Mengenal Felix Ahas, Perintis Bandung Utama Group di Manggarai

Mengenal Felix Ahas, Perintis Bandung Utama Group di Manggarai

Di balik kesuksesan pria kelahiran Wakal-Cibal, 3 Juni 1972 ini, jalan panjang perjalanan hidup sedih nan getir harus ia lalui sejak kecil hingga ia mencapai kesuksesannya sekarang. (Foto: Felix Ahas - ist)

PROFIL, dawainusa.com Pria yang satu ini memang masih kurang dikenal oleh khalayak di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tapi siapa sangka pria bernama lengkap Felix Musa Ahas ini adalah perintis salah satu grup bisnis ritel terkenal di Manggarai yang diberi nama Bandung Utama Grup.

Felix, begitu ia akrab disapa, saat ini sudah memiliki 8 unit mini market yang tersebar di seluruh pelosok Manggarai dengan mempekerjakan kurang lebih 80 karyawan.

Di balik kesuksesan pria kelahiran Wakal-Cibal, 3 Juni 1972 ini, jalan panjang perjalanan hidup sedih nan getir harus ia lalui sejak kecil hingga ia mencapai kesuksesannya sekarang.

Minimarket Bandung Utama Group

Baca juga: Liberika Manggarai, Varian yang Lenyap dari ‘Kosakopi’

Masa Kecil Penuh Derita

Masa-masa sulit mulai dialami Felix saat memasuki usia 5 tahun atau jelang dirinya hendak menjadi siswa sekolah Dasar (SD). Felix kecil didera penyakit gangguan pendengaran atau tuli.

Rasa sakit yang ia alami membuatnya diasingkan dari pergaulan. Tak hanya itu, rekan sebaya Felix juga sering mengolok dan menghina dia di sekolah. Aksi kekerasan pun sering ia terima dari teman-temannya.

Baca juga: Hanafi dan Goenawan Mohamad dalam Kolaborasi 57×76

Atas apa yang dialaminya itu, dia memilih untuk tidak bersekolah. Sekolah bagi Felix saat itu bukan tempat yang nyaman. Impiannya bisa menimba ilmu dari guru seperti teman-teman lain tak ia dapatkan, yang ada malah ia terus tersisihkan dari pergaulan dan diolok teman-temannya.

Niat Felix untuk tidak sekolah dihalangi oleh ibunya. Dengan berbagai cara sang ibu terus membujuk Felix serta menemui kepala sekolah dan meminta anaknya boleh mendapat ilmu seperti teman sebayanya.

“Masuk SD di tolak 2 kali, beruntung orang tua tetap memaksa untuk masuk sekolah, 2 kali ibu saya menghadap kepala sekolah berharap agar saya bisa di terima,” kisah Felix.

Ambisi sang bunda menyekolahkan Felix kecil ia tunaikan dengan terus mendatangi kepala sekolah. Berbagai cara termasuk dengan cara adat pun sang ibu lakukan yang terpenting Felix bisa nyaman di sekolah.

“Ibu saat itu sering bertemu kepala sekolah bahkan dengan tata cara adat (kepok tuak dan ayam) agar saya boleh duduk paling depan dekat meja guru,” kenangnya.

Permintaan agar Felix duduk paling depan dan berhadapan lansung dengan meja guru bukan tanpa alasan. Konon, dikelas dia sering di-bully dan dihina sehingga tidak bisa konsentrasi mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Saya tersisihkan karna kondisi saya yang nyaris tidak punya teman. Saya diolok-olok tuli bau,” kisahnya.

Masa-masa SD menjadi masa pahit yang terpatri dalam benak Felix. Kisah pahit saat SD kembali ia alami saat memasuki SMP. Saat menjadi siswa SMPN 1 Cibal di Pagal, sakit yang ia derita tak kunjung sembuh.

Perlakuan teman-teman terhadap dirinya tetap sama yaitu diasingkan dari pergaulan. Malu dengan kondisi yang ia alami tak jarang membuat ia absen dan mendapat sanksi dari pihak sekolah.

Memilih Kursus Karena Malu

Setelah menamatkan SMP di Pagal, penyakit yang jadi biang kerok dirinya diasingkan oleh teman-temannya tak kunjung sembuh. Hal ini rupanya menjadi salah satu penyebab dia memilih tidak melanjutkan pendidikan ke SMA dan memutuskan untuk mengikuti kursus keterampilan.

Pada tahun 1990, dia mengikuti kursus montir pada sebuah bengkel milik Pastor SVD di Ruteng yang kelak dikenal sebagai Puslat PSE St.Aloyisius. Setelah menamatkan kursus itu, Bruder Yosef Lauweski mengirimnya menjadi pekerja di Labuan bajo.

Baca juga: Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

“Tamat kursus kerja di bengkel kurang lebih 2 bulan, lalu misi melalui buder Yosef Lauweski kirim saya ke TK. Stelamaris Labuan Bajo sebagai sopir,” kenang Feliks.

Di TK milik Gereja Katolik ini, Felix hanya mengabdi selama dua bulan sebelum kemudian minggat dan merancang rencana untuk merantau ke luar dari Flores.

Ke Bandung dan Merintis Jalan Sukses

Masih pada era 1990, setelah memantapkan keputusannya keluar dari TK. Stelamaris Labuan Bajo, Felix mulai menempuh jalan menjadi pedagang keliling bersama pria asal Bandung, Jawa Barat yang bertemu dengannya di Labuan Bajo.

Bersama pria asal Bandung bernama Holid itu, Felix mulai berkeliling di semua kota di Flores dan menetap satu bulan di setiap kotanya. Dari Flores dia juga terus bersama pria itu ke beberapa wilayah seperti Sumba, Timor Leste bahkan sampai ke Timur Indonesia yaitu Papua.

Baca juga: Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

Pada 1992, Felix memutuskan tinggal di Kota Bandung, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Segala pekerjaan ia pernah geluti di kota kembang itu mulai dari pembantu rumah tangga tanpa gaji, office boy di pabrik dan pekerjaan lain.

Di Bandung, Felix juga dipertemukan dengan orang yang membantu merubah jalan hidupnya. Konon, pria yang Felix sebut sebagai orang tua angkatnya itu menbantu segala hal yang merubah nasibnya.

Berkat kebaikan orang tua angkat ini Felix selanjutnya diminta untuk menempuh pendidikan luar sekolah setara SMA atau Paket C. Selanjutnya, Felix juga menempuh pendidikan tinggi melalui Universitas Terbuka.

“Kuliah sebenarnya hanya formalitas, waktu itu untuk kebutuhan kerja karena saya dipromosikan menjadi orang kedua di Pabrik tempat kerja saya,” kenang Felix.

Pertengahan era 90-an, nasib Felix dengan bayang-bayang penderitaan masa kecil yang pahit perlahan berubah menjadi pekerja telaten dan menduduki posisi penting di perusahaan.

Pulang Kampung Mendirikan Bandung Utama Grup

Setelah mapan merintis karier di dunia kerja, pada tahun 2001 lalu, Felix resmi mempersunting Kristina Atun, gadis asal Yogyakarta yang tinggal di Bandung.

Dari pernikahannya dengan Kristina, saat ini mereka dikaruniahi dua orang anak yaitu; Gregorius Pratama Kusuma Ahas (16 tahun) dan Vincentio Dwiki Kristian Ahas (11 tahun).

Memiliki keluarga kecil bahagia, Felix memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Manggarai. Kembali ke kampung, Felix membawa serta impiannya membangun daerah dengan menginspirasi orang-orang muda menjadi pengusaha.

Baca juga: Jalan Panjang Dapatkan SIG Kopi Arabika Flores Manggarai

Di Manggarai, Felix memulai bisnisnya dengan membangun kios kecil di Reo, Kecamatan Reok pada 1999. Saat itu, dia masih menekuni bisnisnya di Bandung dan kios ini menjadi percobaan awal bagi dia sebelum pulang kampung.

Pada 2013, Felix memboyong semua anggota keluarga untuk pulang kampung. Pada tahun yang sama, Felix mulai berdagang dengan menyewa sebuah bangunan untuk dijadikan mini market yang diberi nama Bandung Utama Group.

Nama Bandung Utama Group ia pilih mengacu pada Kota Bandung tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendapat ilmu bisnis. “Bandung itu menjadi tempat mendapat banyak ilham bagi saya,” kata Felix.

Bandung Utama Group saat ini memiliki 8 mini market yang ia rintis dengan mempekerjakan 80 orang karyawan. 80 orang pekerjanya adalah putra-putri daerah yang sebagian besar berpendidikan sarjana dan salah satunya magister.

Selain 8 Toko mini market ia bangun, dia juga membangun mitra dengan puluhan toko serta kios yang menyebar di Manggarai.

Terus Menginspirasi Orang Muda Manggarai

Meraih kesuksesan dalam bisnisnya tak membuat pria ini berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya, saat ini dia konsen dalam pemberdayaan pada beberapa kelompok pemuda untuk menekuni dunia usaha.

Kepada Dawainusa, Felix mengaku saat ini menghabiskan waktu melakukan pemberdayaan pada beberapa kelompok yang sebagian besar pemuda.

Baca juga: Mengenang Aleks Dhase: Sejarah, Hidup dan Karya

Bersama teman-temannya dia mendirikan Lembaga Pemberdayaan Pengusha Muda Manggarai Raya (LP2MR) yang menyasar pemuda Manggarai raya menjadi pengusaha.

“Saya mau semua pemuda di Manggarai punya semangat menjadi pengusaha, kalau mereka sukses saya bangga,” katanya kepada Dawainusa, Selasa (12/06).

Melalui organisasi yang ia dirikan, Feix bersama teman-temannya menggali banyak permasalahan seputar masalah dalam dunia usaha yang digeluti oleh para pemuda dan bersama-sama memberikan solusi.

Dia berharap, jumlah orang muda Manggarai yang menjadi pengusaha kedepannya semakin banyak.* (Elvys Yunani)

Minimarket Bandung Utama Group

COMMENTS