Melahirkan Seorang Diri, Perempuan Ini Bekap Bayinya Hingga Tewas

Melahirkan Seorang Diri, Perempuan Ini Bekap Bayinya Hingga Tewas

Dalam keadaan jongkok, Beatrix melahirkan seorang bayi laki-laki (Foto: Beatrix Heo Dima - TimorExpress)

KUPANG, dawainusa.com – Beatrix Heo Dima (28) seorang honorer yang juga warga RT 18/RW 09, Kelurahan Nonbes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang membekap bayinya hingga tewas saat melahirkan anaknya tersebut. Atas perbuatnya itu, Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Simson Amalo mengatakan, pelaku telah diamankan untuk menjalani proses hukum.

“Kita sudah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap tersangka dan para saksi, termasuk mengumpulkan barang bukti,” kata Simson di Kupang, Selasa (15/5).

Mantan penyidik Subdit Tipidkor Polda NTT itu menjelaskan, sesuai keterangan pelaku saat diperiksa, diketahui  sekitar pukul 16.00 WITA, Minggu (13/5), pelaku merasa hendak melahirkan sehingga dia lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Baca juga: Aniaya Bayinya Hingga Tewas, Polisi: Pelaku Sempat Menuduh Pacarnya

Dalam keadaan jongkok, Beatrix melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat melahirkan, dia sempat mendengar suara si bayi, namun karena tak kuasa menahan rasa sakit, pelaku akhirnya pingsan.

Namun setelah sadar dari pingsannya dan mendengar suara tangis sang bayi, karena takut diketahui orang lain, Beatrix kemudian membekap dan menutup hidung dan mulut bayi malang itu sambil berusaha mengeluarkan ari-ari dalam perutnya. Setelah ari-ari keluar, lanjut Simson, pelaku melihat bayi sudah tidak bernapas.

Beatrix lalu memandikan mayat bayi dan membawa ke dalam kamar serta menggunting ari-arinya. “Bayi malam itu diletakan di dalam kamar, sedangkan ari-ari ditaruh di bawah tempat tidur,” beber Simson.

Sekira pukul 21.00 WITA, lanjut dia, pelaku menelpon pacarnya Karyadi Oebehetan, menyampaikan bahwa dirinya sudah melahirkan dan bayi dalam keadaan mati.

Beatrix juga meminta bayi dikubur di tempat pacarnya. Karyadi pun saat itu meminta kekasihnya itu untuk segera memberitahukan hal tersebut ke orangtuanya. Akan tetapi, Beatrix tidak menyampaikannya sehingga pada Senin (14/5) sekitat pukul 12.00 WITA, Lukas Obehetan yang adalah ayah dari Karyadi menelpon Polsek serta Polres melaporkan hal tersebut.

Pelaku dan Karyadi Telah Berhubungan Lama

Pada kesempatan yang sama, Simson Amalo mengatakan, antara pelaku dan Karyadi Obehetan sudah menjalin hubungan pacaran yang lama yakni selama satu tahun setengah. Untuk kehamilan tersebut, hanya keluarga  Obehetan yang mengetahuinya sedangkan keluarga pelaku sama sekali tidak mengetahui hal itu.

“Pada Senin pagi (14/5), terlapor sempat berobat ke Puskesmas Oekabiti karena pusing, dan saat berobat bayi ditaruh di dalam kardus. Saat anggota Polsek dan Polres ke TKP bayi laki-laki berumur satu hari itu masih berada di dalam kardus,” jelas dia.

Baca juga: Dikira Kucing Atau Anjing, Warga Terkejut Ternyata Jasad Bayi

Pelaku dijerat Pasal 76 c Jo Pasal 80 Ayat 3 dan Ayat 4 UU RI No 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara pada Ayat 4, ditambah 1/3 jika yang melakukan orangtua.

“Selain tersangka, kami sudah memeriksa sejumlah saksi masing-masing pacar pelaku Karyadi Oebehetan, Lukas Oebehetan orangtua Karyadi, dan Tobias Taemnanu ayah pelaku,” sebut Samson.

Kejadian Serupa

Kejadian pembunuhan bayi di Kupang bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, dua oknum mahasiswa Universitas PGRI Nusa Tenggara Timur, yaitu DT dan AM, diancam dikeluarkan atau dipecat dari universitas itu karena melanggar norma akademik dengan membunuh bayi hasil hubungan gelap mereka.

“Keduanya, diduga telah membunuh dan membuang bayi hasil “hubungan gelap” di RT 20/RW 08 Kampung Tofa, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Pihak universitas masih memeriksa semua kelengkapan administrasi dua mahasiswa itu, terutama soal kewajiban registrasi. Dua mahasiswa itu terancam dikeluarkan karena secara moral melanggar norma dan etika lembaga secara akademik,” kata Pembantu Rektor III Universitas PGRI NTT David Selan.

Baca juga: Buang Bayinya Sendiri, Mahasiswi Kedokteran Hewan Undana Terancam Pidana Maksimum

Kasus kedua mahasiswa itu berawal ketika warga Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, dihebohkan oleh penemuan bayi laki-laki di RT 20/RW 08 wilayah setempat, Senin (14/5) malam.

Bayi yang tak lagi bernyawa itu, dibungkus dengan kantong keresek merah dan ditempatkan dalam sebuah kardus Bayi. Dalam kasus pembunuhan dan pembuangan bayi tersebut, penyidik Polres Kupang Kota menahan dua mahasiswa Universitas PGRI NTT berinisial AM (19) dan DT (20).*

COMMENTS