Kisah Mantan Tentara Anak Muslim dan Kristen di Ambon

Kisah Mantan Tentara Anak Muslim dan Kristen di Ambon

AMBON, dawainusa.com – Ronald Regang dan Iskandar Slamet adalah dua orang putra Ambon yang punya pengalaman hidup yang luar biasa. Keduanya kini menjadi duta perdamaian, suatu pilihan hidup yang tidak mudah karena mengandung banyak risiko.

Pasalnya, pada tahun 1999, saat konflik berd arah antara Kristen dan Muslim di Ambon pecah, mereka terseret dalam bara kebencian, dendam, saling menyerang dan membunuh.

Ronald Regang yang saat itu baru berumur 10 tahun, menjadi komandan pasukan anak Kristen, sementara Iskandar Slamet yang menginjak usia 13 tahun bergabung dengan pasukan Jihad.

Baca juga: Kasus Montara: Rakyat NTT Terbelah, Australia Masa Bodoh?

Namun saat konflik mulai mereda, menyusul Perjanjian Malino pada tahun 2001, mereka mengalami trauma mendalam atas pengalaman traumatis itu. Mereka dicerca bahkan dicurigai sebagai biang kerok dari tragedi keji yang menelan ribuan jiwa itu.

Perjanjian Malino adalah sebuah perjanjian damai yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Desember 2001 di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Perjanjian ini mempertemukan pihak Kristen dan Islam yang bertikai di Poso dalam konflik komunal sepanjang tahun 2000 hingga 2001.

Keduanya menuturkan, di tengah masyarakat yang terpecah saat itu, mereka dituduh sebagai bagian dari penyebab kerusuhan. Meskipun saat konflik berlangsung, mereka dianggap sebagai pahlawan di medan tempur.

“Dulu kita dianggap sebagai pahlawan karena kita maju di medan pertempuran di garis depan, nyawa taruhan kita, dulu kita dianggap sebagai Tuhan kedua dalam medan pertempuran. Setelah konflik memang kita dikucilkan,” cerita Ronald sebagaimana diberitakan BBC, Selasa (24/4).

“Kalau tak ada kita saat itu, apakah kalian masih ada? Tidak ada daerah Kristen yang masih bertahan berapa belas tahun. Atau daerah muslim yang bisa bertahan. Saya tak tahu mengapa orang berpikir seperti itu…memang sakit hati,” tambahnya.

Sementara itu, Iskandar justru melampiaskan rasa stres dan frustrasinya dengan terlibat dalam dunia narkoba. “Jadi bandar, jadi pemakai, kehidupan malam,” kata Iskandar.

Bertemu Dalam Suatu Acara Lintas Damai

Salah seorang Pemimpin Gereja setempat, Pendeta Jacky Manuputty menuturkan, kedua mantan kombatan anak dan bekas musuh ini bertemu dalam salah satu acara lintas damai yang melibatkan Lembaga Antar Iman Maluku, wadah yang diorganisir Pendeta Jacky dan Ustad Abidin.

Jacky mengatakan, saat masuk ke Young Ambassador for Peace, staf Lembaga Antar Iman Maluku bertemu dengan mantan fighters (pejuang), jihadis mini. Meskipun sempat menegang, pertemuan ini pun mampu menjadi wadah para mantan tentara anak menceritakan pengalaman dan perasaan masing-masing.

Baca juga: Gizi Buruk di NTT, dari Perubahan Mindset Orang Tua hingga Daun Kelor

“Saya tulis saya paling benci sama orang Kristen, karena kakak saya hancur kakinya, sepupu saya mati. Lalu saya bakar semua (tulisan itu),” cerita Iskandar mengenang pertemuan dengan mantan petempur Kristen pada 2006 lalu.

Perasaan berbeda dirasakan Ronald. Dirinya mengaku saat itu tidak ada kemarahan tetapi perasaan bersalah.

“Saya minta maaf kepada orang Muslim yang pernah saya bunuh, saya minta maaf untuk semua orang Muslim dan saya katakan bukan saya saja yang membunuh, tapi semua orang saat itu membunuh, prinsipnya adalah bila tak membunuh akan dibunuh,” ungkap Ronald.

Pendeta Jacky mengatakan, saling bertemu antara mantan tentara anak Muslim dan Kristen ini merupakan salah satu langkah awal untuk memulihkan trauma dan sekaligus membangkitkan rasa saling percaya antara dua komunitas yang terpecah.

Mereka juga diajak keluar Ambon, ke Jogjakarta, Jakarta dan juga Filipina, dalam berbagai kegiatan untuk menceritakan pengalaman sebagai bekas kombatan anak.

“Dia (Ronald) dihormati sebagai fighters (pejuang) di dalam konflik, ketika konflik selesai, masyarakat umumnya menyingkirkan mereka. Dan menganggap mereka sebagai orang-orang bermasalah di masyarakat. Mereka dikucilkan,” kata Pendeta Jacky.

Menjadi Duta Damai

Sementara Ustad Abidin, ketua Majelis Ulama Indonesia, Maluku mengatakan, melalui perjumpaan secara intensif mereka saling memahami bahwa mereka menjadi korban.

“Anak-anak seusia mereka yang juga mengalami korban yang sama, kakek, nenek, saudara, sahabat yang meninggal atau bahkan kampung halaman yang dibakar. Dari situ mereka berjumpa dan ternyata mereka menyadari mereka memiliki nasib yang sama,” ungkap Abidin.

Baca juga: Tawa Sang Presiden, Sindir Pidato Prabowo?

Proses untuk kembali merajut saling percaya ini dilanjutkan dengan saling berkunjung ke wilayah masing-masing, perjalanan melintas batas tempat tinggal yang sangat berat dilakukan saat itu sekalipun konflik mulai mereda.

“Mereka bisa tinggal di rumah laskar jihad (misalnya), dari situ anggapan bahwa yang berjenggot jahat ternyata tidak,” katanya.

“Orang seperti Ronald, dia bertemu seorang ustad, yang sebelumnya dia anggap identik dengan teroris dan pertemuan ini merubah prospektif terhadap orang yang semula dianggap jahat,” tambahnya.

Persahabatan dan saling percaya yang ditunjukkan ustad dan pendeta ini menjadi salah satu kunci bagi para mantan tentara anak untuk kembali membangkitkan rasa saling percaya.

“Saat mereka kembali ke komunitas masing-masing, mereka dikelilingi oleh orang yang masih memendam kebencian satu sama lain, karena itu kami mulai mengajak mereka untuk saling mengunjungi,” kata Pendeta Jacky yang saat ini menjadi asisten utusan khusus presiden untuk dialog dan kerjasama antariman dan antarperadaban.

“Dia (Ronald) melihat saya dan Ustad Abidin menjadi sahabat dan keluarga, dan itu merubah citra dia tentang Muslim. Kami pertemukan dia dengan teman-teman Muslim. Dia membandingkan dengan apa yang dia pahami sebelummya. Rasa percaya mulai tumbuh. Kami libatkan dia dalam lingkungan yang lebih luas,” kata Jacky.

“Dia percaya Ustad Abidin sebagai panutan (untuk percaya Muslim) dan saya menggaransi (kepercayaan itu). Dari Ustad Abidin dia bangun rasa percaya,” tambahnya.

Masyarakat Maluku dan Ambon pada khususnya saat ini masih tinggal terkotak-kotak. Ada wilayah Kristen dan ada wilayah Muslim. Segregasi sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda yang memang menempatkan masyarakat sedemikian rupa dalam kebijakan memecah belah. Namun konflik menjadikan pemisahan menjadi permanen.

Saat ini, Pendeta Jacky menempatkan kerentanan konflik pada angka enam, dalam skala satu sampai sembilan. “Masih rentan karena memakan waktu lama untuk menyembuhkan trauma,” katanya.

“Masih ada 40% sampai 50% kemungkinan (konflik), kita harus perkuat terus lewat provokasi perdamaian, perbanyak teman-teman muda. Mereka jadi amunisi hidup ketika konflik terjadi,” kata Jacky.

Pengalaman Kolektif Masa Lalu Mulai Tumbuh

Selain itu, dalam masyarakat pada umumnya, tambah Jacky, tumbuh kesadaran kolektif bahwa kedua kelompok yang bertikai sama-sama hancur, sama-sama rugi dan sama-sama dimanfaatkan oleh orang lain untuk memperoleh keuntungan.

“Namun trauma masa lalu masih belum tuntas, belum selesai. Orang hanya menjaga agar jangan sampai terjadi. Orang belum sampai pada proses penyembuhan secara kolektif. Orang masih mengingkari atas apa yang terjadi di masa lalu. Belum ada penyembuhan kolektif,” katanya.

Baca juga: TKI Zaini Dipancung dan Dalil Guru Besar Filsafat

Dari ratusan mantan kombatan anak yang terlibat dalam konflik Maluku, diperkirakan hanya sekitar 50 yang mengalami proses pemulihan dan menjadi “duta damai” melalui gerakan yang dinamakan Provokator Perdamaian.

Banyak lainnya yang terlibat dalam dunia keras, preman atau menjadi penagih hutang di kota-kota besar. Bagi Ronald dan Iskandar dan sejumlah kecil mantan kombatan muda lainnya, penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan saat ini juga menjadi faktor kunci.

“Apa yang Ronald peroleh adalah respect (dihargai)) dalam level yang sama tapi sebagai pekerja perdamaian. Ini reward (penghargaan), dia dihargai, dihormat,i dicintai, dan dia beri kesempatan untuk dapat bekerja bagi perdamaian,” kata Jacky.

Berbagai aktivitas bersama yang mereka lakukan termasuk bengkel seni, baca puisi, tari, hip hop dan pecinta alam. Di lapangan, selain beragam aktivitas ini, Ronald dan Iskandar dan teman-teman mereka juga sibuk mencegah tersebarnya ujaran dan isu kebencian lewat media sosial untuk menjaga kebersamaan masyarakat yang pernah terluka parah akibat kerusuhan paling berdarah di Indonesia ini.

Awal Hembusan Perdamaian

Konflik paling berdarah di Indonesia dengan korban lebih dari 5.000 orang meninggal, membuat banyak orang tak punya waktu untuk rasional, dan hanya dapat bertahan, bunuh atau dibunuh.

“Saya terlibat dalam konflik untuk memotivasi Kristen mempertahankan hidup dan milik mereka,” kata Pendeta Jacky.

Sejak konflik pecah pada Januari 1999, Pendeta Jacky sempat mengalami masa terombang ambing: membela komunitasnya atau melihat konflik sebagai bencana kemanusiaan

Undangan Sinode Gereja Presbyterian di New York City, beberapa bulan setelah kerusuhan pecah, yang seolah “memanggang sekujur tubuhnya” saat itu.

Saat datang ke Amerika Serikat pada April 1999, ia hanya bercerita tentang korban Kristen, pernyataan yang mengundang pertanyaan dari pihak gereja Amerika.

“Mengapa Anda hanya bercerita tentang orang Kristen yang menjadi korban di Maluku? Staf kami baru kembali dari Indonesia dan menginformasikan bahwa banyak Muslim juga menjadi korban,” cerita Pendeta Jacky.

Pertanyaan pihak gereja yang membuatnya malu, gelagapan dan tertunduk dalam diam ini, menjadi salah satu awal perjalanannya melihat konflik sebagai bencana bagi masyarakat Maluku secara keseluruhan dan bukan konflik agama.

Hal itulah yang menjadi salah satu titik awal baginya untuk menjalin komunikasi dengan pihak Muslim dan ikut mengupayakan perdamaian.

“Namun pada saat itu saya tak bisa mempublikasikan perdamaian karena ketika orang mabuk akan perang, bisa bahaya. Kami kerja di bawah tanah,” ceritanya lagi.

Perjalanan panjang ini yang membawanya bertemu dengan para pemuka Muslim, salah seorang di antaranya Ustad Abidin Wakano.

Perjalanan ini juga yang membawa keduanya bersahabat dan berupaya menjadi “panutan” untuk ikut merajut rasa saling percaya komunitas Kristen dan Muslim yang saat itu mencapai titik saling benci dan dendam yang begitu tinggi.*

COMMENTS