Ini Empat Fakta di Balik Puisi Putri Bung Karno yang Jadi Viral

Ini Empat Fakta di Balik Puisi Putri Bung Karno yang Jadi Viral

Sukmawati disoroti bukan karena dirinya melaporkan Habib Rizieg Shihab yang diduga menghina Pancasila seperti beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, karena puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia” dinilai menistakan agama Islam. (Foto: Sukmawati Soekarnoputri - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Putri mendiang presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, Sukmamawati Soekarnoputri sedang menjadi sorotan publik.

Sukmawati disoroti bukan karena dirinya melaporkan Habib Rizieg Shihab yang diduga menghina Pancasila seperti beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, lantaran puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia” dinilai menistakan agama Islam.

Banyak pihak yang mengecam kakak kandung ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. Salah satunya adalah pengacara Rizieg Shihab, yakni Kapitra Ampera. Ia merencanakan akan mensomasi Sukmawati karena puisi tersebut.

Baca juga: Ini Alasan Pengacara Rizieq Shihab Somasi Putri Soekarno

Dirangkum dari berbagai sumber, dawainusa akan melansir fakta-fakta terkait “karya seni” dari seorang anak negeri yang menggegerkan itu.

1. Dibuat dan Dibacakan oleh Sukmawati Sendiri

Sukmawati menyebut dirinya budayawati. Puisi  “Ibu Indonesia” itu merupakan karyanya sebagai seorang budayawati di negeri ini dalam melihat realita bangsa. Adapun puisi yang menimbulkan pro dan kontra tersebut dibacakan dalam momen “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di ajang Indonesia Fashion Week 2018, di Hotel Jakarta Convetion Center (JCC), Kamis (29/3).

Dilansir dari CNNindonesia.com, berikut isi puisi karya Sukamati Soekarnoputri berjudul “Ibu Indonesia”.

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat 
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

2. Politisi PAN Menilai Puisi Menyinggung Umat Islam

Politisi Partai Amanat Nasiona (PAN) Taufik Kurniawan mengkritisi puisi yang dibacakan Sukmawati dalam pekan mode tanah air, Indonesia Fashion Week 2018. Menurutnya, seharusnya puisi tersebut tidak menyinggung agama, lantaran bisa menimbulkan konflik. Pasalnya, agama merupakan hal yang sangat sensitif bagi siapapun.

“Itu begini ya, kalau menurut saya, apapun yang terkait dengan syariah agama, tidak boleh menyinggung-nyinggung seperti itu, sebab pasti ada yang tersinggung, tidak terima, bisa-bisa nanti situasinya jadi konflik,” ujar Taufik saat ditemui di Gedung Nusantara III DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/4), dikutip dari Tribunnews.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu pun menilai bahwa puisi karya Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” itu telah menyinggung sejumlah simbol dalam agama Islam, seperti cadar dan kumandang adzan.

3. Fahri Hamzah Ikut Berkomentar

Menanggapi puisi Sukmawati Soekarnoputri, yang dianggap mengandung unsur SARA, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah angkat bicara. Fahri menilai, konsepsi syariat Islam tidak bisa dibanding-bandingkan dengan apapun.

“Syariat Islam konsepsinya hukum yang dianugerahkan langsung dari Tuhan, nilainya tinggi. Jadi sangat tidak bisa dibanding-bandingkan dengan apapun,” ujar Fahri saat ditemui di Gedung Nusantara III DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/4), dikutip dari Tribunnews.

4. Sukmawati Membantah Tuduhan Penistaaan Agama 

Sukmawati membantah tuduhan kalau dirinya melakukan penistaan agama. Puisinya itu tidak bermuatan suku agama ras atau antargolongan (SARA). Sebagai seorang budayawan, ia menyelami pikiran masyarakat dari berbagai daerah yang memang tidak memahami Syariat Islam. Misalnya di Wilayah Indonesia Timur seperti Bali.

Lho Itu suatu realita, ini tentang Indonesia. Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita. Saya budayawati, saya menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam, seperti di Indonesia timur, di Bali, dan daerah lain,” kata Sukmawati, Senin (2/4), seperti dilansir detik.com.

Sukmawati mengatakan apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur.  “Enggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” kata dia.*

COMMENTS