Klaim Amien Rais soal Dukungan Para Ulama kepada Prabowo

Klaim Amien Rais soal Dukungan Para Ulama kepada Prabowo

Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Amien Rais mengklaim, para ulama dan habib yang bergabung dalam barisan alumni 212 mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019. (FotoL Amien Rais - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Amien Rais mengklaim, para ulama dan habib yang bergabung dalam barisan alumni 212 mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Ia mengatakan, sangat tidak mungkin para alumni 212 memberikan dukungan kepada calon presiden petahana Joko Widodo.

“Saya enggak bisa mengatasnamakan (PA 212). Tapi sepertinya para ulama dan habib PA 212 sudah jelas. Saya enggak mendahului, cuma arahnya bukan ke Pak Jokowi,” jelas Amien setelah mengikuti gerakan Indonesia salat subuh di Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (13/4).

Selain mengatakan demikian, Amien juga mengklaim, belakangan ini, elektabilitas dan pamor Presiden Jokowi sudah semakin menurun. Hal itu, demikian Amien, terjadi karena berbagai kesalahan yang dilakukan oleh Jokowi bersama para pendukungnnya.

Baca juga: Pilpres 2019: Kehadiran Prabowo dan Tantangan Berat Jokowi

Berbagai kesalahan itu, terang Ketua Majelis Kehormatan PAN ini, telah diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu, sebagai masyarakat yang cerdas, mereka tidak akan mungkin memilih Jokowi lagi untuk menahkodai NKRI.

“Misalnya, meminta agama dipisahkan dari politik. Ada kesalahan perpres, kepres tenaga asing sebanyak mungkin dimasukkan. Kesalahan Sukmawati bilang kidung lebih merdu dari azan. Kemudian ada kesalahan pengelabuan, misal dikatakan utang Rp4 ribu triliun enggak masalah, jual macam-macam BUMN enggak masalah,” tutur Amien.

Seruan Ganti Presiden Semakin Besar

Sementara itu, Anggota Penasihat PA 212 Eggi Sudjana mengklaim, banyak masyarakat Indonesia yang menghendaki agar Jokowi tidak lagi memimpin NKRI. Ia mengatakan, seruan untuk menggantikan Jokowi sebagai Presiden RI sudah semakin besar.

Gelombang seruan itu semakin membeludak, demikian Eggi, ketika komunitas umat Islam mengikuti gerakan Indonesia salat subuh. “Oleh karena itu ganti presiden suatu keniscayaan, dan insyaallah menang dan legal,” ujar Eggi.

Baca juga: Prabowo Maju Capres, Koalisi Partai Pendukung Jokowi Rapatkan Barisan

Selain itu, Eggi juga mengharapkan agar dalam Pilpres 2019 nanti tidak lagi ada poros ketiga. Ia meminta agar PAN dan PKB sebaiknya dapat berkoalisi dengan partai pendukung Prabowo Subianto.

“Kita sekarang sudah head to head Jokowi-Prabowo. Kita berikan sekali lagi kesempatan ini, jangan pecah umat. Kalau mau dibagi, ada partai pendukung penista agama, ukurannya waktu (kasus) Ahok. Ada partai yang mendukung gerakan umat Islam,” tutur Eggi.

Meski demikian, sejauh ini PA 212 belum menyatakan secara resmi terkait dukungan mereka untuk Pilpres 2019. Mereka masih menunggu perintah pembina tunggal PA 212 Rizieq Shihab.

Tagar Ganti Presiden Viral di Media Sosial

Belakangan ini, berbagai seruan agar Presiden Jokowi tidak lagi memimpin NKRI memang terus bermunculan. Misalnya, beberapa hari lalu, gerakan tagar #2019Ganti Presiden sempat menjadi viral di jagat media sosial seperti Twitter.

Tagar #2019Ganti Presiden itu sendiri diinisiasi oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera. Sebagai bagian dari oposisi pemerintahan Jokowi, ia menggagas hal tersebut dengan tujuan untuk mengajak masyarakat Indonesia agar tidak lagi memilih Jokowi sebagai Presiden RI dalam Pilpres 2019 mendatang.

Baca juga: Benarkah Prabowo Sebagai Lawan Mudah Jokowi?

Gerakan itu sendiri kemudian ditanggapi oleh berbagai pendukung Jokowi. Salah satunya ialah pengamat politik Boni Hargens. Ia menilai, tagar ganti presiden tersebut sengaja dipromosikan oleh lawan politik Jokowi untuk mendelegitimasikan pemerintahan Jokowi.

Menurut Boni, dalam konteks negara hukum demokratis, hal seperti itu memang dapat diterima. Akan tetapi, ia mengatakan, apabila hendak mendelegitimasikan suatu pemerintahan yang sah, sebaiknya mesti dilakukan dengan cara-cara rasional dan berkualitas.

“#2019gantipresiden, itu tagar yang ramai dipromosikan lawan Jokowi. Kalau sudah ada yang terbaik, kenapa mikir ganti? Demokrasi memang membolehkan oposisi berjuang mendelegitimasikan pemerintah. Tetapi harus dengan cara yang bermutu. Supaya bermutu, gerakan oposisi mesti mempunyai motivasi yang baik dan tujuan yang luhur,” tulis Boni Hargens melalui akun instagramnya, Selasa (10/4).*

COMMENTS