Jerit Hati dan Penyesalan Keluarga Melepas Kepergian Fredy

Jerit Hati dan Penyesalan Keluarga Melepas Kepergian Fredy

Pasca kejadian hingga korban meninggal dunia pada hari Sabtu pkl. 09.07 pagi di RSUD Ruteng, Nabinkamtibmas dan babinsa Karot serta juru tembak dalam giat eliminasi anjing liar pada saat kejadian, tidak pernah membangun komunikasi atau mendatangi keluarga korban. (Korban penembakan misterius di Karot - ist)

RUTENG, dawainusa.com Kesedihan menyelimuti keluarga Ferdinandus Taruk alias Fredy (24), korban penembakan di Sondeng, Kelurahan Karot, Kabupaten Manggarai,  NTT pada Selasa (27/4/2018) lalu.

Fredy, yang tak bisa menahan rasa sakit akibat peluru yang bersarang di kepalanya harus berpulang selamanya pada Sabtu (7/4) pagi. Kepergian Fredy masih meninggalkan sejuta tanya.

Hingga kini, ia masih terbujur kaku di RSUD Ben Mboi dan belum bisa dipulangkan. Keluarga masih menunggu Tim dari Polda NTT yang siap mengungkap teka-teki terkait penembakan misterius itu.

Baca juga: Fredy Telah Pergi, Pelaku Penembakan Masih Misterius

Untuk diketahui, penembakan maut yang menimpa Fredy, bermula dari giat eliminasi anjing liar di kelurahan tempat asal korban. Dalam giat eliminasi anjing liar tersebut, Fredy sedang bersama Babinkamtibmas serta babinsa yang bertugas di kelurahan tempat mereka beroperasi.

Keluarga Ungkap Kekesalan

Keluarga korban melalui siaran pers menerangkan, pasca kejadian hingga korban meninggal dunia pada hari Sabtu pkl. 09.07 pagi di RSUD Ruteng, Nabinkamtibmas dan babinsa Karot serta juru tembak dalam giat eliminasi anjing liar pada saat kejadian, tidak pernah membangun komunikasi atau mendatangi keluarga korban.

Menurut perwakilan keluarga korban, hal yang aneh dalam peristiwa ini adalah ketika korban Fredy terjatuh, semua saksi yang nongkrong bersama korban termasuk satu aparat keamanan dari Polres Manggarai panik dan berlari meninggalkan korban.

Baca juga: Pileg 2019, Kabupaten Manggarai Tetap 5 Dapil

“Mengapa mereka lari, diduga kuat mereka mendengar letupan senjata dari jarak dekat sehingga mereka berlarian dan mengetahui siapa pelaku penembakan itu,” kesal Yos Syukur salah satu kerabat yang juga sepupu korban, kepada awak media di Ruteng, Minggu (08/04).

Menurut Syukur, berdasarkan informasi yang dihimpun, ada saksi di TKP yang mengatakan mereka baru mengetahui jika korban terkena peluru karena hasil rongent.

“Hal ini aneh, lalu kenapa mereka berlarian di TKP ketika korban terjatuh,” terang Syukur.

Pernyataan saksi ini, kata Syukur, diduga disetting oleh oknum tertentu sebagai alibi untuk menutupi jejak pelaku.

“Aparat yang di TKP pada saat ini tidak mungkin tidak mengetahui sumber suara tembakan dan pelaku penembakan. Kalau dia tidak tahu, tidak mungkin dia berlari dan mengamankan diri pada saat korban terjatuh,” kisahnya.

Keterangan Saksi yang Dihimpun Keluarga Korban

Lebih lanjut, berdasarkan pengakuan seorang warga di seputar TKP, setengah jam sebelum kejadian, Babinkamtibmas bertamu di salah satu rumah warga dan menyampaikan bahwa akan melakukan eliminasi anjing liar.

Setelah itu kemudian disusul oleh babinsa dan warga sipil yang membawa senapan besar. Ketiga orang ini pasca kejadian sampai saat ini tidak pernah mendatangi keluarga korban.

Baca juga: ‘Tepi Rani’, Memohon Kepada Alam dan Leluhur untuk Panen yang Berlimpah

Syukur juga menjelaskan, ada dua orang juru tembak yang ditunjuk oleh Bhabinkamtibmas dan babinsa Karot. Pada saat malam kejadian juru tembak yang pertama di ganti oleh juru tembak kedua.

Ketika sedang nongkrong bersama korban sebelum kejadian, juru tembak pertama menyampaikan kekesalannya karena Bhabinkamtibmas dan babinsa tidak memberitahukan kepadanya (juru tembak pertama) kalau dirinya diganti oleh orang lain.

Bhabinkamtibmas dan Babinsa Harus Bertanggung Jawab

Syukur meminta Bhabinkamtibmas dan babinsa harus bertanggung jawab atas keberadaan juru tembak itu, karena yang berdasarkan permintaan mereka maka juru tembak ikut dalam giat eliminasi anjing liar.

“Bhabinkamtibmas dan babinsa kelurahan Karot, harus bertanggungbjawab dalam kasus penembakan saudara kami Fredy,” pungkasnya.

Syukur menerangkan, ketika di UGD RSUD Ben Mboi, Bhabinkamtibmas membisik kepadanya jika peluru yang bersarang di kepala korban adalah peluru dari senjata eifgan. “Pada saat itu saya sempat berpikir bahwa dia tahu siapa pelakunya”, tuturnya.

Baca juga: Elar selatan, Dari Janji Politik Sampai Surati Presiden Jokowi

Siapa yang menjamin aparat di TKP, Bhabinsa dan bhabinkamtibmas tidak bersenjata pada malam kejadian. “Saya menduga saksi-saksi disetting dan diintervensi oleh oknum tertentu sehingga kasus ini sulit diungkap,” katanya.

“Lamanya pengusutan kasus ini memicu dugaan kami bahwa ada persengkokolan dan konspirasi oknum tertentu dalam kasus penembakan ini,” jelasnya.

Atas sikap aparat yang dinilai apatis ini, keluarga korban juga mempertanyakan legalitas dari giat eliminasi anjing liar yang berujung pada tertembaknya Fredy.

“Kami juga mempertanyakan regulasi terkait giat eliminasi anjing liar di Kelurahan Karot dan Tadong, apakah berdasarkan perintah pihak kelurahan Tadong dan Karot atau inisiatif dari aparat?” kata Syukur, mempertanyakan legalitas kegiatan itu.

Berharap Intervensi Polda NTT

Saat ini keluarga korban berharap penuh kasus ini akan dibuka pihak Polda NTT. Pada hari ini, Minggu (8/4), korban akan dibedah untuk mengangkat proyektil peluru yang masih bersarang di kepalanya oleh tim labfor Polda NTT.

Mereka mengapresiasi langkah yang akan ditempuh pihak Polda NTT untuk menemukan jawaban atas kasus yang menimpa keluarga ini.Meski demikian, mereka menyesalkan lambannya penanganan menimbulkan kecurigaan pada aparat.

Baca juga: Frustasi Pada Remaja Belum Menjadi Kecemasan Bersama

“Kami mengapresiasi kinerja dan kerja polisi dalam mengusut kasus ini, namun lambannya penanganan kasus ini menguatkan dugaan kami jika aparat terlibat dalam kasus penembakan saudara kami Fredy,” tegasnya.

“Kami berharap kepada pihak kepolisian agar transparan dalam menangani kasus ini, jika aparat terlibat maka harus ditindak tegas”, tutup Yos Syukur dalam Siaran Pers mewakili kekuarga.* (Elvys Yunani)

COMMENTS