Mengenang Aleks Dhase: Sejarah, Hidup dan Karya

Mengenang Aleks Dhase: Sejarah, Hidup dan Karya

Setiba di Ruteng, Aleks Dhase memulai perjalanan hidupnya menjadi penjaga kandang sapi perah milik para missionaris SVD di kota itu. Hari-harinya dihabiskan mencari rumput dan juga memerah susu sapi. (Foto: Alm. Aleks Dhase - ist)

PROFIL, dawainusa.com Siang itu, Jumat (25/5), awan hitam menyelimuti langit kota Ruteng. Aktivitas warga kota dingin itu pun sedikit terganggu. Di Jalan Pelita, beberapa meter dari gerbang timur Gereja Katedral, saya coba menghentikan kendaraan, lalu menepi pada sebuah rumah tua di pinggir jalan.

Rupanya, rumah tersebut menyimpan kisah perjalanan hidup sosok yang  sangat inspiratif. Dialah Sebastianus Amekae. Nama ini memang tak begitu akrab di telinga masyarakat Manggarai.

Sebab, setelah Sebastianus Amekae berpindah dari Nagekeo menuju Manggarai pada pertengahan 1967, pria kelahiran Jawakisa, Desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo 11 Maret 1994 ini, diubah namanya menjadi Alex Dhase.

Baca juga: Mengenal Marsdya Daryatmo, Sang Ketum Baru Hanura

Ada yang menarik dari kisah perubahan namanya itu. Ia dibaptis dengan nama Aleks Dhase berawal dari kebutuhan ijazah yang harus dibawah serta ke tanah rantau. Amekae, yang tak mengantongi selembar pun ijazah, akhirnya memboyong serta ijazah milik keluarga sekampungnya yang bernama Aleks Dhase.

Aleks Dhase sendiri sebenarnya seorang pria tamatan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Mbay yang kemudian menghabiskan sisa hidupnya menjadi petani di kampung.

Dengan memboyong serta ijazah atas nama Aleks Dhase ke Manggarai, semua adminstrasi perusahaan yang didirikan Amekae tercantum nama Aleks Dhase termasuk salah satunya adalah CV. Waepalo.

Motto

Moto Hidup Alm. Aleks Dhase (Foto: Elvys Yunani)

Berawal dari Menjaga Sapi Milik SVD

Dua tahun Gestapu 1965 berlalu, Aleks Dhase memulai merantau pada pertengahan 1967. Masa-masa itu tidaklah semudah seperti hari ini. Saat itu, butuh waktu dua minggu perjalanan dari Nagekeo menuju Manggarai. Selain karena kendaraan satu-satunya adalah Dum truck terbuka yang tak jarang mogok, kondisi jalan bebatuan juga menjadi hambatan.

“Waktu itu kendaraan tidak sebanyak sekarang, jalan rusak belum lagi mobil macet membuat perjalanan jadi lama, kadang harus jalan kaki berhari-hari,” kisah Damianus Kaju, keluarga Aleks Dhase yang ikut merantau sepuluh tahun setelahnya.

Baca juga: Rodrigo Duterte, Si Digong Perusak Demokrasi Asia Tenggara

Setiba di Ruteng, Dhase memulai perjalanan hidupnya menjadi penjaga kandang sapi perah milik para missionaris SVD di kota itu. Hari-harinya dihabiskan mencari rumput dan juga memerah susu sapi.

Ketekunannya menjadi pekerja di kandang sapi membuat dirinya makin dikenal di kalangan para Misionaris Katolik. Setelah lama mengabdi sebagai penjaga kandang, dia selanjutnya menjadi pekerja di susteran SSPS dan bertanggung jawab mejaga gudang logistik di sana.

Di rantauan, Dhase juga menemukan tulang rusuknya. Pada era 70-an, ia mempersunting gadis berdarah Manggarai-Maumere bernama Elisabeth Lisa. Dari pernikahannya dengan Elisabeth, dikaruniai lima orang anak, 3 orang anak laki-laki, dan 2 lainnya adalah perempuan.

Jalan kesuksesan mulai terbuka buat Dhase saat mengabdikan diri di susteran SSPS itu. Pada paruh kedua tahun 80-an, tawaran pekerjaan jasa konstruksi dari sebuah perusahaan diterimanya.

“Awalnya, kami dapat proyek gedung sekolah di SDI Inpres Nanga Lanang, proyek itu seharusnyab dikerjakan oleh watu pongkor. Mereka tidak sanggup karena akses ke sana susah, harus lewat kali tanpa jembatan. Akhirnya kaka Aleks ambil, kami kerja 3 ruangan sekolah,” kata Abraham Dawe, mantan karyawan CV. Waepalo saat disambangi Dawai Nusa.

Menurut Abraham, kesuksesan bisnis Dhase mulai dirintis kala itu. Tawaran pekerjaan konstruksi semakin banyak dan menuntun lahirnya CV. Waepalo yang dipimpin lansung Aleks Dhase.

Dia awam yang peduli pendidikan, dia hanya pekerja misi saat itu tapi biaya asrama bisa dijangkau semua pihak, dengan 1.500 rupiah dan beras 20 Kg setiap bulan kami sudah dapat fasilitas yang baik.

Pekerjakan Ratusan Karyawan

Era akhir 80-an, Dhase yang dikenal sebagai si penjaga kandang sapi telah menjelmah nasibnya menjadi seorang pengusaha dengan ratusan karyawan. Tawaran pekerjaan kian banyak. Kedekatan dengan Bupati Gaspar Parang Ehok salah satu faktor penunjangnya.

Kualitas pekerjaan dari CV.Waepalo yang sebagian besar karyawannya berpengalaman. Damianus Kaju menggambarkan situasi-situasi kejayaann Cv.Waepalo dengan baik.

“Waktu itu jumlah karyawan semakin banyak, awalnya 50 an, kemudian ratusan karyawan kerja bersama CV. Waepalo, pekerja-pekerja itu datang dari berbagai kabupaten di Flores,” jelas Kaju, di kediamannya di Waepalo.

Baca juga: Mantan Legenda AC Milan Menangkan Pemilihan Presiden Liberia

Kemajuan CV. Waepalo selanjutnya menjadi awal dari lahirnya CV. Serviam. Serviam sendiri dinakhodai langsung oleh istri Aleks Dhase, Elisabeth Lisa. Tak hanya fokus pada usaha jasa konstruksi, perusahan-perusahan milik keluarga Dhase kini merambah ke usaha pertukangan dengan mendirikan bengkel kayu Serviam.

Bukan lagi penjaga kandang sapi atau pekerja logistik susteran SSPS, memasuki era 90-an, Dhase menjadi seorang pengusaha tersohor. Ia memiliki aset berupa rumah dan kendaraan serta properti dengan ratusan karyawan.

Kisah Damianus Kaju memang tidak menggambarkan nasib karyawan binaan Aleks Dhase selanjutnya. Menurut dia, kesuksesan karyawan yang pernah bekerja bersamanya tergantung ketekunan mereka masing-masing.

Peduli Pendidikan

Tahun 1983 menjadi kenangan manis yang terpatri di benak Paulus Peos. Peos, yang kini menjadi Wakil Ketua DPRD Manggarai itu menyimpan kisah sendiri seputar perjalanan hidup Aleks Dhase.

Kala itu, Peos adalah penghuni Asrama Putra Serviam milik keluarga Dhase. Di asrama tersebut, Peos menghabiskan masa-masa SMP nya dengan ratusan siswa lain. Saat itu asrama Serviam menjadi pilihan orang tua yang menyekolahkan anaknya di SMP Immaculata termasuk yang berasal dari Ruteng.

Baca juga: Mengenang Dolores, Pelantun Zombie yang Meninggal Tiba-Tiba

“Asrama Serviam waktu itu menampung anak asrama di SMP Immaculata, kami ada 100 orang di asrama Putra, sementara asrama putri nya di kompleks PLN, ada ratusan juga tinggal disana,” kata Peos di Ruang Kerjanya di Kompleks DPRD Manggarai.

Politisi PDIP Manggarai itu mengaku, saat di asrama Serviam proses pembinaan berjalan dengan baik. Dua pendidik dari Immaculata ditempatkan di sana untuk membimbing anak asrama.

“Yang membuat asrama Serviam berbeda adalah penempatan pendidik yang khusus membina kami. Setiap malam Minggu kami sering simulasi lomba cerdas cermat bersama anak-anak asrama putri,” kenang Peos.

Di mata dia, Aleks Dhase adalah sosok awam yang peduli pendidikan. Meski saat itu Dhase masih menjadi pekerja misi dia tetap peduli dengan pendidikan di Manggarai.

“Dia awam yang peduli pendidikan, dia hanya pekerja misi saat itu tapi biaya asrama bisa dijangkau semua pihak, dengan 1.500 rupiah dan beras 20 Kg setiap bulan kami sudah dapat fasilitas yang baik,” ujarnya.

Senada dengan Peos, Abraham Dawe mengaku menimba banyak pelajaran semasa mengabdi sebagai pekerja CV. Waepalo. “Dia kakak yang baik. Dia mengajar kami banyak hal khususnya kedisplinan, banyak hal yang saya timba dari beliau,” kenang Abraham.

Foto-foto Alm. Aleks Dhase

Foto-foto Alm. Aleks Dhase (Foto: Elvys Yunani)

Tutup Usia di Puncak Kejayaan

18 juli tahun 2000, tangisan pecah di Rumah Sakit St. Rafael Cancar. Pada usia 52 tahun sang pengusaha itu tutup usia. Pihak dokter saat itu mendiagnosa Dhase dengan penyakit gangguan hati.

“Bapa meninggal tahun 2000 di Cancar, waktu itu usianya 52 tahun. Dokter bilang ada tumor di bagian hati,” kata Johny Dhase, putra kedua Aleks Dhase.

Dhase meninggal dunia di tengah kejayaan usaha yang dia geluti semasa hidup. Semua aktivitas perusahaan kemudian dijalankan oleh istri dan anak-anaknya.

Baca juga: Hadi Tjahjanto: Anak Penjual Rujak, Panglima Pilihan Jokowi

Johny, yang kini menjaga rumah peninggalan ayahnya, mengaku CV. Waepalo sudah tidak lagi sesukses saat dikelola tangan dingin ayahnya. “Setelah tahun 2000 sudah tidak banyak pekerjaan,” jelasnya.

Di dalam dinding rumah keluarga Dhase, kini hanya tertinggal kenangan yang diabadikan dalam bentuk foto dan motto hidup Aleks Dhase. Kenangan-kenangan itu terpajang dalam bingkai yang sudah mulai usang.

Ya, Bapa… untuk Mereka aku ini Pelayan. Berikanlah yang terbaik kepada mereka. Ulurkan yang paling indah bagi yang meminta.

“Itu motto hidup Bapa selama ia hidupi,” kata Johny Dhase sambil mempersilahkan Dawai Nusa untuk mengambil gambar.* (Elvys Yunani)

COMMENTS