Hoax Meningkat di Tahun Pilkada, Kemenkominfo Perkuat Literasi Masyarakat

Hoax Meningkat di Tahun Pilkada, Kemenkominfo Perkuat Literasi Masyarakat

Untuk mencegah peredaran penyebaran kabar bohong (hoax) yang diprediksi meningkat pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) 2018, Kementerian Komunikasi dan Informasi akan memperkuat literasi ke masyarakat. (Ilustrasi)

JAKARTA, dawainusa.com Untuk mencegah peredaran penyebaran kabar bohong (hoax) yang diprediksi meningkat pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) 2018, Kementerian Komunikasi dan Informasi akan memperkuat literasi ke masyarakat.

Hal itu disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo, Rosarita Niken Widiastuti di sela-sela peluncuran Command Centere Dinas kominfo Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Rabu (27/12).

“Tahun depan, ada 171 pilkada yang akan digelar. Pilkada ini juga bisa menjadi Potensi untuk semakin meningkatnya hoax,” kata Rosarita.

Baca juga: Operasi Mata Novel Baswedan Ditunda, Apa Kabar Pelaku Penyiraman?

Ia mengungkapkan, tahun lalu Kemenkominfo telah memblokir hampir 800.000 akun, baik di Media sosial mau pun di media dalam jaringan (daring/online) yang menampilkan kabar bohong yang menampilkan kabar bohong mau pun ujaran kebencian. Untuk tahun 2017 katanya jumlah akun jumlah akun palsu yang diblokir oleh pemerintah sudah lebih dari 600.000

“Meskipun potensi hoax dan ujaran kebencian akan meningkat, kami terus melakukan literasi ke masyarakat selain memblokir akun-akun tersebut,” ungkap mantan Direktur utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) itu.

Masyarakat, dinilainya, perlu diberi literasi bahwa memproduksi maupun menyebarkan berita-berita negatif dapat dikenakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Ancaman hukumannya biasa empat tahun penjara atau denda Rp250 juta,” ujarnya. Atas dasar itu ia mengajak seluruh masyarakat agar menghentikan kabar bohong maupun ujaran kebencian secara bersama-sama.

Gunakan Media Sosial untuk Hal Positif

Pada Kesempatan yang sama Rosarita menyampaikan masih banyak hal-hal positif yang bisa dilakukan dengan menggunakan media sosial antara lain dengan membangun usaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Isi media sosial dengan konten-konten positif. Bisa berkaitan dengan UMKM, Kuliner, unggul-unggulan daerah, atau pencapaian-pencapaian para generasi milenial,” katanya.

Baca juga: Pencarian Seorang Pastor Karmel yang Diduga Tenggelam Dihentikan

Saat ini, dikemukakannya, dengan tingkat penggunaan internet yang banyak, yakni 40 persen dari 262 juta penduduk Indonesia, maka konsumsi masyarakat dalam mencari informasi pun ikut berubah.

“Kalau melalui radio, media cetak, online, berita yang disiarkan sudah terverifikasi. Namun melalui media sosial , semua bisa menjadi media, wartawan, sehingga hoax ahirnya marak,” imbuhnya.

Terlebih katanya, kemeninfo mencatat, penggunaan jumlah telepon seluler di Indonesia sudah melebihi jumlah penduduk dengan perkiraan mencapai 372 juta unit.

“Artinya informasi sudah membanjiri masyarakat sejak bangun hingga tidur. Tapi tentu saja tidak semua informasi yang muncul itu benar,” tutup Rosarita.* (RAG)