menjadi negara kedua penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Nanti suatu hari jangan sampai lebih banyak plastik daripada ikan di laut kita,” ujar Susi.

Soal Sampah Laut dan Peran Mahasiswa 

Selain mengungkapkan hal tersebut, Susi juga meminta mahasiwa jurusan kelautan dan perikanan untuk memberikan pemahaman kepada para nelayan tentang pentingnya menjaga laut dari kerusakan, termasuk soal sampah laut.

Menurut Susi, pemahaman ini juga sangat penting untuk menopang kebijakan pemerintah yang memperketat keamanan laut Indonesia dari ancaman nelayan asing ilegal yang mencuri ikan di perairan laut Nusantara.

Sejauh ini, kata dia, sudah ada 10.000 kapal nelayan asing keluar dari perairan Indonesia. Tetapi, kendalanya, masih banyak nelayan Indonesia yang menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah terhadap lingkungan.

“Kasih tahu kawan-kawan, bapak-bapak, dan paman-paman kalian, enggak boleh lagi ngebom. Itu ikan kita habis, karang kita hancur,” tutur Susi.

Baca juga: Kata Susi Soal Larangan Luhut Tenggelamkan Kapal Asing

Menurut Susi, mahasiswa merupakan agen perubahan. Karena itu, peran penting mahasiswa untuk mendukung program pemerintah sangat signifikan.

Dalam hal ini, terangnya, mahasiswa harus aktif melakukan penyuluhan kepada nelayan terkait prinsip keberlanjutan dalam pengelolahan kelautan dan perikanan di Indonesia.

“Kata orang, kalau kita punya ilmu, tetapi enggak ditularkan, itu seperti pohon yang tidak berbuah. Kalian sudah dapat ilmu itu harus ditularkan kepada orang lain,” ungkap Susi.

Menteri Susi Tulis Buku

Keprihatinan Susi akan pentingnya menjaga kelestarian laut Indonesia ternyata tidak hanya sekedar dalam ceramah dan kebijakannya.

Ia juga telah menuliskan berbagai hal dalam bukunya sebagai cara lain untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat. Dengan menulis buku, ia yakin dapat mewarisi ikhtiar baiknya itu kepada generasi selanjutnya.

Adapun buku yang ditulis Susi itu berjudul “Laut Masa Depan bangsa”. Buku yang dibedah di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (28/2) tersebut menceritakan tentang perjalanan sektor kelautan Indonesia mulai dari sejarahnya hingga tantangan yang dihadapi oleh Indonesia.

Susi mengungkapkan, tujuan utama dari penulisan buku ini ialah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan laut masa depan.

“Ini adalah satu hal yang harus kita sosialisasikan, harus dimengerti masyarakat karena nantinya masyarakat yang akan jadi penjaga dan pemilik utama laut masa depan bangsa,” terang Susi.

Baca juga: Soal Penenggelaman Kapal, Fadli Zon dan Menteri Susi Saling Serang

Dengan ditulisnya buku tersebut, Susi berharap laut sebagai masa depan bangsa Indonesia tidak hanya menjadi slogan. Hal itu, kata dia, harus dibuktikan dengan keterlibatan atau partisipasi seluruh masyarakat.

Isi dari buku itu sendiri membahas banyak isu seperti penenggelaman kapal asing, pelarangan cantrang, serta bisnis perikanan di Indonesia.

Selain itu, Susi juga menegaskan, pemerintah selalu menjalankan tiga pilar utama dalam menjaga sektor kelautan dan perikanan, yakni pilar kedaulatan, pilar keberlanjutan dan pilar kesejahteraan.

“Buku ini sebenarnya buku simpel, yang saya buat setipis mungkin, sesedikit mungkin, dan yang prinsip-prinsip sajalah. Karena memang itu yang ingin saya buat supaya buku Laut Masa Depan Bangsa menjadi yang gampang ditenteng, gampang dibaca dan akhirnya dimengerti kita semua,” tutup Susi.*

COMMENTS