Keasyikan Berenang, Siswi SMP di Larantuka Tewas Tenggelam

Keasyikan Berenang, Siswi SMP di Larantuka Tewas Tenggelam

Korban berenang menggunakan pelampung jerigen. Tanpa diketahui, ternyata jerigen yang digunakan korban tidak memiliki tutupan sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam Jerigen. (Foto: Ilustrasi tenggelam - ist)

LARANTUKA, dawainusa.com Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Seperti itulah peristiwa yang menimpa keluarga besar dari  Angelina Bota Tobin (12), remaja putri asal Desa Adabang, Titehena Flores Timur.

Keluarga terpaksa merelakan kepergian Angelina untuk selamanya yang tewas karena tenggelam, pada Minggu (29/4).  Siswi salah satu SMP di Kota Larantuka itu tenggelam karena hal yang sepele.

Jeny, demikian korban akrab disapa, berenang menggunakan pelampung jerigen. Tanpa diketahui, ternyata jerigen yang digunakan korban tidak memiliki tutupan sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam Jerigen. Jerigen tenggelam dan Jeny pun ikut tenggelam.

Baca juga: Sambil Berpelukan, Dua Bocah Asal Soe Tewas Tenggelam

Kapolres Flotim, AKBP Arri Vaviriyantho sebagaimana diberitakan Tribunnews.com, Senin (30/4) menuturkan, kejadian itu berawal saat korban bersama dua sahabatnya Sintia Riberu (11) dan Ranti Tukang (11), pergi mandi di Pantai Wutuwalu, Desa Adabang.

Semula Korban, demikian jelas Kapolres Arri, berenang di tepian menggunakan jerigen berukuran lima liter. Keasyikan berenang, korban kemudian menuju ke tempat yang lebih dalam.

Melihat korban tenggelam, Sintia dan Ranti teriak meminga pertolongan. Teriakan kedua teman korban didengar oleh Simon Petrus Klafer Teluma (18).

Simon yang sedang memancing di sekitar lokasi langsung berenang dan menarik korban dari dasar laut dengan kedalaman sekitar lima meter.

Setelah Simon menarik korban ke darat, ia melarikan korban ke Puskesmas Lato. Namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

“Di Puskesmas Lato, korban sempat mendapat pertolongan dari dokter. Namun nyawanya tak terselamatkan,” kata Kapolres Arri.

Kejadian Serupa

Sebelumnya, pada Januari 2018 lalu, peristiwa yang sama menimpa Yanda, bocah 9 tahun asal Kabupaten Tamnggus, Lampung  yang tenggelam di perairan Way Semaka.

Kapolres setempat, Muji Harjono, mengungkapkan kejadian itu bermula ketika korban bersama ibunya, Linda  pada Minggu (4/1) mandi di aliran Way Semaka.

Baca juga: Buang Bayinya Sendiri, Mahasiswi Kedokteran Hewan Undana Terancam Pidana Maksimum

Muji menerangkan, korban masin berusia 9 tahun dan merupakan anak dari Pasutri Bapak Nasir dan Ibu Linda. Mereka merupakan warga dusun III Pekon Sripurnomo. Sehari-hari lanjut Muji, keluarga tersebut memang biasa mandi di sungai Way Semaka. Namun tiba-tiba sore itu korban tenggelam dan terseret air sungai.

Setelah melakukan pencarian, Muji menjelaskan, tubuh korban berhasil ditemukan dua jam setelah kejadian. Namun ketika ditemukan, Korban sudah dalam keadaan tak bernyawa.

“Tubuh korban ditemukan sekitar 300 meter dari TKP awal tenggelam. Meskipun tidak terlalu jauh jaraknya dari titik awal, namun korban tidak selamat,” ungkap Kapolres Muji.

Tenggelam, Sejak 2015 Hingga 2018, 60 Orang Tewas di Perairan Babel

Sementara itu, di Provinsi Bangka Belitung (Babel) dalam tiga tahun terakhir sejak tahun 2015 hingga 9 April 2018 ada 60 korban yang tewas tenggelam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa mengatakan, korban tewas akibat tenggelam di pantai dan laut serta sungai.

Baca juga: Enam Orang Nelayan Asal Bima Hilang di Perairan Komodo

Di tahun 2015, lanjut Mikron, dari 83 korban 23 tewas, 2016 24 Korban, tewas 9 orang, 2017 dari 45 korban, meninggal 17 0rang, tahun 2018 hingga April dari 31 korban, meninggal 3 0rang.

“Untuk korban tewas tenggelam ini totalnya ada 60 orang dari 183 korban. Rata-rata, anak-anak, nelayan dan wisatawan saat mandi di sungai dan pantai, khususnya sungai Liat Bangka,” ucap Mikron.

Mengingat tingginya korban tewas, Mikron menghimbau bagi nelayan, wisatawan dan juga para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Harus tetap waspada, dan untuk wisatawan kita himbau untuk tidak bermain air tahu berenang terlalu jauh, sebab kondisi gelombang dan kedalaman air khusus di Pantai di wilayah Sungai Liat Bangka sangat berbahaya dan selalu menimbulkan korban jiwa,” katanya.*

COMMENTS