Melihat Banyak TKI NTT Pulang dengan Peti Mati, Ini Rencana Lebu Raya

Melihat Banyak TKI NTT Pulang dengan Peti Mati, Ini Rencana Lebu Raya

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya berbicara kepada publik terkait nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT yang pulang dan lelap dalam peti mati dari negeri Jiran Malaysia. (Foto: Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya - Kemendagri.go.id).

KUPANG, dawainusa.com Saat-saat terakhir masa jabatan sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya berbicara kepada publik terkait nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT yang pulang dan lelap dalam peti mati dari negeri Jiran Malaysia.

Gubernur yang menahkodai provinsi kepulauan selama 10 tahun itu mengaku tak nyaman setiap kali melihat para TKI itu pulang dengan peti mati. Berita-berita tragis sekaligus memilukan, kata Lebu Raya, sungguh menyakitkan.

“Kami menerima peti mayat terus. Terus terang, saya merasa tidak nyaman melihat rakyat dan anak-anak meninggal dengan cara itu. Sangat menyakitkan,” kata Lebu Raya saat bertemu dengan sekretaris utama BNP2TKI di Kupang, seperti diberitakan Kompas, Selasa (20/3).

Baca juga: Sebulan Tidur di Luar Rumah Bersama Anjing, TKI Asal NTT Ini Meninggal

Politisi PDI Perjuangan itu menuturkan, banyak TKI yang memilih mengadu nasib di negeri Jiran Malaysia secara ilegal. Pengalamannya, cerita Lebu Raya, pernah satu pesawat dengan segerombolan wanita usia muda dari NTT yang datang ke Jakarta dengan dokumen palsu.

“Pernah dalam kesempatan beberapa tahun lalu, saya satu pesawat dengan segerombolan wanita usia muda ke Jakarta. Saya sudah menduga, mereka ini pasti TKW. Karena itu, saat transit di Surabaya, saya kumpulkan semuanya dan menanyakan tujuan mereka. Saat memeriksa kelengkapan dokumen mereka, foto dan nama yang ada di paspor, ternyata berbeda dengan orang yang memegang paspor tersebut,” papar dia.

Mendata Semua TKI Ilegal

Setelah puluhan orang yang pulang dengan peti mati dan di akhir-akhir masa jabatannya sebagai gubernur NTT, Lebu Raya mengaku ingin mendata seluruh TKI asal NTT yang ilegal di Malaysia. Keinginan ini, tutur Lebu Raya, sudah bulat dan pihaknya akan membentuk dan mengirim tim untuk melakukan pendataan.

“Kita ingin mendata para TKI ilegal, namanya siapa dan asalnya dari mana. Setelah kita data, kita tahu seberapa yang bisa diurus supaya legal dan berapa yang bisa dibawa pulang. Saya akan mengumpulkan para bupati dan wali kota untuk mengambil langkah-langkah dalam memulangkan atau mengurus TKI ilegal yang sudah terdata itu,” kata Lebu Raya.

Baca juga: Selama 9 Tahun TKI Asal NTT ini Hilang Komunikasi dengan Ibunya

Untuk mewujudkan keinginan itu, terang dia, peran Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan (BP3)TKI NTT ditagih. Selain itu, lanjut dia, pihaknya mengharapkan peran para tokoh agama untuk menggunakan mimbar sakral itu sebagai tempat mensosialisasikan rencana tersebut.

“Kita harus bicara ramai-ramai atau bersama terhadap masalah ini. Para tokoh agama dapat juga menggunakan mimbar untuk mengingatkan hal ini. Saya sudah meminta dengan tegas agar perusahaan yang merekrut TKI ilegal ditutup dan diberi sanksi hukum yang tegas. Hukum seberat-seberatnya,” ujar politisi PDIP itu.

Jumlah ‘Peti Mati’ Selama 2017

Tahun 2017 menjadi tahun paling gelap dan menyakitkan terkait jumlah TKI asal NTT yang meninggal dunia di negeri Jiran. Pasalnya, dari 69 jumlah TKI yang meningggal di negeri kerajaan itu, 62 di antaranya berasal dari NTT.

“Catatan kami, dari 69 TKI yang meninggal di Malaysia tahun 2017, 62 orang dari NTT,” ungkap Konsulat Jenderal RI Iwansha Wibisono di ruang rapat Kantor Gubernur NTT, Selasa (20/3).

Baca juga: Selama 2017, Sebanyak 62 TKI Ilegal Asal NTT di Malaysia Meninggal Dunia

Sementara, untuk Maret 2018, catatan dawainusa.com, sudah ada tiga orang TKI NTT yang pulang dengan peti mati atau pulang dengan membawa penyakit yang berujung maut.

Adapun ketiga orang tersebut, yakni Nikolas Bunanaek yang meninggal di Rumah Sakit Umum WZ Johanes Kupang, Senin (19/3). Ia dirawat di Rumah Sakit tersebut sejak 10 hari lalu, yakni pada Kamis (8/3).

Selain itu, Milka Boimau yang meninggal pada Rabu (7/3) di Penang Malaysia dan Matius Seman asal kabupaten Manggarai Timur (Matim). Pria asal Desa Gurung Liwut, Matim  ini meninggal akibat sakit jantung pada Senin (5/3).*

COMMENTS