ISIS Merusak Islam, Cerita Gadis Indonesia yang Pernah Hijrah ke Suriah

ISIS Merusak Islam, Cerita Gadis Indonesia yang Pernah Hijrah ke Suriah

Kerinduan Khaira untuk hidup dalam semangat perjuangan ISIS pupus. Di Suriah, ia bersama keluarga menemukan suatu kenyataan hidup yang jauh dari harapan dan bayangan tentang ideal masyarakat Islam seperti yang ia rindukan. (Foto: Nurshadrina Khaira Dhania - BBC)

FOKUS, dawainusa.com Hidup dalam naungan ISIS merupakan kerinduan Nurshadrina Khaira Dhania. Saat dirinya berusia 16 tahun, tekad  Khaira  semakin kuat, lalu membujuk keluarganya untuk pergi ke Suriah pada 2015 lalu.

Namun, kerinduan Khaira untuk hidup dalam semangat perjuangan ISIS pupus. Di Suriah, ia bersama keluarga menemukan suatu kenyataan hidup yang jauh dari harapan dan bayangan tentang ideal masyarakat Islam seperti yang ia rindukan.

Gadis yang akrab dipanggil Nur itu megaku dirinya ditipu oleh janji dan provokasi ISIS yang beredar selama ini. “Beda banget dan benar-benar ketipu. Mereka telah membajak Islam. Kecintaan saya terhadap Islam itu luar biasa, dan mereka merusak begitu saja,” ungkap Nur seperti yang dikutip BBC, Rabu (30/5).

Baca juga: Mengenal Aman Abdurrahman, Sang Pionir ISIS Indonesia

Di tengah situasi kekecewaan itu, Nur bersama keluarganya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Namun untuk ke Indonesia, mereka harus melalui jalan yang berliku.

Pada 2017 lalu, setelah Nur dan keluarganya kembali, mereka rutin mengikuti program deradikalisasi yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sementara ayah dan paman Nur diadili karena bergabung dengan ISIS.

Saat ini, Nur seringkali diundang untuk menceritakan pengalamannya selama di Suriah agar bisa memberi gambaran tentang kenyataan yang dialaminya sendiri, kepada anak-anak muda, khususnya yang mulai terpengaruh bibit radikalisme dan terjebak bujukan terduga kelompok teroris.

Mengenal ISIS Melalui Medsos

Dalam sebuah acara Reintegrasi Sosial eks-Aktivis NII, Gafara dan Deportan/ Returni ISIS yang digelar Indonesia Muslim Crisis Center IMCC pada Februari lalu, Nur mengkisahkan, perkenalan pertamanya dengan ISIS, pada awal 2015 melalui pamannya Iman Santoso.

Rasa ingin tahu Nur terhadap spirit perjuangan organisasi yang telah mendeklarasikan kekhalifahan di Suriah itu, mendorong Nur untk melacak jejaknya melalalui internet dan media sosial.

Baca juga: Islam Jalan Tengah dan Keinginan Indonesia Untuk Negara Lain

Melalui Facebook, ia mendapatkan informasi tentang apa yang dianggapnya sebagai pengalaman indah sejumlah orang yang hidup di bawah kekhalifahan ISIS. Kekhalifahan seperti zaman nabi yang menekankan kesejahteraaan dan keadilan, ia temukan di sana.

“Seru banget, bagus semuanya kayak kekhalifahan kayak zaman nabi gitu. Mulai dari kesejahteraan dan keadilan, semua di bawah naungan Islam dan Sunnah, semuanya akan dijamin kehidupan di dunia dan akhirat juga dapat,” ungkap Nur.

Nur juga mendapatkan bahan-bahan lain soal ISIS dari Tumblr, dan kanal Diary of Muhajirah, sebuah Catatan Harian Kaum Perempuan yang Berhijrah yang berisi pengalaman orang-orang ‘yang berhijrah’ ke Suriah. Dia pun mulai berkomunikasi dengan pendukung ISIS di Suriah.

“Mereka menjanjikan akan dijamin semuanya: listrik, air rumah, gratis. Dan (mnereka akan) membayar utang-utang. Paman saya waktu itu punya utang dan mereka janji akan menutupi utang itu,” kata Nur.

Propaganda ISIS yang menyebutkan untuk menjadi muslim yang sebenarnya harus hijrah ke Suriah, semakin meyakinkan harapan Nur. Dirinya yang saat itu masih duduk di kelas 2 SMA mengaku ingin berubah dan menjalankan hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bahkan, bersama adiknya, Nur pun sering menonton video propaganda ISIS dari Suriah.

“Lama kelamaan saya kayak terhipnotis apa yang mereka share itu saya anggap pasti bener, walaupun orang di luar sana bilang kelompok ini begini begitu, tidak saya dengar. Bagi saya itu kayak fitnah saja,” kata Nur.

Dia pun kemudian aktif melakukan propaganda mengenai ISIS dan kehidupan di Suriah di bawah ISIS kepada keluarganya. ia pun seringkali berbeda pendapat dengan ayahnya.

“Ayah saya kan PNS. Saya lihat dia sibuk dan agamanya kurang. Ayah suka menyampaikan pendapat yang beda, aku selalu lawan dengan dalil yang aku dapat dari kelompok ini di internet,” ujar Nur.

Tekad untuk hijrah ke Suriah pun semakin besar ketika Nur membaca kesaksian dari remaja seusianya di Eropa yang pergi ke daerah kekuasaan ISIS, antara lain tiga gadis dari Inggris.

“Tapi Allah menakdirkan lain: aku harus pergi dengan keluarga, karena aku pengen juga belajar Islam bareng mereka, hidup di bawah khilafah. Walaupun awalnya ada yang ragu tapi akhirnya kita saling menguatkan,” kata dia.

Rombongan Besar ke Suriah

Nur akhirnya berhasil melakukan propaganda ke lingkup luas di keluarganya. Ia bergabung dalam rombongan berjumlah 26 orang, termasuk dirinya sendiri, termasuk ayah dan ibunya.

Salah satunya, Dwi Joko sempat menimbulkan kehebohan, karena ia adalah seorang pejabat daerah: Direktur Pelayanan Satu Pintu PTSP di Badan Pengusahaan untuk Kawasan Batam. Ia mengambil cuti pada Agustus 2015, namun tak pernah kembali lagi.

Baca juga: Radikalisme Islam Transnasional dan Ancaman Terhadap Ketahanan Nasional

Untuk membiayai perjalanan ke Suriah, Dwi Joko menjual rumahnya. Kakak iparnya Iman Santosa alias Abu Umar, yang diduga paling mempengaruhi keluarga tersebut untuk migrasi ke Suriah, melakukan kontak dengan ISIS dan merencanakan perjalanan tersebut.

Agustus 2015, keluarga tersebut pergi ke Suriah melalui Istanbul Turki. Di sana mereka bertemu dengan penghubung yang kemudian membantu mereka menyebrang ke Suriah dan terhubung dengan militan ISIS.

Sampai di perbatasan, keluarga ini dibagi dalam beberapa rombongan agar tidak terlalu mencolok. Namun hanya 19 orang yang berhasil menyebrang ke perbatasan Suriah, selebihnya ditangkap pemerintah Turki kemudian di deportasi ke Indonesia, termasuk Iman Santosa.

“Ketika masuk aku bener-bener seneng banget, pas di perbatasan, langsung sujud syukur, karena sampai di negeri yang diberkahi. Kan sebutannya bless land tuh,” ungkap Nur.

Di perbatasan mereka dijemput oleh anggota militan ISIS, dan berjalan kaki di daerah kekuasaan ISIS. Esok harinya paspor dan identitas mereka diperiksa termasuk telepon seluler dan diambil oleh ISIS. Anggota keluarga laki-laki dan perempuan dipisahkan. Anggota keluarga laki-laki dibawa ke sebuah tempat untuk menjalani ‘pelatihan’.

“Yang perempuan itu dibawa ke sebuah asrama, sebagai tempat penampungan bagi wanita yang menunggu mahromnya sedang sekolah,” jelas Nur.

Namun begitu sampai di asrama, Nur merasa situasinya tak seperti yang digambarkan di internet.

“Sudah mulai muncul perasaan kecewa, kok beda seperti yang disampaikan di internet, mereka cerita di asrama semuanya bersih, semua akhwat saling tolong menolong dan ramah. Tapi sampai di sana kotor, banyak orangnya dan tidak tertata rapih, dan kita lihat sering ada perkelahian,” ungkap Nur.

Di sana, Nur dan kakak perempuannya beberapa kali diajak menikah oleh ‘petempur ISIS’, namun dia menolaknya. “Waktu itu saya masih 17 tahun, kaget dan syok dan nggak mau. Tapi alhamdulillah ternyata bisa nolak,” kata Nur.

Selama empat bulan Nur dan keluarganya tinggal di asrama, kemudian diberi rumah gratis. Saudaranya yang sakit sempat juga diberikan pengobatan gratis. Namun, janji ISIS untuk mengganti uang perjalanan dan memberikan pekerjaan tanpa harus mengikuti wajib militer tidak dipenuhi.

“Beberapa waktu kemudian yang laki-laki pulang ke rumah, dan berbeda dengan yang mereka janjikan di internet yang katanya tidak ada wajib militer: ternyata ada wajib militer,” jelas Nur.

Berupaya Keluar Suriah

Nur semakin banyak menemukan perbedaan yang mencolok terkait gambaran kehidupan di Suriah seperti propaganda ISIS setelah beberapa bulan berada di Suriah.

“Dari segi keduniaan tidak ada (kesesuaian) – walaupun ada sedikit. Tapi janji -janji yang mereka omongkan di awal itu enggak ada sama sekali yang ditepati. Dari segi agama banyak sekali yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri,” ungkapnya.

Di sisi lain, ISIS mulai kehilangan wilayah kekuasaannya, terdesak oleh milisi yang dibantu pasukan koalisi pimpinan AS, dan milisi dan pasukan militer pemerintah Suriah yang dibantu Rusia.

Dia pun mulai mencari jalan untuk keluar dari Suriah. Namun keluar dari wilayah ISIS ternyata jauh lebih sulit dibandingkan ketika masuk ke sana. Setelah gagal meminta bantuan KBRI, Nur dan saudaranya meminta bantuan penyelundup dengan kemampuan bahasa Arabnya yang terbatas.

“Harus diam-diam kabur dari wilayah itu. Dulu saya yang semangat mengajak keluarga untuk berangkat, jadi merasa bertanggung jawab untuk membawa mereka keluar. Saya banyak keliling bagaimana kita mencari jalan untuk keluar,” ujar Nur.

Rombongan kemudian kehilangan dua anggotanya yang disebutnya meninggal karena sakit: seorang kerabatnya, serta neneknya yang berusia 78 tahun. Akhirnya setelah beberapa kali gagal dan juga ditipu oleh penyelundup, keluarga tersebut berhasil melarikan diri dari wilayah ISIS.

“Situasi lagi genting, jadi harus memanjat jembatan yang sudah dibom,” kata dia.

Akhirnya mereka keluar dari Raqqa melalui Irak, dan ditempatkan di lokasi pengungsian, sementara yang laki-laki sempat diinterogasi dan ditahan. Di lokasi pengungsian, Nur sempat meminta bantuan media. saat itu, BBC News Indonesia pun sempat mewawancarainya melalui telepon.*

COMMENTS