Komentar Fadli Zon Soal Pidato Racun Kalajengking Jokowi

Komentar Fadli Zon Soal Pidato Racun Kalajengking Jokowi

Pernyataan Presiden Jokowi terkait racun kalajengking tersebut sama sekali memalukan. (Foto: Fadli Zon - Winnetnews).

JAKARTA, dawainusa.com Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fadli Zon mengomentari pidato Presiden Jokowi terkait racun kalajengking sebagai komoditas paling mahal di dunia. Ia mengatakan, pernyataan seperti itu sama sekali memalukan, apalagi hal itu diucapkan oleh seorang pemimpin negara.

“Menurut saya ini harus diusut ya kenapa kok bisa seorang Presiden RI berbicara seperti ini. Ini menurut saya memalukan,” tutur Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (3/5).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan, pernyataan Presiden Jokowi dalam pidato itu sama sekali tidak berbobot dan tidak bertanggung jawab. Padahal, jelas Fadli, selama ini Indonesia sudah sangat gencar membangung infrastruktur.

Baca juga: Fadli Zon Klaim Sri Mulyani Pasti Kalah Berdebat Soal Utang

“Lantas selama ini ngapain kita melakukan pembangunan infrastruktur, mau divestasi Freeport yang itu merupakan tambang emas. Kenapa tidak dari awal aja kemudian suruh orang berternak kalajengking. Kenapa juga presiden enggak melakukan itu duluan supaya memberi contoh dan teladan berternak kalajengking,” kata Fadli Zon.

Selama ini, kata Fadli, ia belum pernah melihat ada pemimpin negara mengucapkan hal-hal seperti itu. Karena itu, ia mengaku heran dengan pidato Jokowi tersebut. Fadli juga mempermasalahkan para menteri dan orang terdekat Presiden karena tidak mengingatkan Jokowi sebelum berbicara.

“Saya rasa enggak pernah ada presiden Indonesia yang dalam sejarahnya berbicara seperti ini. ini benar-benar saya enggak ngerti kenapa kok bisa ya, timnya, dari sekretariat itu kan ada banyak sekali. Ada Sekneg, ada Seskab, ada KSP segala jadi apa yang diurusin? Masa seorang presiden bisa bicara seperti itu,” ungkap Fadli Zon.

Adapun pidato Jokowi terkait racun kalajengking tersebut disampaikan dalam Musrembang 2018 di Jakarta, Senin (30/4). Sambil bercanda, ia mengatakan, racun kalajengking merupakan komoditas paling mahal di dunia.

“Yang paling mahal racun dari kalajengking, harganya USD 10,5 juta per liter atau Rp 145 miliar per liter. Jadi Pak Bupati, Pak Walikota, kalau mau kaya cari racun kalajengking,” kata Jokowi.

Gagal Paham Soal Pidato Racun Kalajengking

Komentar Fadli Zon terkait pidato racun kalajengking tersebut juga sudah ditanggapi oleh pihak Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Juru Bicara PSI bidang Kepemudaan Dedek Prayudi alias Uki mengatakan, Fadli Zon gagal paham menanggapi pidato Presiden Jokowi itu.

“Oposisi zaman now kadang gagal melihat secara substantif ucapan dan keputusan Presiden serta cenderung tergesa-gesa ingin mengomentari, sehingga terkesan ngawur. Tapi sah-sah saja biar publik yang menilai,” kata Uki di Jakarta, Jumat (3/5).

Menurut Uki, penilaian Fadli Zon terhadap pidato Jokowi sama sekali dangkal dan tidak mencermati secara jelih dan benar maksud dari pidato tersebut. Bagi Uki, dalam menilai pidato itu, Fadli Zon tidak memperhatikan konteks dan substansi pidato sehingga kesimpulan yang dihasilkannya menjadi ngawur.

Baca juga: Fadli Zon: Dulu Pak Jokowi Berjanji Ciptakan 10 Juta Lapangan Kerja

“Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan oleh pak Fadli sebelum merespons pidato pak Jokowi, yakni konteks pidato dan substansi pidato. Tanpa pemahaman dua itu, justru respons pak Fadli yang terkesan garbage in garbage out,” tutur Uki.

Karena itu, Uki menerangkan maksud dari pidato Jokowi terkait racun kalajengking tersebut. Ia mengatakan, pesan dari pidato itu ialah untuk mengingatkan setiap kepala daerah di seluruh Indonesia agar dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik dan semaksimal mungkin, karena waktu adalah komoditas paling mahal di seluruh dunia.

“Mari kita lihat secara utuh pidato bagian kalajengking tersebut. Beliau mengatakan bahwa ada yang lebih mahal daripada komoditas termahal sekalipun, yaitu waktu. Sedangkan racun kalajengking disini digunakan sebagai contoh komoditas yang mahal tersebut,” jelas Uki.

“Buang-buang waktu yang dimaksud presiden adalah cara kerja yang bertele-tele dan rantai birokrasi yang berbelit-belit, sedangkan tantangan zaman menuntut kita untuk bergerak sangat cepat,” lanjut Uki.

Mampu Berkompetisi

Uki melanjutkan, sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu berkompetisi dengan waktu. Ia menerangkan, revolusi 4.0 sebagaimana disampaikan oleh Presiden Jokowi hanyalah sebuah contoh dari berbagai macam indikasi perubahan zaman yang begitu cepat.

“Kami menyambut positif trigger dari Presiden untuk segera berlari kencang dan tidak terjebak dalam rutinitas dan perdebatan tidak perlu,” tutur Uki.

Selain itu, Uki juga menjelaskan sisi lain dari maksud pidato Presiden Jokowi tersebut. Ia mengatakan, ungkapan Jokowi dalam pidato itu juga memiliki nada sindiran kepada setiap kepala daerah agar tidak melakukan praktik korupsi.

Baca juga: Fadli Zon Soal Cara Berpolitik Prabowo yang Dinilai Mirip Donald Trump

“Dalam pidato tersebut, Presiden juga mengatakan kepada Kepala Daerah, kalau mau kaya silakan ternak kalajengking. Saya menangkap sinyal bahwa Presiden sedang mengingatkan para Kepala Daerah untuk tidak korupsi,” tutur Uki.

Sebagai oposisi, lanjut Uki, Fadli Zon sebaiknya menilai segala ungkapan atau kinerja pemerintah secara tepat, yakni dengan masuk kepada substansi persoalan.

“Saya menghormati pak Fadli, tapi sebagai anak bangsa, saya menyarankan oposisi untuk fokus kepada substansi, bukan hanya yang remeh-temeh seperti memotong-motong ucapan Presiden dan menggulirkan hal tersebut menjadi perdebatan agar demokrasi ini segera berlari cepat menuju demokrasi substansial, demokrasi yang diinginkan oleh Generasi Milenial,” tegas Uki.*

COMMENTS