Komentar Antropolog Budaya Unwira Soal Debat Kedua Pilgub NTT

Komentar Antropolog Budaya Unwira Soal Debat Kedua Pilgub NTT

Visi dan misi setiap pasangan calon, demikian Neonbasu, masih seperti sebuah 'orasi tak bertuan' (Foto: Debat Kedua Pilgub NTT - SINDONews).

KUPANG, dawainusa.com – Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Grefor Neonbasu menanggapi debat kedua Pilgub NTT yang disiarkan secara langsung atau live oleh stasiun televisi swasta iNews di Jakarta, Selasa (8/5) lalu.

Menurut Neonbasu, dalam debat kedua Pilgub NTT tersebut, setiap pasangan calon belum mampu mengidentifikasikan berbagai persoalan di NTT dengan baik dan mendalam.

“Pada debat terbuka kedua di Jakarta beberapa waktu lalu terlihat belum ada pasangan calon yang tegas mengidentifikasi persoalan yang ada di NTT saat ini,” ungkap Neonbasu di Kupang, Jumat (11/5).

Neonbasu mengatakan, setiap pasangan calon hanya mereka-reka dan terus berpijak pada visi dan misi mereka. Padahal, jelas Neonbasu, visi dan misi tersebut juga belum secara maksimal dan mendalam mengungkapkan persoalan di provinsi berbasis kepulauan itu.

“Ada sikap was-was berlebihan setiap pasangan calon dalam debat itu,” tutur KEtua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi NTT tersebut.

Baca juga: Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

Visi dan misi setiap pasangan calon, demikian Neonbasu, masih seperti sebuah ‘orasi tak bertuan’. Ia mengatakan demikian karena dalam debat tersebut jawaban setiap pasangan calon terhadap pertanyaan para panelis debat masih tampak sangat kaku dan tidak produktif.

“Para paslon hampir tidak perduli dengan jawaban analitis terhadap pertanyaan panelis. Masing-masing memberi jawaban hanya bertolak dari visi dan misi sehingga kaku dan tidak produktif,” kata Neonbasu.

Selain itu, Neonbasu juga mengatakan, jawaban dari masing-masing pasangan calon sama sekali tidak skematis sehingga ketika menjawab terutama dalam menjawab pertanyaan yang disampaikan sesama pasangan calon, jawaban yang diberikan tidak mengena sasaran atau kondisi di NTT.

Karena itu, Neonbasu meminta agar setiap pasangan calon mesti perlu memiliki sketsa pemahaman utuh mengenai kondisi di NTT saat ini. Hal ini sangat penting agar mereka dapat memiliki pengetahuan utuh serta kreativitas untuk membangun NTT.

Misalnya, pengetahuan mengenai NTT tidak hanya sekedar memiliki penduduk miskin, tetapi juga bahwa NTT itu memiliki potensi lain yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. “Sayangnya itu tidak disebut oleh satu paslon pun, mereka juga tidak memberikan solusi-solusi kongkrit terhadap persoalan yang disampaikan,” ujar Neonbasu.

Tidak Memakai Data

Pada kesempatan lain, Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Bataona juga memberikan komentar tentang debat kedua Pilgub NTT tersebut. Ia mengatakan, seharusnya dalam debat tersebut, setiap pasangan calon beradu argumentasi dengan berpijak pada data terkait masalah di NTT secara khusus yang berhubungan dengan tema debat, yakni soal “Penataan Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi”.

“Pada acara debat kedua ini juga normatif dan sepertinya semua calon mengemukakan format berpikir yang sangat ideal. Tidak ada satupun yang menggunakan data,” ungkap Bataona di Kupang, Kamis (10/5).

Baca juga: Debat Kedua: Solusi Paslon Soal Penataan Birokrasi di NTT

Karena tidak berbasis data, demikian Bataona, debat kedua tersebut terlihat sangat mengawang, tanpa menyentuh langsung persoalan di NTT. Padahal, jelas Bataona, penggunaan data dalam suatu debat sangat penting agar solusi yang ditawarkan juga sesuai dengan kebutuhan.

Bataona mengatakan, data tersebut merupakan alat pembanding. Misalnya, data soal penempatan jabatan di lingkungan pemerintahan dan korupsi di NTT. Data seperti ini, kata Bataona, mesti disajikan lalu digunakan untuk berdebat.

“Panelis sudah sedikit memancing dalam pertanyaan tetapi hal ini gagal dimaksimalkan oleh semua paslon. Mereka tidak berani bicara berbasiskan data dan hanya menyampaikan hal-hal ideal tentang birokrasi dan juga mimpi-mimpi mereka untuk gerakan anti korupsi di NTT,” tutur Bataona.

Debat Kedua Pilgub NTT: Ajang Saling Memuji

Selain itu, Bataona juga menyanyangkan aksi saling memuji di antara pasangan calon debat kedua Pilgub NTT itu berlangsung. Ia mengatakan, debat sesungguhnya merupakan ajang pertengkaran ide atau gagasan.

Karena itu, setiap pasangan calon seharusnya berusaha untuk saling mempertanyakan, menguji, mengkritisi bahkan menelanjangi setiap gagasan dari pasangan calon lain untuk menemukan jawaban yang betul-betul dapat mengatasi persoalan di NTT.

Baca juga: Debat Kedua Pilgub NTT, Ini Permintaan Pihak KPU

“Ada beberapa sesi di mana para paslon saling memuji juga baik tetapi harusnya memuji dengan mendebat kualitas jawaban lawan. Itu tidak terlihat. Debat itu acara di ruang publik atau dalam bahasa filosofis adalah sebuah hajatan di polis. Bukan di rumah atau oikos,” kata Bataona.

Aksi saling memuji dalam debat tersebut, demikian Bataona, merupakan bentuk kegagalan pasangan calon dalam memahami hakikat dari debat itu. Padahal, jelasnya, debat itu sendiri juga dilaksanakan dengan menghabiskan anggaran yang besar.

“Ini patut disayangkan karena mengeluarkan biaya yang tidak kecil dari APBD NTT, tapi hanya menghasilkan hal yang biasa-biasa saja,” tegas Bataona.*

COMMENTS