Jumlah Wisatawan Menuju Tempat Wisata TNK Terus Meningkat

Jumlah Wisatawan Menuju Tempat Wisata TNK Terus Meningkat

Wisatawan yang datang menuju TNK tersebut mulai membeludak sejak memasuki Juni 2018 ini. (Foto: Taman Nasional Komodo - ist)

LABUAN BAJO, dawainusa.com – Kunjungan wisatawan menuju destinasi wisata Taman Nasional Komodo (Wisata TNK) diketahui semakin meningkat sejak memasuki musim liburan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah.

“Saat ini kunjungan ke Taman Nasional Komodo tinggi karena liburan panjang Lebaran. Wisatawan sudah tampak mulai membeludak,” ungkap Kepala Balai TNK Budi Kurniawan di Kupang, Senin (11/6).

Baca juga: Pengembangan Bandara Internasional Komodo Akan Diprioritaskan

Wisatawan yang datang menuju TNK tersebut mulai membeludak sejak memasuki Juni 2018 ini. Biasanya, jelas Kurniawan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke habitat satwa purba komodo tersebut akan ramai hingga Agustus mendatang.

“Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, saat-saat seperti ini ramai pengunjung terutama mancanegara, jadi lebih ramai dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” ujar dia.

Akan tetapi, jelas dia, meningkatnya jumlah wisatawan tersebut mungkin akan mengalami kendala pada ketersediaan kapal dari agen operator tour. “Bisa saja seperti itu karena kapal-kapal semua sudah disewa pada musim ramai kunjungan seperti ini,” kata dia.

Wisata TNK Berdampak Pada Pendapatan

Meningkatnya jumlah wisatawan tersebut pasti akan berdampak signifikan bagi pendapatan dari Wisata TNK itu. Sebagaimana diketahui wisata Komodo telah memiliki kontribusi besar bagi pendapatan negara.

Tercatat bahwa pendapatan negara bukan pajak di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk tahun 2017, tertinggi diperoleh dari wisata hewan purba dengan nama Latin Varanus Komodoensis ini.

Kepala Otoritas Taman Nasional Komodo (TNK) Sudiyono mengemukakan wisata komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, NTT telah menjadi sumber devisa tertinggi di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tahun 2017.

“Kontribusi pendapatan negara bukan pajak di lingkup Kementerian LHK untuk tahun 2017, tertinggi diperoleh dari Taman Nasional Komodo yang menempati urutan pertama, dan rangking dua itu BKSDA Jawa Barat,” kata Sudiyono di Kupang, Kamis (18/1).

Baca juga: BTNK Soal Bandara Komodo Tahan Flora dan Fauna yang Dibawa Wisatawan

Ia menilai, pencapaian tersebut merupakan hasil yang positif mengingat satu-satunya sumber potensi yang diandalkan hanya dari wisata TNK sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan nasional. Menurut laporan, nilai pendapatan negara yang terakhir dicatat per Januari 2018 mencapai sekitar Rp29,1 miliar.

“Kita bersyukur karena meskipun destinasinya di kabupaten tapi mengungguli tingkat provinsi seperti BKSDA Jawa Barat yang ada di ranking dua itu memiliki banyak sumber, ada lembaga konservasi, kebun binatang, wisata puncak, dan taman-taman wisata lainnya,” kata dia.

Sudiyono menambahkan, pendapatan TNK yang diperoleh itu mengandalkan hasil pembelian tiket wisatawan yang masuk ke pulau-pulau di dalam TNK, tiket treking, berselancar dan menyelam.

Adapun Otoritas TNK mencatat arus kunjungan wisatawan selama 2017 meningkat tajam mencapai lebih dari 120.000 orang dengan 65 persen di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.

“Meskipun destinasi utama hanya TNK, namun arus kunjungan yang membeludak membuat kontribusi pajak untuk negara juga naik cukup signifikan,” ujar Sudiyono.

Akan Ada Pembenahan

Dengan kondisi arus kunjungan wisatawan yang semakin meningkat tersebut, itu berarti bahwa wisata Komodo semakin menggeliat dan terus diincar wisatawan yang datang untuk menyaksikan satwa komodo  sebagai salah satu keajaiban dunia maupun menikmati keindahan alam di sekitarnya.

“Dari waktu ke waktu memang arus wisatawan ke Pulau Komodo terus membludak didominasi wisatawan asing yang datang menggunakan pesawat maupun kapal pesiar,” kata Sudiyono.

Baca juga: Festival Komodo Diharapkan Mendongkrak Kunjungan Wisatawan

Karena itu, peningkatan arus wisatawan itu mendorong pihaknya untuk terus melakukan upaya pembenahan secara bertahap, salah satunya penanganan masalah sampah.

Ia mengakui, permasalahan sampah yang muncul bersumber dari aktivitas masyarakat di perkampungan, sungai, pasar-pasar, kapal dan lainnya terus mendapat sorotan wisatawan, sehingga perlu kerja sama semua pihak terkait untuk menanganinya.

“Kami juga terus usahakan agar sampah-sampah ini seiring waktu bisa berkurang, kalau pun ada kami juga memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk melakukan daur ulang,” tambah dia.*

COMMENTS