Liberika Manggarai, Varian yang Lenyap dari ‘Kosakopi’

Liberika Manggarai, Varian yang Lenyap dari ‘Kosakopi’

Menurut Ondi, Liberika bukanlah kopi yang populer di Manggarai. Selain karena jarang diperjualbelikan, kopi ini rupanya tidak cukup bernilai ekonomi bagi petani kopi di daerah itu. (Foto: Kopi Liberika - ist)

RUTENG, dawainusa.com Euforia Sertifikat Indikasi Geografis (SIG) untuk Kopi Arabika Flores Manggarai, berhasil memalingkan perhatian pencinta kopi di Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai, selama kurang lebih sepekan terakhir.

SIG dan segala kemeriahan serta klaim-klaim untuk kesejahteraan petani sudah berlalu. Kini, yang tertinggal hanya harapan tentang klaim itu terwujud. Apakah SIG menjadi tiket untuk kesejahteraan petani Kopi Arabika? Tentu akan jadi isapan jempol belaka jika hal ini tidak mampu diwujudkan.

Setidaknya ada beberapa catatan menarik pasca launching ISG yang digelar di halaman Kantor Bupati Manggarai Kamis (31/5) lalu. Catatan tersebut kebanyakan muncul dari pemilik kedai kopi lokal yang concern pada kualitas kopi lokal selama ini.

Baca juga: Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

“Yang bisa menikmati keuntungan dari SIG bisa saja hanya para pengepul besar, petani kita selama mereka terus dihimpit banyak kebutuhan akan lebih memilih ijon daripada memproses biji kopi berkualitas yang butuh proses panjang,” kata Jeli Djehaut kepada Dawainusa, Kamis (31/05).

Pernyataan Djehaut tentu bukan tanpa alasan. Pemilik Kedai Toto Kopi itu mengaku sangat menyayangkan nasib petani kopi di Manggarai selama ini. Menurutnya, karena faktor ekonomi, petani lebih memilih menjual dengan prioritas kuantitas ketimbang kualitas.

“Tapi kita tidak bisa salahkan petani, semua karena kebutuhan mendesak, dan ikatan mereka dengan pengepul besar sudah lama terjalin. Harapannya, SIG akan benar-benar meningkatkan pendapatan petani kita,” ungkapnya.

Liberika Manggarai dan Menambah ‘Kosakopi’ Kita

Meski ‘Kosakopi’ yang artinya kosa kata seputar Kopi, bukanlah diksi baku dari KBBI, diksi ini dipilih untuk memperkenalkan salah satu varietas kopi yang ada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kosakopi sendiri pertama kali didengar oleh Dawainusa dari seorang pemilik kedai yang juga pencinta kopi di Ruteng.

Adalah Fransiskus Ondi Bai, pria yang akrab disapa Ondi itu mendirikan kedai kopi Alline Cofee House dan menyimpan banyak kisah tentang kopi, termasuk Liberika Manggarai salah satunya. Liberika mungkin sangat asing bagi pencinta kopi. Pamornya tidak luar biasa seperti seperti Arabika yang sabet SIG atau Robusta yang sangat familiar.

Baca juga: Bupati Deno: Mari Beri Tempat Terhormat untuk Petani

Jika Anda menelusuri berbagai literatur, Liberika adalah varietas yang pertama kali ditemukan di Libia, sebuah negara yang terletak di Barat benua Afrika. Tumbuhan dari Ordo Gentinales itu dapat tumbuh sembilan meter di atas tanah.

Konon, Liberika pertama kali dipasok Indonesia oleh Belanda pada abad ke-19 untuk menggantikan Kopi Arabika di pulau Jawa yang kala itu diserang hama. Di Indonesia, jenis kopi ini banyak ditemukan di Jember, Jawa Timur dan juga di Lampung.

Kepada Dawainusa, Ondi mengaku tidak memahami dengan baik asal-usul bagaimana Liberika itu ada di Manggarai. Meski demikian, dia menjelaskan, orang Manggarai menyebut kopi ini dengan sebutan Kopi Jember.

“Katanya, pertama kali dibawah dari Jember, makanya kita sebut kopi Jember, tapi saya dengar cerita dari Romo (rohaniwan.red), saya kurang paham cerita awal Liberika masuk ke sini,” kata Ondi di Ruteng, Minggu (04/06).

Menurut Ondi, Liberika bukanlah kopi yang populer di Manggarai. Selain karena jarang diperjualbelikan, kopi ini rupanya tidak cukup bernilai ekonomi bagi petani kopi di daerah itu.

“Dari sejak tanam sampai panen butuh waktu tujuh tahun, pohonnya juga tinggi dan besar, petani kita kurang berminat, arabika dan robusta lebih menjanjikan,” ujarnya.

Dengan jumlahnya yang semakin sedikit, Liberika suatu saat akan hanya tinggal nama. “Jumlahnya semakin sedikit, setiap tahun pohonnya yang besar sering di potong untuk bangun rumah,” jelasnya.

Kopi Rasa Bir

Ondi rupanya sangat telaten dalam urusan meracik kopi menjadi kaya rasa. Pria 44 tahun ini punya pandangan cukup detail untuk setiap rasa kopi yang tersaji. Bagi dia, kenikmatan kopi itu menjadi tanggung jawab petani, roaster atau yang melakukan sangrai dan tentu barista yang meracik sebelum dihidang.

“Kualitas kopi itu ada di petani 50 persen, roaster 30 persen,20 persen ada dibarista, kopi dari petani tidak berkualitas jangan harap dapat kopi nikmat, kopi petani berkualitas tapi di-sangrai dengan tidak benar akan ketahuan rasanya saat diminum,” jelasnya.

Baca juga: Toto Kopi, Kisah Sang Barista di Balik Aroma Kopi yang Istimewa

Kembali soal Liberika, rasanya tidak salah mengklaim jenis kopi ini sangat luar biasa. Menyeruput kopi rasa bir tentu sedikit aneh, tetapi memang faktanya demikian. Ketika awal diseduh, aroma kopi ini terbilang aneh. Aroma yang menyeruk adalah aroma sayur-sayuran mentah, tetapi tidak bijak karena lantaran aroma lalu eksporasi berhenti.

“Aromanya sayur-sayuran, karakternya lebih kuat dari arabika dan robusta,” jelas Ondi sambil meracik Liberika dengan manual brew.

Setelah diracik, proses selanjutnya adalah blooming. Pada tahapan ini kandungan karbondioksida yang biasanya menyebabkan sakit lambung dikeluarkan. “Kalau barista tidak lakukan ini, penikmat kopi bisa masuk UGD,” jelasya diikuti gelak tawa.

Semua proses sudah tuntas, segelas kopi siap diseruput. Jangan kaget kopi aroma sayur itu menjelmah jadi seperti bir atau wine. Mulailah dengan tanpa gula, rasakan sensasi mewah itu. Dengan atau tanpa gula, Liberika menawarkan kenikmatan yang tidak Anda temukan pada jenis kopi lain.

Berharap Liberika Lebih Dikenal

Menutup kisahnya bersama Dawainusa, Ondi berharap Liberika menjadi varian yang lebih dikenal dan diterima di Manggarai. “Ini hasil dari kekayaan alam kita, emas yang ada di bumi Manggarai,” tuturnya.

Saat ditanya apakah Liberika menjadi branding Alline Cofee Shop ke depan, pria itu membantah dan mengaku kedai nya hanya ingin menyajikan varian yang kompleks dari yang populer dikenal pencinta kopi.

Baca juga: Jalan Panjang Dapatkan SIG Kopi Arabika Flores Manggarai

“Saya mau kafe ini lebih kompleks dengan tawaran varian kopi Manggarai lebih banyak. Harapannya, Liberika bisa diterima atau menjadi lebih dikenal khalayak,” ujarnya.

“Kopi kita harus lebih baik kedepan, petani juga pendapatannya lebih baik, baik SIG ataupun fair trade harus berdampak bagi petani kita,” tutupnya.* (Elvys Yunani)

COMMENTS