Kritik ke Megawati dan Pengakuan Tsamara Amany

Kritik ke Megawati dan Pengakuan Tsamara Amany

Ia mengaku sejak di PSI telah belajar untuk mengkritik dengan cara yang bijak dan rasional. Tsamara menyadari bahwa tulisan yang ia cuitkan saat itu sebagai proses pembelajaran. (Foto: Tsamara Amany - detik.com) .

FOKUS, dawainusa.com Dua tahun lalu, tepatnya pada tanggal 10 Mei 2015, Tsamara Amany pernah mencuitkan soal Ketua PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri. Melalui akun Twitter @TsamaraDKI kala itu, ia menulis “Megawati akan dimakan oleh kesombongan sendiri” dan “Pak Jokowi, inilah saatnya ambil alih PDIP”.

Dua tahun telah berlalu, tak disangka hingga kini cuitan Tsmara masih berlanjut dan memantik beragam reaksi nitizen. Bagi sebagian orang, cuitan gadis yang waktu itu masih berusia 18 tahun adalah sesuatu yang wajar. Emosional dikedepankan, akal sehat jarang dipakai.

Apalagi saat itu Tsamara belum bergabung atau berafiliasi dengan partai politik manapun, termasuk PSI. Kemampuan komunikasi politiknya pun belum mampuni. Ia harus belajar banyak. Dirinya juga mengaku saat menulis di twitter kala itu tanpa melalui pertimbangan rasional.

Baca juga: Tuding PDIP Banyak Menampung PKI, Kivlan Zen Bakal Dipolisikan

“Saat berkomentar itu, saya juga tidak berafiliasi dengan partai politik. Memang benar itu tweet saya.” terangnya seperti diberitakan Tempo.co, Jumat (16/03).

Namun, bagi sebagian orang, dorongan untuk melaporkan Tsamara karena dianggap menghina Megawati dimunculkan. Politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean misalnya. Hutahaean menanggapi cuitan tersebut dengan  menandai Pramono Anung agar melaporkan cuitan Tsamara yang dianggap menghina tersebut.

Menurut Ferdinand, cuitan Tsamara soal Megawati ini merupakan bentuk ujaran kebencian. Terlebih lagi, Megawati merupakan Presiden ke-5 RI.

“Waduh..!! Mas @pramonoanung , bilangin Ibu nih, masa bu Mega dibilang sombong sama @TsamaraDKI ? Ini masuk ujaran kebencian lho pak..!! Biar bagaimana ibu Megawati itu Presiden RI Ke 5.Kalaupun benar sombong, ya tak perlu diomongin di TL beginilah. Laporin pak..!” tulis Ferdinand dengan akun @LawanPoLitikJKW, Senin (5/3/2018) pukul 8.18 WIB.

Sebetulnya, respon atas ciutan tersebut memuncak pasca pertemuan Partai Solidaritas Indonesia di Istana Negara beberapa waku lalu. Ciutan lawas itu pun mulai beredar di twitter. Cuitan yang dituliskan dalam bentuk poster digital itu bertuliskan ‘Megawati Tak Pantas Pimpin PDIP’ dan ‘Saatnya Jokowi Ambil Alih PDIP’.

Didasari Pertimbangan Emosional

Dalam sebuah wawancara dengan CNN Idonesia, Jumat (16/3), Tsamara mengakui kritik yang pernah dilayangkan ke Megawati. Ia berdalil soal usia yang masih muda dengan pemahaman terhadap twitter yang masih pas-pasan. Ciutannya pun diakui sebagai sesuatu yang emosional.

“Ini sebenarnya tweet lama yang dilontarkan anak 18 tahun, baru bikin twitter, menggebu soal politik dan belum tahu apapun. Tweet-nya hanya didasari pertimbangan emosional,” ujar Tsamara.

Baca juga: Pasca PSI, Giliran Perindo Temui Presiden di Istana

Banyak orang yang coba menghubungkan ciutan mahasiswi semester VI Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina itu dengan keberadaan PSI, partai yang membikin dirinya tenar. Namun, Tsamara justru menepis.

Perempuan yang pernah menjadi staf magang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu menegaskan, ciutan itu tak ada kaitannya dengan kepengurusannya di PSI. Apalagi dirinya baru bergabung di PSI pada 2017 lalu.

Tak hanya itu, Tsamara pun menilai, bereadarnya ciutan tersebut merupakan strategi lawan politik untuk menggoreng isu lama yang menurutnya tak relevan lagi.

“Saya baru gabung PSI tahun 2017, jadi bagaimana mungkin ini sikap resmi PSI. Itu upaya menggoreng isu lama saja yang tidak relevan lagi hari ini,” katanya.

Adu Domba

Politik adu domba, meskipun merupakan warisan rezim kolonial, masih laku dipakai di Indonesia saat ini, apalagi dalam konteks konstelasi politik. Hal inilah yang diyakini Tsamara.

Menurutnya, munculnya poster tentang dirinya merupakan upaya adu domba antara PSI dengan PDIP sebagai sesama pendukung Presiden Joko Widodo. Apalagi menjelang tahun politik 2019.

Baca juga: ACTA Laporkan Pertemuan Jokowi dan PSI ke Ombudsman

Saat ini, dirinya mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak PDI Perjuangan untuk mengklarifikasi cuitan tersebut. samara, partai berlambang banteng itu telah merespons dengan baik dan memaklumi tulisan yang ia cuitkan.

“Ada upaya pecah-belah, ada upaya kemudian mengadu domba kelompok nasionalis, agar kita ini enggak solid, tapi sekali lagi komunikasi politik PSI dan PDIP baik,” terangnya.

Dalam akun twiternya pun, Tsamara memberikan klarifikasi bahwa dirinya dan PSI tidak pernah membuat poster seperti itu.

“Partai Solidaritas Indonesia @psi_id tidak pernah memproduksi materi ini. Ada upaya untuk mengadu domba antara @psi_id dengan @PDI_Perjuangan,” cuitnya.

Ia mengaku sejak di PSI telah belajar untuk mengkritik dengan cara yang bijak dan rasional. Tsamara menyadari bahwa tulisan yang ia cuitkan saat itu sebagai proses pembelajaran.

“Saya tidak malu juga kok mengakui apa yang di-tweet-kan saya tahun 2015 itu tidak bijak,” imbuhnya.*

COMMENTS