Kaya Potensi Pariwisata, DPRD NTT Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Kaya Potensi Pariwisata, DPRD NTT Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini ialah Dinas Pariwisata mesti terus melakukan komunikasi secara intesif kepada Pemerintah Pusat (Foto: Tarian Caci Manggarai - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Yunus Takandewa meminta dukungan Pemerintah Pusat dalam rangka meningkatkan kemajuan pariwisata di daerah berbasis kepulauan tersebut.

“Paling tidak, kegiatan pariwisata nasional yang akan dihelat di daerah, dilakukan launching secara nasional agar gaungnya lebih mendunia,” ungkat Yunus di Kupang, Jumat (25/5).

Yunus mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini ialah Dinas Pariwisata mesti terus melakukan komunikasi secara intesif kepada Pemerintah Pusat. Dengan demikian, potensi pariwisata di NTT dapat dikembangkan dengan baik dan maksimal.

Baca juga: Ini 10 Destinasi Pariwisata Menarik di Labuan Bajo

“Kita berharap Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Dinas Pariwisata agar melakukan komunikasikan intensif dengan Pemerintah Pusat, sekiranya bisa mendukung pemerintah provinsi dalam mendorong beberapa kegiatan pariwisata daerah,” ujar Yunus.

Menurut Yunus, NTT merupakan salah satu daerah potensial dalam bidang pariwisata untuk dipromosikan. Karena itu, permintaan agar Pemerintah Pusat dalam memberikan perhatian terhadap hal ini pasti akan diindahkan.

“Buktinya kehadiran Presiden Jokowi saat parade 1001 kuda dan festival tenun ikat 2017 yang lalu di Sumba merupakan dukungan politik pemerintah pusat bahwa pariwisata merupakan salah satu upaya pencapaian kesejahteraan rakyat,” tutur Yunus.

Daerah NTT, jelas Yunus, memiliki banyak kekayaan pariwisata baik dari alam maupun budaya. NTT, kata dia, mempunyai keunikan tersendiri seperti dengan adanya ragam budaya, sosial etnik, alam dan bahari.

Dengan dukungan dari pemerintah pusat, Yunus optimis bahwa segala potensi pariwisata tersebut akan sangat berguna baik untuk kepentingan daerah maupun nasional.

Soal Potensi Pariwisata di NTT

Daerah NTT memang merupakan salah satu tempat yang memiliki potensi pariwisata yang besar. Tidak hanya mempunyai banyak kekayaan alam yang indah, provinsi ini juga mengandung potensi dalam bidang kebudayaan.

Atas kesadaran itu, Pemerintah Provinsi NTT pada April lalu secara resmi membangun kerja sama dalam bidang kebudayaan dengan Pemerintah Tiongkok.

Kerja sama ini dibentuk tidak hanya untuk kepentingan promosi kebudayaan lokal setempat, tetapi juga dalam rangka menarik para investor dari negeri Tirai Bambu itu agar dapat menanamkan modal di NTT.

Baca juga: Menyusuri 10 Destinasi Wisata Menarik Di Maumere

“Selama ini sudah ada kerja sama pentas seni dari Tiongkok di NTT, sehingga pemerintahan Gubernur Frans Lebu Raya dan Konjen RRT di Bali Gou Haodong sepakat untuk meningkatkannya,” kata Kepala Dinas Pariwisata NTT Marianus Ardu Jelamu di Kupang, Rabu (25/4).

Kerja sama ini sendiri dibangun dalam pertemuan bersama Konjen Republik Tiongkok (RRT) di Bali Gou Haodong dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Selasa (24/4).

“Pak gubernur menginginkan agar kerja sama ini ditingkatkan dan sudah disambut dengan antusias oleh Konjen Gou Haodong,” ungkap Jelamu.

Kerja Sama dengan Australia dan Timor Leste

Sebelumnya, kerja sama dalam bidang serupa juga telah dibangun dengan dua negara tetangga lainnya, yakni Australia dan Timor Leste. Mereka bersepakat untuk membangun kerja sama dalam bidang pentas seni satu sama lain.

“Di bidang promosi pariwisata, kami mendorong dan mengusulkan adanya kerja sama pentas seni dan budaya antarnegara dengan Timor Leste dan Australia,” jelas Jelamu.

Baca juga: Tiga Negara Ini Bahas Kerja Sama Pariwisata di Labuan Bajo

Jelamu mengatakan, dorongan untuk menciptakan kerja sama dalam bidang pentas seni itu sangat potensial mengingat keberadaan dari daerah kepulauan itu sangat strategis, yakni berbatasan langsung dengan Timor Leste dengan Australia.

“Jadi NTT bisa pergi mementaskan seni budayanya di Dili, Timor Leste maupun di Darwin atau kota-kota lainnya di Australia, begitu juga sebaliknya,” terang Jelamu.*

COMMENTS