Ini Tiga Panelis Perempuan Untuk Debat Ketiga Pilgub NTT

Ini Tiga Panelis Perempuan Untuk Debat Ketiga Pilgub NTT

Terkait persiapan debat ini, pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT telah menetapkan tiga nama panelis debat yang semuanya berasal dari kalangan perempuan. (Foto: Tiga panelis & pihak KPUD NTT - KPU)

KUPANG, dawainusa.com – Debat terakhir Pemilihan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur sebentar lagi akan digelar. Berdasarkan jadwal, debat ketiga Pilgub NTT ini akan dilaksanakan di Jakarta dan akan disiarkan secara langsung atau live oleh stasiun swasta iNews, Sabtu (23/6) mendatang.

Terkait persiapan debat ini, pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT telah menetapkan tiga nama panelis debat yang semuanya berasal dari kalangan perempuan. Tiga panelis perempuan tersebut ialah Frederika Tadu Hunga, MA, Dra. Engelina Nabuaza, MS, dan Prof. Dr. Mintje Ratoe Oedjoe.

Berdasarkan penjelasan Juru Bicara KPU NTT Yosafat Koli, pemilihan tiga panelis perempuan untuk debat tersebut sengaja dilakukan mengingat tema debat ketiga kali ini akan membahas tentang persoalan “Pendidikan dan Kesehatan”.

Baca juga: Harapan KPUD NTT Untuk Debat Ketiga Pilgub NTT

Tema tersebut, terang dia, sangat berkaitan dengan peran dan posisi perempuan di masyarakat. Karena itu, dengan kehadiran tiga panelis perempuan untuk debat terakhir ini, diharapkan mereka mampu menggali segala persoalan seputar tema debat tersebut untuk diajukan kepada setiap paslon yang akan bertarung dalam Pilgub NTT pada 27 Juni nanti.

“Debat terakhir temanya pendidikan dan kesehatan. Dengan tema tersebut kami lebih memilih perempuan yang harus menjadi panelis karena perempuanlah yang lebih tahu masalah pendidikan dan kesehatan tersebut,” jelas Yosafat ketika melakukan rapat koordinasi dengan ketiga panelis di Kupang, Selasa (12/6).

Untuk kebutuhan debat ketiga ini, masing-masing panelis diwajibkan akan menyusun masksimal sepuluh pertanyaan. Dari sepuluh pertanyaan yang dibuat tersebut, nantinya ada lima pertanyaan yang akan dipakai dalam debat ketiga nanti.

Visi dan Misi Harus Disampaikan Secara Jelas

Sebelumnya, Yosafat juga telah menyampaikan harapannya untuk debat terakhir Pilgub NTT ini. Ia meminta agar dalam debat ini setiap pasangan calon mampu membeberkan dan menjelaskan secara detail soal visi dan missi mereka untuk membangun NTT, secara khusus yang terkait dengan masalah seputar tema debat tersebut.

“Kami sangat berharap pada debat terakhir tersebut keempat paslon benar-benar menyampaikan visi dan misi secara detail sehingga masyarakat NTT dapat menilai dan memberikan pilihannya pada tanggal 27 mendatang,” kata Yosafat Koli di Kupang, Senin (4/6).

Permintaan pihak KPUD NTT tersebut memang mesti diperhatikan oleh setiap pasangan calon yang akan bertarung dalam kontestasi Pilgub NTT pada 27 Juni mendatang. Pasalnya, setelah melewati debat yang telah berlangsung selama dua kali di Jakarta, yakni pada 5 April dan 8 Mei lalu, masing-masing pasangan calon masih belum mampu memanfaatkan momentum debat dengan baik.

Setiap pasangan calon belum berhasil membahas segala persoalan di NTT dengan baik dan akhirnya tidak bisa meyakinkan masyarakat NTT dengan program-program solutif dan inovatif yang mereka usungkan untuk membangun NTT.

Baca juga: Debat Pilgub NTT, Bukan Hanya Sekedar Tanya Jawab

Hal ini sendiri juga sudah ditegaskan oleh Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Bataona. Mengomentari debat kedua Pilgub NTT kali lalu, ia mengatakan, dalam debat tersebut, setiap pasangan calon belum menjawab persoalan di daerah berbasis kepulauan itu.

Bataona mengatakan, seharusnya dalam debat tersebut, setiap pasangan calon beradu argumentasi dengan berpijak pada data terkait masalah di NTT.

“Pada acara debat kedua ini juga normatif dan sepertinya semua calon mengemukakan format berpikir yang sangat ideal. Tidak ada satupun yang menggunakan data,” ungkap Bataona di Kupang, Kamis (10/5).

Karena tidak berbasis data, demikian Bataona, debat kedua tersebut terlihat sangat mengawang, tanpa menyentuh langsung persoalan di NTT. Padahal, jelas Bataona, penggunaan data dalam suatu debat sangat penting agar solusi yang ditawarkan juga sesuai dengan kebutuhan.

Bataona mengatakan, data tersebut merupakan alat pembanding. Misalnya, data soal penempatan jabatan di lingkungan pemerintahan dan korupsi di NTT. Data seperti ini, kata Bataona, mesti disajikan lalu digunakan untuk berdebat.

Debat Ketiga Pilgub NTT: Tidak Saling Memuji 

Selain mesti memakai data sebagai basis empiris dalam berdebat soal masalah di NTT, debat ketiga Pilgub NTT ini juga diharapkan tidak dijadikan sebagai ajang untuk saling memuji di antara setiap pasangan calon (paslon).

Debat pada hakikatnya ialah sebuah kesempatan untuk saling mengkritisi, menggeledah, membongkar dan menelanjangi setiap program yang ditawarkan oleh masing-masing paslon. Karena itu, yang dipertandingkan dan diuji dalam debat ialah dalil-dalil rasional dalam rangka membangun NTT dan bukan aksi saling memuji di antara pasangan calon.

Baca juga: Debat Kedua Pilgub NTT: Saling Memuji, Bukannya Menguji

Debat seperti ini yang masih absen dalam debat pertama dan kedua Pilgub NTT kali lalu. Bataona sendiri juga sudah mengungkap sikap kecewanya soal ini, secara khusus terkait dengan aksi saling memuji yang dilakukan oleh beberapa paslon dalam debat kedua Pilgub NTT kali lalu.

“Ada beberapa sesi di mana para paslon saling memuji juga baik tetapi harusnya memuji dengan mendebat kualitas jawaban lawan. Itu tidak terlihat. Debat itu acara di ruang publik atau dalam bahasa filosofis adalah sebuah hajatan di polis. Bukan di rumah atau oikos,” kata Bataona.

Aksi saling memuji dalam debat tersebut, demikian Bataona, merupakan bentuk kegagalan pasangan calon dalam memahami hakikat dari debat itu. Padahal, jelasnya, debat itu sendiri juga dilaksanakan dengan menghabiskan anggaran yang besar.*

COMMENTS