Jelang Debat Pilgub NTT, Ini Persiapan Para Pasangan Calon

Jelang Debat Pilgub NTT, Ini Persiapan Para Pasangan Calon

Menjelang debat, keempat pasangan calon tengah dan terus mempersiapkan diri masing-masing. Berbagai macam bentuk persiapan mereka lakukan agar dapat tampil secara maksimal di atas panggung 'pertarungan' ide tersebut. (Foto: Empat Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Debat pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk masa jabatan 2018-2023 dalam waktu dekat akan segera dilaksanakan.

Dalam agendanya, debat tersebut akan berlangsung di Jakarta pada Kamis (5/4) dan akan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi swasta iNews.

Menjelang debat, keempat pasangan calon tengah dan terus mempersiapkan diri masing-masing. Berbagai macam bentuk persiapan mereka lakukan agar dapat tampil secara maksimal.

Baca juga: Pilgub NTT: Ini Tiga Panelis Debat Kandidat yang Ditetapkan KPU

Lalu, apa saja yang menjadi fokus utama yang disiapkan oleh masing-masing pasangan calon tersebut untuk debat nanti? Berikut rangkuman Dawai Nusa.

BKH Siap Debat dengan Banyak Belajar

Calon Gubernur Beni Kabur Harman alias BKH mengaku telah mempersiapkan diri menghadapi debat tersebut. BKH yang dalam Pilgub NTT berpasangan dengan Benny Litelnoni menjelaskan, untuk menghadapi debat itu, ia dan pasangannya tidak ada persiapan istimewah selain belajar.

BKH yang diusungkan oleh Partai Demokrat, PKS dan PKPI tersebut menjelaskan, saat ini mereka sedang mempersiapkan diri dengan mengumpulkan dan mempelajari berbagai data yang sudah dilakukan sejak dirinya melakukan kampanye di beberapa wilayah di NTT.

“Saya rasa dengan kita turun di daerah dan bertemu dengan masyarakat itu juga sebagai modal dasar kita untuk menguasi materi debat,” ujar BKH, Selasa (3/4).

“Tentunya banyak yang kami temukan bagaimana ketimpangan yang dirasakan masyarakat ketika saya melakukan kampanye di beberapa wilayah, seperti bagaimana masyarakat butuh kesejahteraan, lapangan kerja, infrastruktur yang memadai. Semua itu pekerjaan kami bersama cawagub bagaimana membuktikan untuk menjadi lebih baik,” lanjut BKH.

Menurut BKH, ia sendiri sudah terbiasa dengan persoalan debat. Sebab, jelas dia, ketika berada di Komisi III DPR RI, hal serupa sudah sering dilakukannya.

“Sebenarnya persiapan biasa saja, tidak ada yang khusus dan istimewa. Yang dibutuhkan bagaimana melihat situasi lawan debat, dan menguasai materi yang ditanyakan lawan debat,” tutur BKH.

“Mungkin bedanya yaitu materi debat seputar bagaimana melakukan dan program NTT ketika menjadi Gubernur. Karena itu banyak permasalahan di NTT yang perlu dibenahi. Terpenting bagaimana meyakinkan kepada masyarakat NTT bahwa pasangan Benny K Harman-Benny Litelnoni beda dari pasangan lainnya,” lanjut BKH.

Viktor-Jos Kumpulkan Tim Pakar

Berbeda dengan BKH, untuk menghadapi debat tersebut, pasangan Viktor-Jos melakukan persiapan diri dengan mengumpulkan berbagai pakar. Dengan cara itu, mereka akan dengan mudah memahami berbagai persoalan di NTT yang akan dibicarakan dalam debat nanti.

“Tim pakar akan dikumpulkan semuanya di Jakarta untuk memberikan berbagai masukan kepada Viktor-Joss dalam menghadapi debat nanti,” jelas Sekretaris Umum tim pemenangan Viktor-Jos Honing Sany, Senin (2/4).

Sany menjelaskan, pasangan Viktor-Jos yang diusung oleh Partai NasDem, Golkar, Hanura dan PPP tersebut telah melakukan berbagai kajian terkait dengan materi debat nanti. Ia juga menjelaskan, pasangan yang menjadi jagoannya tersebut dipastikan akan hadir secara lengkap dalam debat itu.

“Kami juga sudah melakukan diskusi tentang materi debat dengan sejumlah akademisi yang memiliki kompetensi terhadap materi debat sebagai bahan baku dalam menghadapi debat,” ujar Sany.

Selain itu, ia juga menjelaskan, persiapan itu tidak cuma dilakukan oleh Viktor-Jos. Semua pihak, jelas dia, juga diajak untuk berdiskusi untuk membantu pasangan tersebut demi menambah amunisi mereka menghadapi debat itu.

“Semua kelompok kita ajak berdiskusi guna mempersiapkan pasangan Viktory-Joss dalam menghadapi debat perdana di televisi itu,” ujar Sany.

Emilia J. Nomleni Perdalami Visi-Misi

Sementara itu, Emilia J. Noemleni sebagai wakil dari Calon Gubernur Marianus Sae yang kini dalam masa tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga melakukan tindak pidana korupsi mengatakan, dirinya telah siap untuk menghadapi debat tersebut.

Nomleni yang adalah satu-satunya perempuan dalam pertarungan politik tersebut menerangkan, ia hanya cukup mempersiapkan dirinya dengan mendalami visi dan misi yang telah dicanangkan oleh paketnya. Meskipun ia akan menghadapi debat tersebut tanpa kehadiran Marianus Sae (MS), ia mengaku tidak gentar menghadapinya.

“Memang masih ada gemetar sedikit, tapi itu tidak masalah. Karena selama ini juga saya berjalan sendiri,” kata Noemleni.

Noemleni juga menambahkan, agar semua pihak yang mendukungnya agar tetap solid dan terus berjuang, meskipun keberadaan mereka dalam Pilgub tersebut sedang dalam ‘lampu kuning’ akibat kasus korupsi yang menjerat MS.

“Saat ini memang banyak isu bahwa paket Marianus-Emi sudah didiskualifikasi. Karena itu kita harus kerja keras untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa info itu tidak benar. Kami masih ada dan saya terus bekerja serta berjuang sampai garis finis,” ujar Noemleni.

Esthon-Christ Mengaku Tidak Butuh Persiapan

Berbeda dengan pasangan lainnya, pasangan Eston-Christ justru mengaku tidak butuh persiapan khusus untuk menghadapi debat tersebut. Mereka mengklaim, semua persoalan di NTT yang akan dibahas dalam debat nanti seperti masalah ekonomi dan infrastruktur sudah cukup dikuasainya.

“Kalau masalah ekonomi dan infrastruktur, kami cukup tahu karena bertahun-tahun menggelutinya di NTT. Tidak ada persiapan khusus. Kami hanya mencoba menyesuaikan untuk menjawab atau bertanya sesuai durasi waktu yang sudah ditetapkan KPU,” ujar Esthon Foenay  (Esthon) di Kupang, Selasa (3/4).

Menurut Foenay, kedua persoalan tersebut merupakan masalah fundamental di NTT dan karena itu, harus diperhatikan secara maksimal. Mereka, jelas dia, berencana akan mengatasi hal itu dengan mengendepankan partisipasi masyarakat. Caranya, dengan melibatkan secara aktif peran pemerintahan desa yang mengetahui secara persis tentang kebutuhan masyarakatnya.

“Jadi kami tidak perlu lagi ada persiapan khusus. Kami sudah sangat kuasai persoalan ini dan bagaimana cara penuntasannya,” ujarnya.*

COMMENTS