Mengenal Prajurit Gurkha, Pasukan Tangguh dari Pegunungan Nepal

Mengenal Prajurit Gurkha, Pasukan Tangguh dari Pegunungan Nepal

Seperti dilaporkan Reuters, para prajurit Gurkha dikerahkan untuk pengamanan lokasi pertemuan Kim dan Trump. Gurkha sebelumnya jarang ditemui di jalanan kota Singapura. Siapakah para pejuang Nepal yang menakutkan ini? (Foto: Prajurit Gurkha - Reuters)

FOKUS, dawainusa.com Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tiba di Singapura untuk melakukan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump, Selasa (12/06). Pertemuan bersejarah kedua pemimpin ini berlangsung di pulau Sentosa, Singapura.

Ini adalah pertama kalinya seorang pemimpin Korea Utara bertemu dengan presiden AS yang sama-sama masih menjabat. Untuk memastikan pertemuan tersebut berjalan lancar, polisi dan militer Singapura mengerahkan Pasukan Gurkha dari pegunungan Nepal.

Seperti dilaporkan Reuters, para prajurit Gurkha dikerahkan untuk pengamanan lokasi pertemuan Kim dan Trump. Gurkha sebelumnya jarang ditemui di jalanan kota Singapura. Siapakah para pejuang Nepal yang menakutkan ini?

Baca juga: Penutupan Tujuh Masjid dan Perlawanan Terhadap Muslim Austria

Prajurit Tangguh dari Nepal

Gurkha telah menjadi bagian integral dari Angkatan Darat Inggris selama hampir 200 tahun. Pasukan yang dikenal dengan ketangguhan dan kemampuan tempurnya yang luar biasa itu memiliki semboyan “Lebih Baik Mati daripada Menjadi Pengecut“. Semboyan pasukan Gurkha memiliki nilai historis yang kuat.

Salah satu keunikan yang dimiliki prajurit Gurkha adalah membawa senjata tradisional yakni pisau panjang  18-inch yang dikenal sebagai Kukri. Ada cerita yang menarik soal kukri di masa lalu. Konon, sekali kukri ditarik dalam sebuah pertempuran, ia harus “merasakan darah”.  Jika tidak, sang prajurit harus memotong dirinya sendiri sebelum mengembalikannya ke sarung.

Potensi ketangguhan para prajurit yang saat ini menjadi pasukan elit Singapura itu, pertama kali disadari oleh Inggris pada puncak pembangunan kerajaan Inggris. Bahkan, orang-orang Victoria mengidentifikasikan mereka sebagai “ras bela diri” yang memiliki kualitas ketangguhan luar biasa.

Baca juga: Perempuan di Istanbul Protes Pemisahan Area Pria-Wanita di Masjid

Merujuk pada sebuah perjanjian antara Nepal, India dan Inggris pada tahun 1947, empat resimen Gurkha dari tentara India dipindahkan ke Angkatan Darat Inggris, yang akhirnya menjadi Gurkha Brigade. Sejak saat itu, Gurkha telah dengan setia berjuang untuk Inggris di seluruh dunia.

Menurut John Parker dalam bukunya The Gurkhas: The Inside Story of the World’s Most Feared Soldiers (2005), sebanyak 200 ribu orang Gurkha telah berjuang dalam kemiliteran Inggris dan India. Termasuk dalam Perang Dunia I dan II, atau perang-perang lain yang melibatkan Inggris. Tentara Argentina disebut-sebut sangat berhati-hati jika bertemu pasukan Gurkha yang mereka anggap tangguh dan tak kenal ampun.

Dalam 50 tahun terakhir mereka telah melayani di Hong Kong, Malaysia, Kalimantan, Siprus, Falklands, Kosovo dan sekarang di Irak dan Afghanistan. Mereka melayani dalam berbagai perang, terutama di infanteri tetapi dengan sejumlah besar insinyur, ahli logistik dan spesialis sinyal.

Setelah kemerdekaan India, Gurkha tak hanya jadi bagian militer Inggris saja di luar Nepal, India pun juga punya. Belakangan, dalam kemiliteran Inggris, pasukan dari Resimen Gurkha, yang kini masih mereka miliki, diberdayakan dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Mereka terlibat dalam operasi di negara-negara Balkan, Timor Leste, Sierra Leone, Afganistan dan Iraq.

Meski dianggap sebagai tentara tangguh dan pemberani, dalam situasi damai, orang-orang gunung ini adalah orang yang ramah. “Gurkha memperoleh pujian tinggi karena ketenangan, efisien dan pembawaan bersahabat bagi kedua belah dua pihak. Kehadiran mereka di Syprus, membantu menenangkan situasi yang sangat berbahaya,” tulis E.D Smith dalam Britain’s Brigade of Gurkhas (1985).

Selain Nepal, Inggris dan India, yang menjadikan orang-orang Gurkha sebagai tentara, maka Singapura juga memberdayakan orang-orang Gurkha sebagai bagian dari kepolisian Singapura sejak 1949. Singapura punya Gurkha Contingent, sebuah pasukan paramiliter yang mirip Brigade Mobil (Brimob) di Indonesia.

Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew begitu takjub pada orang-orang gunung ini. Lee takjub ketika Singapura dalam kerusuhan etnis, di mana polisi dari etnis Melayu menyerang orang-orang Tionghoa dan sebaliknya polisi etnis Tionghoa menyerang orang-orang Melayu.

“Gurkha di sisi lain, netral, selain memiliki reputasi penuh disiplin dan setia,” aku Lee dalam autobiografinya, The Singapore Story: Memoirs of Lee Kuan Yew (1998).

Selain Singapura yang mantan jajahan Inggris, Indonesia yang jadi medan Perang Dunia II juga jadi daerah yang didatangi pasukan Gurkha. Tentu saja pasukan Gurkha yang datang pada 1945 itu jadi bagian dari Militer Inggris yang hendak melucuti tentara Jepang yang kalah perang.

Gurkha dan Ketaatan terhadap Tradisi

Nama “Gurkha” berasal dari kota bukit Gorkha dari mana kerajaan Nepal telah berkembang. Pangkat selalu didominasi oleh empat kelompok etnis diantaranya; Gurungs dan Magar dari Nepal tengah, Rais dan Limbus dari timur, yang tinggal di desa-desa petani bukit yang miskin.

Keempat kelompok etnis tersebut sangat menghormati dan menjaga adat istiadat dan kepercayaan Nepal. Mereka juga sering mengikuti festival keagamaan seperti Dashain. Festival Dashain merupakan salah satu upacara yang diyakini masyarakat Nepal untuk menghormati kemenangan para Dewa atas kekuatan jahat.

Dalam Who are the Gurkhas seperti yang dicatat BBC, jumlah prajurit Gurkha saat ini telah mengalami penurunan khusunya pada puncak Perang Dunia II, yakni dari 112.000 orang menjadi sekitar 3.500 orang saat ini. Selama dua perang dunia, 43.000 orang kehilangan nyawa mereka.

Baca juga: Mengenal Mugabe, Sang Marxis Besutan Jesuit yang Dikudeta

Gurkha sekarang berbasis di Shorncliffe dekat Folkestone, Kent. Namun,  pasukan ini tidak menjadi warga negara Inggris. Para prajurit masih dipilih dari para pemuda yang tinggal di perbukitan Nepal  dengan sekitar 28.000 pemuda. Mereka harus melewati seleksi yang begitu ketat.

Proses seleksi telah digambarkan sebagai salah satu yang paling sulit di dunia dan diperebutkan dengan sengit. BBC menggambarkan, para prajurit ini berjalan menanjak selama 40 menit dengan membawa keranjang anyaman di punggung mereka yang diisi dengan batu seberat 70lbs.

Ketangguhan para prajurit Gurkha juga diakui Sejarahwan Tony Gould, dalam bukunya yang berjudul Imperial Warriors: Britain and the Gurkhas.  Tony, yang pernah tinggal dengan batalion Gurkha selama 10 minggu di Afghanistan mengatakan, Gurkha telah membawa kombinasi kualitas yang sangat baik dari sudut pandang militer.

“Mereka tangguh, mereka berani, mereka tahan lama, mereka setuju untuk disiplin. Mereka memiliki kualitas lain yang dapat Anda katakan beberapa resimen Inggris di masa lalu, tetapi diragukan bahwa mereka memiliki sekarang, itu adalah tradisi keluarga yang kuat”.

Secara historis, Gurkha yang telah melayani waktu mereka di Angkatan Darat maksimal 30 tahun, dan minimal 15 untuk mendapatkan pensiun lalu dipulangkan kembali ke Nepal.*

COMMENTS