Lima Tahun Jadi Guru Honorer, Herlin Sanu Masih Bergaji Rp150 Ribu

Lima Tahun Jadi Guru Honorer, Herlin Sanu Masih Bergaji Rp150 Ribu

Pasalnya, gaji yang diterima perempuan lulusan D3 dari Fakultas Pendidikan Universitas Cendana Kupang itu dalam sebulan, hanya Rp150 ribu, jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK) yang ditetapkan Rp1.660.000. (Foto: Herlin Sanu - Antara)

KUPANG, dawainusa.com –  Herlin Sanu (30), seorang guru honorer yang mengajar di SD Kristen Setia Kuaset, Kecamatan Mualafa, Kota Kupang mendapat gaji bulanan yang sangat memprihatinkan sebagai seorang guru. Meskipun sudah mengabdi selama lima tahun di sekolah tersebut, Herlin mendapat gaji tak wajar.

Pasalnya, gaji yang diterima perempuan lulusan D3 dari Fakultas Pendidikan Universitas Cendana Kupang itu dalam sebulan, hanya Rp150 ribu, jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK) yang ditetapkan Rp1.660.000.

Semula kata Herlin, dijanjikan gaji Rp500.000,- per bulan dan berjalan selama tiga tahun, namun kenyataannya hingga sekarang tinggal Rp150.000,- per bulan.

Baca juga: Profesi Guru dan Minimnya Apresiasi Pemerintah

Itu pun menurut Herlin, gaji Rp150 ribu itu tidak menentu.  Bersama teman-teman gurunya, kadang ia menerima lebih kecil dari angka tersebut. Ditambah, karena bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), penerimaan gaji Herlin dan kawan-kawan pun tidak bisa teratur sebulan sekali.

“Sumber gaji kami dari dana BOS. Jadi tiga bulan sekali baru cair uangnya. Kami terima setiap tiga bulan sekali. Kadang tidak terima karena tidak cair. Katanya diputihkan,” kata Herlin di kupang, seperti diberitakan Antara, Senin (30/4).

Bagi Herlin, pengabdian yang tulus sebagai guru honorer tidak diimbangi dengan kompensasi yang baik. Uang yang diterimanya itu sangat tidak mungkin mencukupi kebutuhannya dalam sebulan.

“Saya perempuan. Kebutuhan saya banyak,” katai ibu satu anak itu.

Dia kemudian berkisah, untuk membantu mencukupi kehidupannya, dia berjualan di Pasar Kasih, Naikoten setelah jam sekolah usai karena suaminya bekerja sebagai buruh pelabuhan dengan penghasilan yang juga kecil.

“Ya, jualan apa saja. Minyak tanah, kebutuhan hidup lainnya. Modal awalnya saya dapat dari keluarga. Kalau tidak begitu, setengah mati,” ujarnya.

Memilih Bertahan

Seorang guru honorer dari sekolah yang sama, Anita, juga mengatakan tetap bertahan di sekolah itu walaupun masih sebagai guru honorer dan penghasilannya tidak mencukupi.

“Mau bagaimana lagi. Saat ini cari kerja susah. Jadi terpaksa bertahan. Saya berharap juga Ibu Emi bisa menjadi gubernur sehingga tentunya sesama wanita bisa saling mengerti, dan tentunya hati seorang ibu lebih lembut,” ujarnya sambil tertawa.

Baca juga: Kekurangan Guru Berstatus ASN, Kemdikbud Siapkan Kebijakan Baru

Anita (31) berkisah, SD Kristen Kuasaet yang berdiri tahun 2007 selama beberapa tahun sekolah ini masih mendapat suntikan dana dari pendiri sekolah dan yayasan.

“Namun sejak 2015, yayasan dan pendiri sekolah sudah lepas tangan. Mereka tidak lagi memberikan bantuan untuk operasional sekolah ini. Kalau kami tidak ingat anak-anak, kami sudah tinggalkan sekolah ini. Kami masih bertahan,” ceritanya.

Jadi untuk mendanai seluruh kegiatan, urainya, sekolah ini murni mengharapkan dana BOS dan iuran dari para murid.

“Sekarang kami hanya tunggu dana BOS. Gaji kami dan seluruh kegiatan sekolah dari situ semua. Kami juga mengharapkan iuran dari para murid yang berjumlah 57 orang. Tapi iuran itu kami tidak paksakan. Satu bulan mereka bayar Rp10 ribu per siswa. Kalau belum ada uang, kami tidak akan paksa mereka bayar,” jelasnya.

Sebenarnya, sekolah tempat mereka mengajar itu telah ditutup. Namun guru-guru bersama orang tua murid, masih berusaha mempertahankannya demi kepentingan para siswa. Ia pun merasa iba dengan puluhan anak tersebut yang jika ditutup sekolahnya.

“Kasihan anak-anak kalau sekolah mereka ditutup. Apalagi daerah ini agak terpencil. Kalau tutup, mereka susah juga cari sekolah lain,” ungkapnya.

Dengan alasan ini, selain berharap gaji mereka diperhatikan, Anita juga berharap agar status sekolah mereka bisa diubah status sebagai sekolah negeri.

“Banyak sekolah yang jumlah siswanya lebih sedikit juga bisa jadi sekolah negeri. Saya harap sekolah kami bisa dinegerikan juga. Karena kalau begini terus, kami tidak tahu seberapa kuat lagi kami bertahan. Kami sangat mengharapkan uluran tangan Mama Emi,” ungkapnya.

Nasib Anita lebih buruk ketimbang Herlin, karena selain memiliki dua anak, suami Anita bekerja sebagai buruh bangunan yang penghasilannya sangat tergantung pada ada atau tidak pekerjaan banguna untuknya.

Herlin Sanu dan Harapan untuk Pemimpin NTT yang Baru

Atas situasi yang demikian, Herlin pada kesempatan yang sama berharap, pemimpin NTT berikutnya bisa mengubah nasibnya bersama rekan-rekannya sesama honorer yang bekerja di sekolah yang sama.

Terlebih, Herlin berharap penuh kepada Emi Nomleni, Calon Wakil Gubernur Nomor urut dua yang diusung oleh PDI Perjuangan dan PKB.

Baca juga: Berapa Jumlah Guru yang Masih Tersisa?

“Saya berharap nanti kalau ada gubernur baru, nasib kami guru honerer di kota ini bisa diperhatikan. Terlebih lagi saya sangat berharap kepada Mama Emi agar nanti bisa membantu para guru honorer di sini,” ucap Herlin.

Mama Emi, sapaan akrab Emilia Nomleni adalah satu-satunya kandidat wanita yang maju dalam Pilgub 2018 ini. Saat ini dirinya berjuang sendiri, karena pasangannya Marianus Sae yang menjadi calon gubernur, telah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Koprupsi (KPK) beberapa waktu lalu atas dugaan melakukan tindak pidana Korupsi.

Bukan tanpa sebab Herlin berharap pada Mama Emi, karena sebagai satu-satunya. perempuan yang menjadi kandidat wakil gubernur, Emelia dianggap bisa mengerti kebutuhan perempuan.

“Banyak teman-teman yang sudah mengajar, namun keluar lagi karena gaji terlalu kecil,” keluhnya.*

COMMENTS