Harun Yahya, Pemikir Kontroversial yang Menentang Darwinisme

Harun Yahya, Pemikir Kontroversial yang Menentang Darwinisme

Di balik pemikirannya yang kontroversial, kita perlu mengenal jejak pergumulan intelektualnya, yang setidaknya menjadi rujukan cara berpikir dan prilaku kontroversialnya itu. (Foto: Harun Yahya - ist)

FOKUS, dawainusa.com Beberapa hari terakhir, ulah kontroversial Adnan Oktar alias Harun Yahya menjadi sorotan media internasional. Ia menyodorkan beberapa interpretasi soal ajaran Islam yang memantik emosi publik. Kolumnis Daily Hurriyet, Abdulkadir Selvi, sempat mempublikasikan kutipan kata-katanya ketika dinterogasi Kepolisian Turki.

Penulis populer sekaligus pemimpin sekte asal Turki itu menyebut bikini sebagai penutup Islami. Bahkan ia berani menegaskan bahwa Islam hanya melarang wine atau minuman anggur, namun mengizinkan minuman keras lainnya termasuk vodka dan whiskey.

Pada 11 Juli lalu, Harun bersama sekitar 190 orang pengikutnya ditangkap di kediamannya di Istanbul. Para pengikutnya dijerat lebih dari 30 dakwaan pidana oleh otoritas Turki, mulai dari membentuk geng kriminal, melakukan penipuan, pengemplangan pajak hingga serangan seksual.

Baca juga: Mengenal Mugabe, Sang Marxis Besutan Jesuit yang Dikudeta

Sebetulnya, kontroversi ‘figur flamboyan’ ini bukan baru pertama kali terjadi. Pada tahu 1999 lalu, ia pernah ditahan oleh pihak kepolisian Turki. Harun dituduh melakukan sejumlah intimidasi dan mendirikan kelompok penjahat. Penyelidikan kasus ini pun berhenti.

Di balik pemikirannya yang kontroversial, kita perlu mengenal jejak pergumulan intelektualnya, yang setidaknya menjadi rujukan cara berpikir dan prilaku kontroversialnya itu.

Membongkar Marxisme

Cerita kontroversinya dengan segala interpretasi ajaran Islam yang dinilai ‘ganjil’, sebetulnya tidak pernah terlepas dari pergumulan intelektual pria kelahiran Ankara 1956 itu.

Sejumlah dakwaan yang dialamatkan kepadanya akhir-akhir ini pun mengajak kita untuk sejenak bertanya; Mengapa sosok yang sebelumnya merupakan seorang da’i dan sangat menjunjung tinggi nilai akhlak itu, berubah menjadi sosok yang akrab dengan tindakan-tindakan kriminal, bahkan hingga tuduhan pelecehan seksual?

Persepsi pun muncul bahwa semangat hidup Harun rupanya sangat berbanding terbalik dengan komitmennya terhadap Islam yang tumbuh semakin kuat ketika dirinya mengenyam pendidikan di bangku SMU di Kota Angkara.

Pada tahun 1979, seperti yang tertuang di dalam The Biography of  Harun Yahya, selepas menamatkan pendidikan SMU, Harun pindah ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Mimar Sinan. Di universitas inilah, ia mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Marxis.

Baca juga: Profil Zakir Naik, Penceramah Kontroversial Muslim Jebolan Sekolah Katolik

Sejak sebelum dirinya memulai kuliah di Mimar Sinan, universitas tersebut sangat kental dipengaruhi oleh berbagai oragnisasi ilegal berhaluan Marxisme. Pemikiran-pemikiran bercorak marxis mendominasi kampus. Kekuatan Marxisme di lingkaran kampus telah merambah, bukan saja di lingkaran para mahasiswa, tetapi juga seluruh staf yang bekerja di lembaga tersebut.

Mereka dicecoki doktrin filsafat materialistis yang berpola pikir atheis. Penyebaran ide-ide kiri semacam itu juga diseponsori oleh para profesor di Mimar Sinan. Materialistis dan Darwinisme menjadi gagasan filsafat yang selalu gencar diedarkan dalam setiap perkuliahan. Ajaran Islam yang dihidupi Harun rupanya tak mendapat tempat di sana. Apalagi bicara soal Allah di hadapan kelompok Atheis.

Harun mencoba untuk menyesuaikan iklim akademik yang dihidupi Universitas Mimar Sinan. Ia menghabiskan waktunya di Mimar Sinan dengan membaca ratusan buku. Selain hobi menggeladah buku-buku berideologi kiri, termasuk literatur klasik yang jarang dibaca orang, karya-karya pokok tentang Marxisme, komunisme dan filsafat materialistik menjadi makanan Harun Yahya.

Tak hanya selesai di situ. Setelah ia menekuni karya Marxisme dan sederet ideologi kiri yang lainnya, Harun membuat catatan penting atas buku-buku tersebut. Interpretasi atas konten yang ia baca, menjadi salah satu kekhasan Harun, seperti yang ia lakukan atas teks-teks Islam. Pemahaman  tentang Filsafat Marxisme dan ideologi-ideologi kiri tumbuh di sana.

Selain mendalami Marxisme, Harun juga melakukan riset mendalam tentang teori evolusi Darwin. Baginya, Darwinisme merupakan landasan ilmiah dari ideologi-ideologi seperti Marxisme. Dalam proses riset tersebut, ia mengumpulkan banyak dokumen dan informasi. Di sanalah ia menemukan semacam kontradiksi dan kebohongan yang terdapat dalam filsafat dan ideologi yang didasarkan atas pengingkaran terhadap Allah.

Menentang Darwinisme

Selama berada di Universitas Mimar Sinan, Harun Yahya sangat medalami teori evolusi. Di kalangan para mahasiswa dan para profesor, teori evolusi merupakan senjata yang dipakai untuk melawan fakta penciptaan. Bagi Harun, teori evolusi memiliki intensi untuk meruntuhkan akidah dan akhlaq dari para mahasiswa dengan menggunkan kedok ilmiah.

Ia mempunyai sebuah kegelisahan, jika kebohongan ilmiah yang dibungkus dalam teori evolusi itu dibiarkan, maka akan muncul generasi penerus yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai spiritual, moral dan religius. Perhatiannya yang sangat serius pada teroi evolusi membuahkan hasil. Ia coba membongkar kepalsuan teori evolusi dengan membuat sebuah buku yang berjudul ‘Teori Evolusi’.

Baca juga: Kilas Balik NPA, Pemberontak Sayap Kiri Partai Komunis Filipina

Dalam bukunya tersebut, Harun Yahya membuktikan bahwa teori evolusi merupakan sebuah kebohongan yang tidak logis dan tidak memiliki nilai ilmiah sama sekali. Ia mulai menyebarkan argumentasi bantahannya itu di kalangan mahasiswa dan para profesor. Harun coba membuktikan bahwa tak satupun makhluk hidup yang muncul di dunia ini secara kebetulan kecuali dengan kehendak Allah.

Memang tak mudah untuk merubah cara berpikir para mahasiswa yang sudah terlanjur dicekoki doktrin Marxisme dan ideologi-ideologi atheisme. Mereka secara terang-terangan menyatakan pengingkaraan, meskipun telah mengetahui kebenaran yang diucapkan Harun. Bahkan, nyawa Harun menjadi taruhan, ketika berhadapan dengan kekuatan Marxisme dan Atheisme di kampus.

Di universitas yang didominasi oleh kaum Marxis, dimana sering terjadi perbuatan anarki, setiap hari puluhan orang mati terbunuh. Dalam kondisi yang demikian, Harun secara terbuka mendakwahkan tentang keberadaan dan keesaan Allah serta kemuliaan Al Qur’an. Di sebuah institusi pendidikan dimana orang-orang menyembunyikan keimanan mereka, Harun secara rutin datang ke masjid Molla dan melakukan sholat tanpa mengindahkan semua tanggapan dan ancaman yang ditujukan kepadanya.

Semenjak tahun 1979, Harun Yahya mulai melakukan dakwah. Ia punya satu tujuan yakni membongkar wajah asli teori evolusi. Topik tentang teori evolusi menjadi prioritas dakwahnya saat itu. Pada tahun 1986, semua hasil riset tentang Darwinisme dibukukan. Mengacu pada refernsi ilmiah, buku berjudul ‘Makhluk Hidup dan Evolusi’ itu berusaha membeberkan kebuntuan teori evolusi dan menyodorkan fakta tentang penciptaan.

Selama bertahun-tahun, buku tersebut dijadikan rujukan utama anti-Darwinisme. Dalam tahun-tahun tersebut, para pendukung Adnan Oktar juga memusatkan pekerjaan mereka dalam masalah ini. Mereka mengerahkan segala upaya untuk memberitahukan kepada orang-orang tentang kebohongan teori evolusi.

Berita bahwa teori evolusi ternyata tidak terbukti secara ilmiah bahkan tersebar di berbagai pameran buku, pusat-pusat kebudayaan hingga di kendaraan-kendaraan umum. Ini hanyalah pembukaan dari kampanye yang sedianya akan diadakan pada tahun 1998. Tujuan kampanye tersebut sangatlah jelas: untuk menghapus teori evolusi dan materialisme dari sejarah.*