Indonesia Darurat Terorisme, Ini Perintah Presiden Joko Widodo

Indonesia Darurat Terorisme, Ini Perintah Presiden Joko Widodo

Presiden Jokowi sendiri telah meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera berkolaborasi dengan Polri dalam rangka memberantas terorisme ini (Foto: Jenderal TNI (purn) Moeldoko - Viva).

JAKARTA, dawainusa.com – Presiden Republik Indonesia (RI) Ir. Joko Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar tetap tenang dan tidak panik dengan maraknya serangan terorisme saat ini. Ia mengatakan, Presiden Jokowi sendiri juga telah mendorong aparat keamanan negara untuk menindak tegas para pelaku terorisme bersama jaringannya.

“Saya pikir sebuah pesan khusus kepada masyarakat untuk tenang, untuk tidak panik, karena aparat keamanan sudah mendapatkan perintah yang jelas, tegas dari Presiden, untuk memberikan tindakan tegas tanpa ampun keakar-akarnya,” jelas Moeldoko di Menara 165, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Untuk mengatasi persoalan terorisme ini, jelas Moeldoko, aparat penegak hukum akan melakukan tindakan represif. Presiden Jokowi sendiri, kata Moeldoko, telah meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera berkolaborasi dengan Polri dalam rangka memberantas terorisme ini.

Baca juga: Pernyataan Gubernur NTT Soal Aksi Teror di Mako Brimob dan Surabaya

“Polri sudah meminta kepada TNI, dan Presiden sudah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk berkolaborasi menyelesaikan persoalan ini. Sehingga kepolisian memiliki kekuatan yang semakin kuat untuk membasmi terorisme ini. Untuk itu saya mengimbau kepada masyarakat untuk tenang,” kata Moeldoko.

Selain mengatakan demikian, Mantan Panglima TNI ini juga meminta kepada seluruh masyarakat agat tidak menyebarkan berita bohong atau hoaks di media sosial. Apalagi kalau berita tersebut berisi hal-hal yang dapat mengganggu atau meresahkan kehidupan masyarakat.

“Karena justru akan menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Ada beberapa berita-berita yang disebarkan padahal kebenarannya masih dipertanyakan. Ini tolong tidak dikembangkan, karena justru sekali lagi akan membawa situasi yang tidak baik,” ujar Moeldoko.

Terapkan Standar Maksimal Pengamanan  dari Bahaya Terorisme

Sementara itu, Kementerian Perhubungan mengatakan, pihaknya telah menerapkan standar pengamanan yang maksimal di sejumlah titik mulai dari bandara, terminal, pelabuhan hingga stasiun dari bahaya terorisme ini.

“Kita terapkan SOP sesuai keadaan yang yang berkembang,” kata sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta, Senin (14/5).

Baca juga: Inilah Keseharian Keluarga Pelaku Pengeboman di Tiga Gereja Surabaya

Djoko menerangkan, peningkatan keamanan tersebut dilakukan dengan mengerahkan TNI dan Polri untuk menjaga segala fasilitas transportasi umum.

“Kemarin bapak menteri juga sudah melakukan pengecekan di beberapa lokasi. Ini tentunya memberikan insurance bahwa kita telah melakukan standard security yang maksimal,” tutur Djoko.

Pengamanan ini sendiri, jelas Djoko, dititikberarkan di seluruh gerbang masuk dari berbagai daerah atau luar negeri seperti bandara. “Artinya pada saat orang baru masuk ke kawasan bandar dan lain-lain. Seluruh fasilitas transportasi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Djoko.

Jumlah Pelaku dan Korban yang Tewas

Seperti diketahui, ada lima rangkaian bom bunuh diri telah menghantam Kota Surabaya kemarin dan di Sidoarjo hari ini. Dari keterangan yang dirilis oleh pihak kepolisian, ada 21 orang warga dan 13 pelaku yang tewas dalam serangan bom tersebut.

“Saya ingin update jumlah korban secara menyeluruh, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo hingga hari ini. Total ada 21 orang masyarakat meninggal pagi ini di Surabaya. Kemudian 13 pelaku tewas,” jelas Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya, Senin (14/5).

Arifin menerangkan, pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo tersebut dipastikan melibatkan keluarga mereka. Hal ini diketahui dari hasil identifikasi dan pengecekan aparat dan ditemukan bahwa semua pelaku merupakan satu keluarga.

Baca juga: Aksi Terorisme di Surabaya, Ini Pernyataan Romo Benny Susetyo

“Perlu saya sampaikan kejadian(pengeboman) yang di Sidoarjo dan Surabaya semuanya satu keluarga,” jelas Arifin.

Untuk diketahui, rangkai ledakan bom tersebut pertama terjadi pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya,Minggu (13/5). Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro.

Tidak berhenti di situ, pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom kembali terjadi di area rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam ledakan bom tersebut ada tida orang terduga pelaku yang tewas, yakni Anton (47) beserta istrinya, Puspita Sari (47), dan anak pertamanya, LAR (17).

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia.*

COMMENTS