Kakek Penyimpan 90 Paket Ganja dan Kasus Narkoba di Indonesia

Kakek Penyimpan 90 Paket Ganja dan Kasus Narkoba di Indonesia

Kasus narkoba memang telah menjadi salah satu masalah serius dan memprihatinkan di Indonesia. Berdasarkan temuan Badan Narkotika Nasional (BNN), sepanjang 2017, terdapat 46.537 kasus narkoba di Indonesia yang berhasil dibongkar oleh pihak BNN. (Ilustrasi paket narkoba - merdeka.com)

JAKARTA, dawainusa.com Kasus terkait pengedaran dan penggunaan obat-obat terlarang (narkoba) terus terjadi di Indonesia. Baru-baru ini, seorang kakek berinisial A (60) ditangkap oleh aparat kepolisian setelah diketahui menyimpan 90 paket ganja.

Kakek tersebut ditangkap dalam sebuah gubuk tambak yang terletak di Gampong Geulanggang Baroh, Kecamatan Lapangan, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (12/4). Penangkapan tersebut bermula ketika pihak aparat mendapatkan laporan dari masyarakat setempat bahwa di daerah tersebut sering terjadi transaksi ganja.

Menanggapi laporan itu, pihak Polsek Tanah Pasir yang dipimpin oleh Iptu Asriadi dengan segera  melakukan operasi dan menggerebek tempat tersebut. Dari hasil penggerebekan, petugas berhasil menemukan 90 paket ganja yang dalam kondisi siap diedar dan dua ons ganja kering yang belum sempat dipaketkan. Saat ditangkap oleh aparat, tidak ada perlawanan dari pelaku.

Baca juga: Dicokok Petugas Karena Bawa Narkoba, TKI Ini Mengaku Barang Titipan

“Menurut informasi masyarakat di lokasi tersebut sering dilakukan transaksi narkoba dan berhasil kita tangkap seorang kakek yang menyimpan ganja siap edar,” jelas Kapolsek Tanah Pasir, Iptu Asriadi, Jumat (13/4).

Untuk kebutuhan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut, pelaku kemudian dibawa ke Mapolsek Tanah Pasir. “Hasil pemeriksaan awal dengan tes urin, tersangka juga positif sebagai pengguna ganja,” ujar Iptu Asriadi.

Lahan Subur Transaksi Narkoba

Kasus narkoba memang telah menjadi salah satu masalah serius dan memprihatinkan di Indonesia. Berdasarkan temuan Badan Narkotika Nasional (BNN), sepanjang 2017, terdapat 46.537 kasus narkoba di Indonesia yang berhasil dibongkar oleh pihak BNN.

“Hal ini sengaja dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita (BNN) ke publik. Dalam kurun waktu tersebut, kita telah bertugas dan mengungkap sebanyak 46.537 kasus narkoba dan 27 TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang),” jelas Kepala BNN Komjen Budi Waseso pada 2017 lalu.

Baca juga: Di Sebuah Masjid, Polisi Amankan 15 Bungkus Narkoba Jenis Sabu

Dari pengungkapan kasus tersebut, pihak BNN berhasil menangkap 58.365 tersangka, 34 tersangka TPPU, dan 79 tersangka yang mencoba melawan petugas ditembak mati.

“Dari jumlah tersebut, 79 di antaranya tidak melewati proses pengadilan atau telah kita tembak mati. Karena mencoba melawan saat akan ditangkap. Dan hal ini sebagai bentuk keseriusan BNN dalam memerangi pengalahgunaan narkoba di Indonesia,” kata Budi.

Data atau jumlah kasus tersebut membuktikan bahwa kejahatan narkoba semakin merajalela di negeri ini. Pihak BNN sendiri menyatakan, Indonesia telah menjadi lahan subur bagi peredaran obat-obat terlarang itu dan menjadi pasar terbesar di Asia untuk penjualan dan peredaran narkoba.

Berdasarkan keterangan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi DKI Jakarta Brigadir Jenderal Pol Johny P Latuperirissa narkoba paling mahal selalu dijual di Indonesia. Ia mencontohkan, harga sabu di Taiwan hanya Rp 200.000 per gram, di China Rp 100.000 per gram, sementara di Indonesia jauh lebih mahal.

“Di Indonesia mulai yang paket hemat, mungkin 1/4 gram atau enggak sampai itu, sekitar Rp 200.000-Rp 400.000, per gram bisa Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Harga inex yang dulu Rp 80.000-Rp 100.000, sekarang bisa mencapai Rp 600.000 per gram. Luar biasanya harganya dan tetap laku. Berton-ton masuk ke Indonesia dan itu pasti akan habis,” jelas Johny.

Harga Mahal Tidak Menjadi Persoalan

Meskipun harganya sangat mahal, demikian Johny, masyarakat Indonesia sendiri tidak mempersoalkannya. Ia mengatakan, harga mahal itu sama sekali tidak membuat masyarakat Indonesia kehilangan daya beli untuk mendapatkan obat-obat terlarang itu. Justru, jelas dia, dengan harga dan penawaran yang tinggi seperti ini, para pengedarnya semakin mudah mendapatkan pasar dan memperoleh hasil darinya.

“Masyarakat kita tidak pernah tanya berapa harganya (narkoba), tetapi dia akan tanya ada barang atau tidak. Berapa pun (harganya), pasti dia mau beli,” ujar Johny dalam pertemuan dengan pengelola tempat hiburan malam (THM) pada Februari lalu.

Baca juga: Ditresnarkoba Polda NTT: Kota Maumere Diindikasikan Darurat Narkoba

Adapun terkait merebak dan tingginya kasus pengedaran narkoba tersebut, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto telah memastikan akan bertindak tegas terhadap para pengedar narkoba. Ia mengatakan, pihak penegak hukum akan menembak mati para bandar narkoba. Apalagi, kata dia, kalau para bandar narkoba tersebut melakukan perlawanan yang membahayakan para petugas.

“Sudah sejak dulu, tembak saja (kalau membahayakan petugas),” ujar Wiranto di Kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Kamis (22/3).*

COMMENTS