Membenahi Sistem Pendidikan Kita

Membenahi Sistem Pendidikan Kita

Pendidikan yang baik menekankan aplikasi nilai-nilai moral dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk penghayatan terhadap martabat manusia. (Foto: Handriani Sulastri Natal - ist)

SENANDUNG, dawainusa.com Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pada bab II pasal 3 tentang Sistem pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Peran tersebut menegaskan bahwa pendidikan nasional Indonesia memiliki posisi yang strategis sebagai tulang punggung negara untuk menghasilkan manusia atau warga negara yang berkualitas. Untuk mencapai sumber daya manusia yang baik dan berkualitas maka pendidikan nasional mengutamakan konsep pendidikan yang terarah pada ranah nasional antara lain: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan).

Dalam tataran yang ideal pendidikan yang diberikan sangat menentukan kemampuan dan kecerdasan seseorang, sehingga turut menyumbang sumber daya manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Tetapi dalam realitas, proses pendidikan kita hanya menekankan aspek kognitif saja tanpa mengembangkan aspek afektif dan psikomotorik.

Baca juga: Berapa Jumlah Guru yang Masih Tersisa?

Penilaian para siswa hanya diukur berdasarkan nilai Rapor. Akibatnya perilaku amoral dan menabrak etika jamak dipertontonkan oleh kaum pelajar dan mahasiswa. Hampir sebagian dari mereka telah terlibat dalam aksi menyontek waktu ujian, ada tawuran antara pelajar, bolos dari sekolah.

Keinginan untuk lulus dengan hasil baik tanpa kerja keras menjerumuskan mahasiswa dalam mencari jalan pintas untuk sukses. Padahal pendidikan yang integral dan seimbang perlu menyeimbangkan peran kognitif, afektif dan psikomotorik dan menghasilkan individu yang bermoral.

Pembenahan Sistem

Persoalan di atas dapat diselesaikan dengan membenahi kembali sistem pendidikan kita. Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya sadar dan terencana untuk mempercepat proses pembentukan jati diri dan rekonstruksi sosial. Dunia pendidikan bukan semata-mata hanya untuk menuntut pengetahuan, melainkan juga mengasah kemampuan.

Pendidikan itu sendiri sangat krusial dalam mengembangkan potensi diri seseorang baik pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses pendidikan menyentuh ranah perkembangan fisik, mental, emotional, moral serta keimanan manusia. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu yang kemudian ditakar dalam bentuk ujian tertulis.

Baca juga: Pendidikan Generasi Muda dan SDGs 2030

Pendidikan berorientasi pada pembentukan jati diri yang matang dan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Karena itu, lembaga pendidikan harus menjadi penggerak utama dalam merumuskan pendidikan yang memanusiakan manusia.

Di Indonesia beragam kasus demoralisasi yang dilakukan oleh generasi muda seperti free sex, pornografi, penyalahgunaan narkoba, dll terkadang terjadi karena individu belum memiliki ketahanan atau pola jati diri yang integral. Apalagi model pendidikan menitikberatkan pada aspek kognitif belaka.

Melalui pembenahan sistem pendidikan kita percaya adanya keberadaan moral absolute dan bahwa moral absolut perlu diajarkan sehingga mahasiswa bisa membedakan nilai yang buruk dan berafiliasi nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dll.

Pendidikan yang baik terdapat pola pengembangan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Seorang individu akan dibentuk melalui pelbagai disiplin ilmu, penanaman nilai-nilai moral dan internalisasi nilai dalam dunia sosial. Lembaga pendidikan yang ideal, mengutip konsep Ki Hadjar Dewantara merupakan institusi sosial yang sangat menentukan kemajuan dan peradaban bangsa.

Oleh sebab itu pengelolaan pendidikan ke depan adalah perlunya reinventing pendidik, yakni 1) menempatkan peserta didik menjadi subyek dari agen perubahan untuk membebaskan diri dari situasi peradaban dan pragmatisme intelektual, 2) Meletakkan kerangka konseptual pendidikan etis berbudaya Indonesia pada porsi yang lebih sehingga proses enkulturasi pendidikan bisa menemukan kembali wajah pendidikan kita yang berkebudayaan Indonesia.

Untuk itulah kemudian disusun suatu model sistem pendidikan yang membentuk generasi bangsa yang bermoral. Sistem pendidikan yang baik tidak mengajukan nilai-nilai siapa yang diajarkan tapi nilai-nilai apa yang perlu dibiasakan supaya menjadi karakter seorang individu.

Selama ini pendidikan kita lebih berfokus pada perkembangan aspek kognitif yang hanya mewajibkan mahasiswa untuk menghafal (memorize) konsep tanpa menyentuh aspek moral, perasaan, emosi dan hati nurani. Maka tak mengherankan ada inkonsistensi antara apa yang diajarkan dari kampus dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pembenahan sistem pendidikan kita percaya adanya keberadaan moral absolute dan bahwa moral absolut perlu diajarkan sehingga mahasiswa bisa membedakan nilai yang buruk dan berafiliasi nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dll. The Golden rule ini pula perlu diinternalisasikan melalui praktik perilaku di kampus.

Namun, perlu diperhatikan di sini bahwa terkadang orang melakukan hal baik bukan karena merasa itu sebuah kebaikan. Mereka melakukan suatu kebaikan karena takut bukan karena apresiasi pada esensi nilai kebaikan. Misalnya orang bertindak jujur dan ramah bukan karena memahami nilai kejujuran tapi supaya mendapat pengakuan publik.

Karena itu dalam pendidikan dibutuhkan aspek perasaan (emosi). Hemat saya, pendidikan sebagai wadah untuk membentuk generasi muda yang antikorupsi, mencintai perbedaan dan menghargai orang lain.

Penguatan Aspek Internal dan Eksternal 

Oleh karena itu ada dua aspek fundamen yang perlu dikembangkan dalam sistem pendidikan kita. Pertama, aspek internal individu. Setiap individu memiliki aspek transendental secara moral dan spiritual. Aspek moral seorang individu melekat erat dalam eksistensinya sebagai manusia.

Kewajiban moral itu biasanya bersumber dari hati nurani. Aspek moral ini begitu urgen dalam diri pribadi manusia dalam membedakan baik-buruknya suatu sikap.

Baca juga: Di Mata Mendikbud, NTT Adalah Borok Pendidikan Indonesia

Sedangkan spiritual berkaitan dengan keyakinan dasariah akan suatu kekuatan transendental di luar diri. Keyakinan spiritual ini tak menghalangi individu untuk bertumbuh menjadi pribadi bermoral. Bahkan spiritual dapat memperkuat nilai moral seseorang.

Kedua, eksternal individu. Seorang individu adalah makhluk sosial. Dia selalu berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kebersamaan itu, seorang individu menginternalisasikan nilai-nilai pribadinya. Situasi sosial berwujud dalam tataran sosial, kelompok sosial, serta pelbagai perbedaan yang memperkaya hidup bersama.

Generasi muda sekarang menjadi generasi yang apatis, koruptif, easy going dan semangat euphoria yang berlebihan. Di satu sisi mereka memiliki kecerdasan yang tinggi tetapi aspek kecerdasan itu tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dalam menginternalisasikan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan yang baik menekankan aplikasi nilai-nilai moral dan spiritual itu dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk penghayatan terhadap martabat manusia. Seorang individu menghayati keberadaaannya dalam diri dan orang lain.

Persoalan tawuran dan aneka permasalahan yang dipertontonkan oleh generasi muda Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Bila kondisi ini tidak diantisipasi dengan meregulasi sistem pendidikan maka akan muncul generasi punah.  Generasi punah bukan hanya terjadi pada anak-anak yang kekurangan gizi tetapi juga kondisi reduksi moralitas dan jati diri. Karena itu, pembenahan sistem pendidikan karakter menjadi suatu opsi solutif.

Pembenahan sistem pendidikan kita bukanlah suatu proses yang mudah seperti membalikan telapak tangan. Dibutuhkan waktu yang panjang dan kerja sama yang solid antara pelbagai komponen pendukung seperti pemerintah dan sekolah. Apalagi dalam konteks pendidikan di Indonesia yang telah mencapai taraf ‘darurat’.

Generasi muda sekarang menjadi generasi yang apatis, koruptif, easy going dan semangat euphoria yang berlebihan. Di satu sisi mereka memiliki kecerdasan yang tinggi tetapi aspek kecerdasan itu tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dalam menginternalisasikan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, melalui pembenahan sistem pendidikan maka akan terbentuk generasi muda Indonesia yang bukan hanya cerdas tetapi berakhlak baik, pandai bersosialisasi dalam masyarakat, antikorupsi, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.*

Oleh: Handriani Sulastri Natal*
(Mahasiswa Prodi PGSD STKIP St. Paulus Ruteng & Anggota Komunitas Sastra Hujan)

COMMENTS