Kisah Wanita Ditelan Ular dan Sulawesi sebagai Kerajaan Piton

Kisah Wanita Ditelan Ular dan Sulawesi sebagai Kerajaan Piton

Menurut informasi warga di sekitar lokasi korban ditemukan, sering terlihat ular piton berkeliaran. Beberapa kalangan juga menyebutkan bahwa Sulawesi merupakan kerajaan Piton.(Foto: Puluhan warga Sulsel menangkap ular Piton pada 2016 lalu - Tribunnews.com)

MUNA, dawainusa.com Wa Tiba (54), wanita yang ditemukan di dalam perut ular piton di Desa Persiapan Lawela Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Jumat (15/6) terbilang berani mengambil resiko. Ternyata, petani yang sudah lanjut usia itu membuka lahan kebun di sekitar lokasi sarang ular.

Menurut informasi warga di sekitar lokasi korban ditemukan, sering terlihat ular piton berkeliaran. Mereka mengatakan, ular-ular ini bahkan sering berusaha memangsa hewan berukuran besar seperti sapi.

“Pernah ada sapi milik warga yang dipelihara di sekitar lokasi itu nyaris ditelan ular sekitar enam bulan lalu,” ujar Kepala Desa Persiapan Lawela, Faris seperti dilansir Liputan6.com, Sabtu (26/6).

Baca juga: Kasus Chat Mesum Dihentikan, PA 212 Minta Pemfitnah Rizieq Tobat

Malah, menurut Faris, ular yang dilihat warga saat itu berukuran lebih besar dari ular yang memangsa Wa Tiba. Warga menduga, lokasi bebatuan gamping yang memiliki rongga-rongga di wilayah itu ditinggali kawanan ular piton.

Kata Faris, warga desa lainnya sering membunuh ular dengan ukuran yang lebih kecil di sekitar rumah mereka. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari kebun korban yang tewas ditelan ular.

“Lokasi berkebunnya korban memang angker dan dijauhi warga sekitarnya. Hanya dua orang yang berani disitu,” ujar Faris.

Warga lainnya yang memiliki kebun di sekitar lokasi tempat korban di perut ular piton diketahui bernama La Haruni. Jaraknya sekitar 500 meter dari korban ditemukan.

Warga mengeluarkan korban dari perut ular Piton

Warga mengeluarkan korban dari perut ular Piton (Foto: ist)

Lokasi Angker, Petani Lain Pilih Menjauh

Camat Lohia, Hajar Sosial mengatakan lokasi tempat korban ditemukan tewas ditelan ular dikenal warga sekitar cukup angker. Sebab, sejumlah kejadian yang dianggap warga tidak masuk akal terjadi di wilayah itu.

“Pernah ada orang hilang, perempuan. Pernah juga ada orang yang meninggal tiba-tiba di wilayah itu,” ujar Hajar Sosi.

Baca juga: London Breed, Perempuan Kulit Hitam yang Jadi Walikota San Francisco

Hajar mengatakan, korban yang meninggal tiba-tiba itu terlihat warga tewas tergantung. Saat ditemukan, warga berjenis kelamin laki-laki itu terlilit di pohon enau oleh sarung yang dipakainya.

“Memang, warga lain menjauh. Tapi, mau diapakan karena memang lokasi itu dijadikan korban sebagai tempat menanam jagung,” ujar Hajar Sosi.

Soal ular, Hajar Sosi menduga daerah itu banyak dihuni kawanan ular. Pasalnya, ada beberapa lokasi bebatuan berbentuk gua yang kemungkinan berisi hewan melata.

“Memang banyak, sebab pernah warga juga melihat ular yang lebih besar ukurannya dari yang memangsa korban,” ujar Hajar Sosi.

Pesan Terakhir

Sebelum pergi meninggalkan rumah, Kamis (14/6) korban ternyata sempat menitip pesan pada anak perempuannya. Korban mengatakan, akan kembali untuk membuat lapa-lapa, panganan untuk merayakan Idul Fitri.

“Dia bilang akan ke kebun dulu, setelah itu baru pulang akan membuat lapa-lapa. Ternyata, dia tak kembali sampai pagi,” ujar Camat Desa Lohia, Hajar Sosi.

Baca juga: Goenawan Mohamad, Menuju Pameran Kolaborasi 57 x 76

Hajar mengatakan, setelah warga langsung turun mencari setelah korban dilaporkan hilang. Apalagi, warga sudah curiga atas laporan adik kandung korban La Miranda.

“Dicari sama adik kandungnya, ternyata yang ditemukan hanya parang dan sendal korban di dalam kebun,” kata Hajar Sosi.

Saat La Miranda memeriksa lokasi, ada semacam jejak ban mobil di dalam kebunnya. Selain itu, rerumputan di sekitaran parang dan sendal korban dalam keadaan teracak-acak.

“Tapi La Miranda langsung kembali ke kampung memanggil warga karena memang dia tidak melihat kakaknya saat itu, ” ujar Hajar Sosi.

Pulau Sulawesi sebagai Kerajaan Piton

Seperti dilaporkan Tribunnews.com, Minggu (17/6), beberapa kalangan meyakini Pulau Sulawesi adalah kerajaan bagi ular piton, lebih-lebih wilayah Sulawesi Barat.

Tiga (Mamuju, Mamuju Utara dan Mamuju Tengah) dari enam kabupaten di sana termasuk “sarang” ular piton terbesar di Indonesia.

Baca juga: Lawatan Tokoh NU dan Kecaman Palestina

Polisi Kehutanan (Polhut) Resort Mamuju, mengungkapkan hampir semua titik wilayah Mamuju Tengah terdapat ular piton atau ular sanca kembang.

Bidang Konserfasi Sumber Daya Alam, Polhut Resort Mamuju, Hardi, kepada TribunSulbar.com setahun yang lalu mengatakan, hampir semua wilayah di Mamuju Tenga itu terdapat ular piton atau sanca.

“Apalagi dikanal-kanal kebun sawit itu hampir semua ditempati,” tambahnya

Ia mengungkapkan, daerah Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar, merupakan daerah yang paling banyak ular Piton menyebar. Menurutnya, menyebarnya ular Piton di wilayah tersebut, dikarenakan habitatnya terganggu.

“Gara-gara habitatnya ini terganggu oleh pembukaan lahan sawit, makanya menyebar dan hampir semua wilayah di Mateng terdapat, apalagi di Salubiro,” paparnya.

Menurutnya, Piton paling sering terlihat di wilayah tersebut saat memasuki musim kemarau dan hujan. “Kalau sudah musim kemarau dan hujan pasti banyak bermunculan,” ujarnya.*

Video Korban yang Ditelan Ular Piton

COMMENTS