Klaim Frans Lebu Raya Soal Kualitas Pendidikan di NTT

Klaim Frans Lebu Raya Soal Kualitas Pendidikan di NTT

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengklaim bahwa kualitas pendidikan di daerah tersebut sudah semakin membaik ketimbang kondisi pendidikan di era 2000-an. (Foto: Frans Lebu Raya - ist)

KUPANG, dawainusa.com Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya (FLR) mengklaim bahwa kualitas pendidikan di daerah tersebut sudah semakin membaik ketimbang kondisi pendidikan di era 2000-an. Hal itu disampaikan FLR sebagai tanggapan atas peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018.

“Pendidikan di NTT pada tahun 2000-an itu sudah jauh berbeda dengan kondisi pendidikan yang terjadi pada 2018. Kita harus jujur mengakui itu,” ungkap FLR di Kupang, Rabu (2/5).

Meski tidak secara jelas terkait apa tolok ukur bahwa daerah berbasis kepulauan itu mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, FLR mengaku puas dengan kondisi pendidikan yang ada.

Baca juga: Di Mata Mendikbud, NTT Adalah Borok Pendidikan Indonesia

“Sebagai orang yang berlatar belakang guru, saya merasa puas dengan kemajuan pendidikan di daerah ini. Artinya, prestasi pendidikan yang diraih pada tahun 2000-an itu, tentu berbeda jauh dengan saat ini,” kata FLR.

FLR mengatakan, kemajuan pendidikan di NTT tersebut memang tidak dapat dibandingkan dengan kualitas pendidikan di provinsi lainnya di Indonesia.

“Kalau kita bandingkan NTT jangan dengan Jawa Timur, itu tidak nyambung, tapi membandingkan pendidikan NTT hari ini dengan lima tahun lalu, itu baru cerdas,” tutur FLR.

Terus Benahi Sarana dan Prasarana

Selain itu, FLR juga menegaskan bahwa pemerintah akan selalu membenahi berbagai sarana dan prasarana guna mendukung kemajuan pendidikan di NTT. Setiap sekolah, jelas FLR, akan selalu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman.

“Para guru juga terus menerus ditingkatkan kapasitas dan kompetensinya melalui lembaga penjamin mutu pendidikan,” tutur FLR.

Baca juga: Peduli Pendidikan NTT, Kota Komba Jogja Sumbang 300 Buku ke SDI Pedak-Matim

FLR juga menekankan tentang pentingnya partisipasi dan peran setiap orang selain pemerintah untuk mewujudkan hal ini. Ia mengatakan, semua pihak secara khusus para orang tua mesti mampu membimbing anak-anak mereka agar dapat bertumbuh menjadi pribadi yang kompeten dan berkarakter baik.

“Keluarga dan masyarakat juga berperan sangat penting, sehingga yang disebut tri pusat pendidikan (pemerintah, keluarga, masyarakat) itu meski jalan berbarengan,” tegas FLR.

Menrutnya, agar sistem pendidikan di setiap sekolah terus menerus dibenahi dengan mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada.

Sebab, jelas FLR, saat ini setiap sekolah akan diwajibkan untuk menggunakan teknologi dalam proses penyelenggaraannya. Misalnya, ujian nasional yang diselenggarakan dengan memakai sistem UNBK.

Integritas Siswa Semakin Bertumbuh

Senada dengan FLR, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) Muhadjir Effendy juga mengatakan bahwa pendidikan di NTT sudah semakin membaik.

Muhadjir mengatakan, hal itu dapat diukur lewat tumbuhnya integritas siswa untuk mengikuti pendidikan di sekolah. Ia mengungkapkan, kesadaran anak-anak di NTT tentang pentingnya mengenyam pendidikan semakin meningkat.

Baca juga: Rekomendasi Penting Hasil RNPK Soal Pendidikan di Indonesia

“Pendidikan di NTT berkembang pesat dengan tumbuhnya integritas siswa ketika mengikuti pendidikan di sekolah,” ungkap Muhadjir sebagaimana dikutio Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang usai menerima kunjungan Mendikbud di Istana Keuskupan Agung Kupang di Oepoi, Kupang, Sabtu (28/4).

Menurut Muhadjir, fakta ini mesti direspon dengan baik oleh berbagai kalangan secara khusus pihak-pihak yang menjadi pelaku utama dalam memajukan pendidikan anak didik.

Ia mengatakan, peran lembaga pendidikan seperti lembaga keagamaan juga mesti dimaksimalkan untuk membentuk karakter anak didik. Sebab lembaga seperti ini, jelas Muhadjir, memiliki daya atau kekuatan untuk mempengaruhi kualitas karakter dan jati diri anak didik.

“Jika tidak dipahami secara baik, pembangunan karakter anak bangsa yang dilakukan lembaga keagamaan bisa berbeda sesuai versi masing-masing sehingga bisa menjadi kendala dalam pembangunan integritas siswa dalam dunia pendidikan,” ujar Muhadjir.*

COMMENTS