Ingin Surplus Beras, NTT Harus Fokus Tingkatkan Produktivitas Sawah

Ingin Surplus Beras, NTT Harus Fokus Tingkatkan Produktivitas Sawah

Pengamat masalah pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Ir. Leta Rafael mengatakan kalau ingin surplus beras, NTT harus fokus tingkatkan produktivitas sawah. (Ilustrasi persawahan di NTT - ist)

KUPANG, dawainusa.com – Pengamat masalah pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Ir. Leta Rafael mengatakan, kalau ingin menjadi daerah yang surplus akan beras, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mesti fokus pada usaha peningkatan produktivitas sawah ketimbang membuka lahan sawah baru.

“Menurut saya, sebaiknya pemerintah fokus meningkatkan produktivitas sawah yang ada. Produktivitas sawah di NTT saat ini masih rata-rata 3 ton/ha, padahal jika kita naikan menjadi cukup 5 ton/ha saja, maka NTT sudah bisa surplus beras,” tutur Rafael di Kupang, Senin (19/3).

Pernyataan Rafael tersebut merupakan tanggapan atas pembukaan sawah baru di NTT yang dilakukan melalui program upaya khusus untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai atau Upsus Pajale yang selalu gagal karena tidak pernah mencapai target.

Baca juga: Dua Pelaku Perdagangan Orang Berhasil Diamankan Polda NTT

Menurut Rafael, kegagalan program tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi karena beberapa hal seperti data tentang lahan sawah yang baru tidak akurat, mulai dari letak lokasi sawah, luas tempat, serta masalah infrastruktur ke lokasi yang tidak menjamin.

Selain masalah tersebut, demikian Rafael, penyebab lain ialah dari pemilik lahan sendiri. Banyak di antara mereka, katanya, tidak memberikan lahannya untuk membuka sawah.

“Jadi lahan komunal sangat sulit menjadi lahan pencetakan sawah sebab dapat menimbulkan konflik dalam masyarakat,” tutur Rafael.

Karena itu, Rafael meminta solusi yang terbaik ialah hanya dengan meningkatkan produktivitas sawah-sawah yang sudah ada. Apabila hal ini dilakukan, demikian Rafael, NTT akan menjadi provinsi yang mandiri terhadap beras tanpa tergantung dengan provinsi lain seperti Jawa Timur dan Sulawesi.

Tentang Upsus Pajale

Adapun Upsus Pajale merupakan sebuah program yang dicanangkan oleh Pemerintahan Jokowi dengan maksud untuk meningkatkan kedaulatan pangan dalam tiga tahun mulai 2017.

Dalam kerjanya, program ini dilakukan dengan berbagai upaya dan strategi seperti peningkatan luas tanam dan produktivitas di daerah-daerah sentra produksi pangan.

Baca juga: Antisipasi Korupsi, KPK Akan Gelar Pembekalan Pilkada di NTT

Pemerintah sendiri juga telah meminta Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) untuk mengaplikasikan teknologi unggulan yang telah dimiliki untuk mendukung program ini terutama dalam hal penyediaan benih unggul serta tekni-teknik budidaya padi, jagung dan Kedelai (Pajale) dan SDM untuk pendampingan produksi.

Program ini juga sudah didukung oleh TNI Angkatan Darat. Mereka telah menandatangani MoU antara Menteri Pertanian bahwa seluruh Babinsa akan membantu petani agar program swasembada pangan ini dapat terwujud.

Selain itu, pada musim tanam 2017 lalu, pemerintah pusat sendiri telah memberikan jatah pembukaan sawah baru untuk NTT seluas 1.500 hektare. Akan tetapi, dalam perjalanan direvisi lagi menjadi 667 hektare. Saat itu, yang terealisasi hanya seluas 446 hektare.

Tingkatkan Produktivitas dengan Bangun Embung

Peningkatan produktivitas pertanian secara khusus terkait persoalan sawah di NTT memang telah menjadi salah satu perhatian pemerintah pusat belakangan ini.

Perhatian tersebut juga didorong atas dasar kesadaran bahwa 30 persen Produk Domestik Bruto (PDRB) daerah kepulauan ini berasal dari sektor pertanian. Hal itu berarti kedua sektor ini memiliki kontribusi besar dan kunci utama untuk kesejahteraan masyarakat NTT.

Baca juga: Diperlakukan Tidak Adil, Anak-Anak NTT Tuntut Ganti Rugi ke Australia

Untuk mengembangkan hal tersebut, pemerintah pusat telah memberikan dukungan melalui proyek strategis nasional, yakni dengan membangun banyak embung di NTT, salah satunya embung Saina yang terletak di Rote Ndao.

“Pemerintah telah membangun 74 embung di Kabupaten Rote Ndao,” ungkap Presiden Jokowi ketika meresmikan embung Saina, Rote Ndao, NTT, Selasa (9/1).

“Kita melihat tadi di sekitar embung ini masyarakat menyambut dengan membuat sawah-sawah baru kemudian menanam jagung, di bawah tadi saya lihat padi-padi sudah mulai ditanam. Saya kira apa yang kita bangun ini disambut masyarakat dengan hal-hal yang produktif,” lanjut Jokowi.

Dengan pembangunan embung ini, demikian Jokowi, diharapkan produksi sawah di NTT semakin meningkat, sehingga stok beras di daerah ini menjadi surplus.

“Tadi Pak Bupati menyampaikan di sini sudah surplus, sudah diambil Bulog. Ini yang kita harapkan, produksi beras di Kabupaten Rote Ndao yang terus meningkat,” ungkap Jokowi.*

COMMENTS